HaKa News

HAUQOLAH

September 8th, 2016 | by MediaHK
HAUQOLAH
Hot News
0

Oleh H. Jajang Aisyul Muzakki, Lc., M.Pd.I

Ada sebuah cerita nyata yang diceritakan oleh Prof. Mahfud MD pada awal Ramadhan, empat tahun yang lalu pada ceramah malam pertama tarawih. Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yang sanggup menjadikan anak-anaknya sukses. Di atas kertas, sebenarnya mustahil baginya untuk bisa mengantarkan anak-anaknya belajar hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan terlampaui juga.

Mahfud, yang mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. “Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yang sudah Bapak lakukan untuk anak-anak ?” Kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu. Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab: “Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya, Pak.”. “Mosok hanya itu, Pak?” Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yangg disimpan oleh lelaki itu. Karena didesak, dengan wajah malu-malu akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, “Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak,” ujarnya. “Wah, doa apa itu?” Mahfud jadi kian penasaran. “Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama,” aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu. “Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!” Pokoknya Mahfud semakin penasaran. “Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini “lawala wala kuwata” . Nggih, ming mekaten,” ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan.

Mahfud kontan tercenung. Sebagai lulusan pondok, ia tahu bahwa yang dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan hauqalah, yang aslinya berbunyi “laa haula walaa quwwata illaa billaah” (tiada daya upaya kecuali karena Allah). Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yang lain, semampu yang didengarnya saja. Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, ujar Mahfud. “Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya,” kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Duhai teman, nilai sebuah doa tidak terletak pada susunan redaksionalnya. Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya? Sekalipun demikian, kita harus tetap berusaha untuk membaca dzikir dan doa sesuai dengan redaksi yang benar sesuai tuntunan Rasulullah saw. Banyak dzikir yang harus selalu kita dawamkan setiap hari, salah satunya adalah dzikir hauqolah (laa haula walaa quwwata illaa billaah). Keutamaan hauqolah ini telah dirasakan oleh sang pengayuh becak di atas. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda : “Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), ucapkan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Sesungguhnya itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga.” Atau beliau mengatakan: “Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta simpanan di surga? Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Selain dari keutamaan di atas,di antara keutamaan dzikir ” laa haula walaa quwwata illaa billaah “, yang lain adalah: Perbendaharaan / harta simpanan di surga, penghalang dari siksa neraka, salah satu pintu dan tanaman surga, dapat menghapuskan dosa, termasuk al-baqiyatush sholihat, dan merupakan ucapan orang yang berserah diri kepada Allah SWT.

Walaupun dzikir bisa dilakukan pada setiap waktu, namun ada waktu-waktu tertentu yang sangat utama untuk berdzikir: Pagi hari sebelum terbit matahari, usai shalat subuh dan pada sore hari setelah shalat ashar, sebelum matahari terbenam. Setelah matahari tergelincir, usai shalat dzuhur.Setelah menunaikan shalat-shalat wajib. Pada waktu sepertiga malam yang terakhir. Mari kita perbanyak mengucapkan : laa haula walaa quwwata illaa billaah.

*) Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Pengajar MA Husnul Khotimah Kuningan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

travel