HaKa News

Sempat Turun Semangat Menghafal Ketika Ayahnya Wafat, Santri MTs Ini Kini Hafal 30 Juz Al Qur’an

July 25th, 2017 | by MediaHK
Sempat Turun Semangat Menghafal  Ketika Ayahnya Wafat, Santri MTs Ini Kini Hafal 30 Juz Al Qur’an
Berita HK
2

Suasana gembira bercampur haru mewarnai acara Khotmil Qur’an dan tasyakuran santri Hafid Al Qur’an 30 Juz, yang diselenggarakan Ponpes Husnul Khotimah II Pancalang, Selasa 25 Juli 2017. Adalah Arif Budiman, Santri Kelas 9 MTs Husnul Khotimah II yang telah mentasmi’kan setoran terakhir menyelesaikan hafalan 30 Juz Al Qur’an disamping Ibunya.

Hadir pula dalam kegiatan yang digelar di Mesjid Husnul Khotimah II Pancalang tersebut Pimpinan Yayasan Husnul Khotimah Kuningan KH Mu’tamad Lc., M.Pd., Pimpinan Pondok Husnul Khotimah II KH Amam Badruttamam, Lc, serta para pembimbing. bahkan Kepala Desa Sidamulya pun turut hadir bersama keluarga Arif. Mata mereka nampak berkaca-kaca meyaksikan tangis kebahagiaan seorang anak dengan ibunya.

KH Mu’tamad dalam sambutannya mengapresiasi prestasi Arif. menurutnya ketika masuk Kelas 7, tidak banyak hafalan Qur’an yang dimiliki Arif kecuali bebrapa surat saja. Bahkan tidak mencapai   1 Juz.  “Ini adalah hal luar biasa. Baru dalam sejarah Husnul ada santri MTs Hafal Qur’an dalam 2 Tahun, kalaupun ada itu karena sebelumnya sudah menghafal “ Katanya.

“Arif bukan lulusan pesantren atau sekolah Islam terpadu sebelumnya namun dengan kesungguhan maka ia mampu menyelesaikan hafalan dalam 2 Tahun.” Ungkap KH Mu’tamad yang Menurutnya, Husnul Khotimah semakin berkah dengan adanya para penghafal Al Qur’an. Untuk Arif dan para santri KH Mu’tamad berpesan agar selalu menjaga hafalan karena hafalan itu lebih licin dari belut.

Sementara Pimpinan Pondok pesantren Husnul Khotimah II KH Amam Badruttamam menambahkan, dengan prestasi Arif ini menunjukkan bahwa Al Qur’an itu mudah dihafal. Beliau mencontohkan Bagaimana setiap muslim hafal surat Al Fatihah walaupun tidak terlalu sungguh-sungguh dihafal. “Namun karena sering dibaca maka semua bisa hafal dengan lancar.” Ungkapnya.

Kepada Arif dan para santri  KH Amam berpesan agar bisa menjaga, mempelajari, dan mengamalkan isi kandungan Al Qur’an. Usaha menghafal sudah dicontohkan oleh arif “contoh baik ini akan menjadi keutamaan bagi yang pertama kali melakukannya walaupun mungkin yang selanjutnya bisa jadi lebih baik.” Pungkas KH Amam.

Bagaimana Arif tertarik menghafal Al Qur’an?

Arif merupakan Anak bungsu dari 4 bersaudara putra pasangan H. Didi Ahmadi (alm.) dan Ibu Siti Nur Badriyah. Orang tuanya tinggal di Desa Sidamulya Kecamatan Jalaksana Kuningan. Kepada redaksi Arif mengaku bahwa sebelum ke Husnul dirinya tidak begitu berminat untuk menghafal Al Qur’an. Bahkan dirinya ingin menjadi pemain bola profesional.

Daftar Ke Husnul karena tertarik dengan Santri Husnul yang pernah ia jumpai dan ngobrol di desanya. Sementara keinginan kuat untuk menghafal itu tumbuh ketika sudah mondok di Husnul Khotimah. “Ketika Pesantren mengadakan daurah Al Qur’an, dengan daurah itu dirinya jadi tahu keutamaan penghafal Al Qur’an” Katanya.

Kepada redaksi Arif mengaku saat keinginanya tumbuh ternyata keinginan tersebut tidak segera terwujud. Dirinya tidak lulus saat mendaftar program takhasus  Qur’an, karena baru hafal setengah Juz sementara syaratnya harus 2 Juz. Arif pun tak patah semangat, sampai akhirnya ada kesempatan. Ustadz Yayan Bayanullah sebagai pembimbing tahfidz mengizinkan dirinya masuk kelas  takhasus dengan syarat harus mengejar hafalan yang 2 Juz.

Pengakuan Arif dibenarkan Ustadz Yayan Bayanullah, S.Pd.I selaku pembimbing, “saat itu dia tidak memenuhi syarat dari sisi hafalan maupun bacaaan. Namun dia berusaha selama satu bulan belajar sehingga syarat bacaan dan hafalan bisa terpenuhi sehingga lolos masuk takhassus.” Ungkap Yayan.

Ketika sudah asyik dengan dunia menghafal, semangatnya sempat mengendur dan terpikir untuk berhenti, ketika ayahnya meninggal di semester 2,  namun para asatid menguatkan Arif. “ustadz Yayan bilang, rif Ayah kamu menginginkan kamu hafal Qur’an, dia di alam sana menunggu kamu hafal Qur’an”. kata arif. Kata-kata itu kembali menumbuhkan semangatnya untuk melanjutkan hafalan.

Istiqomah menghafal & Bangun Malam

Dalam keseharian, Arif bangun pukul 2 malam, kemudian melaksanakan tahajud dan berdo’a. Setelah itu dilanjutkan dengan menghafal Al-Qur’an hingga menjelang subuh. Selepas subuh menghafal lagi hingga waktu makan dan persiapan ke sekolah. Karena di kelas jam pertama khusus untuk Qur’an, pada  jam tersebut biasa digunakan Arif menghafal atau mengulang hafalan. Kegiatan menghafal dilanjutkan lagi sepulang sekolah, selepas Ashar dan Magrib.

“Baru setelah Isya Arif menyetor hafalan ke Ustadz Yayan sebagai pembimbing”. katanya. Kegiatan itu terus dilakukan sehingga kini ia bisa merasakan berkahnya hafal Al-Qur’an. Kini buah usaha kerasnya telah menghadirkan kebahagiaan bagi orang tua, guru dan keluarga serta almamater Husnul Khotimah II Pancalang.

Siti Nur Badriah yang mendampingi arif merasa bangga dan bersyukur dengan prestasi anaknya. “Saya bersyukur memiliki anak yang shaleh, berbakti kepada orang tua.” Kata Siti. Menurutnya Arif anak yang tekun dan rajin ke mesjid. “anaknya rajin, penurut dan kalau sholat selalu minta ke mesjid. Kalau liburan juga dia senang ke mesjid” ungkap Siti yang mengaku selalu mendukung keinginan baik putranya tersebut.

2 Comments

  1. Rusman Abu Umar says:

    Subhanallah… Semoga dapat memicu semangat menghafal santri2 lainnya termasuk Putra kami disana… Aamiin…

  2. nizmah says:

    Apakah program tahfizh 30 juz memang menjadi program PP HK atau diperuntukkan bagi santri yang berminat dan berpotensi tahfizh saja dan santri lain tidak sampai atu juz ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*