HaKa News

Alfina Rahmatia : “Keajaiban adalah kata lain dari kerja keras….”

April 27th, 2016 | by MediaHK
Alfina Rahmatia : “Keajaiban adalah kata lain dari kerja keras….”
Alumni Santri HK
0

Oleh: Didin Mulyanto

Tidak banyak remaja yang bisa menentukan pilihan sejak dini. Apalagi, pilihan tersebut ternyata menghadirkan berbagai pengalaman, menambah cakrawala berfikir serta bisa membuatnya melanglang buana ke berbagai negara. Alfina Rahmatia termasuk di antara yang sedikit itu. Fina, demikian panggilan alumni HaKa (Husnul Khotimah, red.) 2013 ini, merasa bersyukur. Dulu, di tengah-tengah kegalauan teman-temannya waktu kelas XII MA untuk menentukan kuliah, dia sudah fokus dengan satu pilihan. “Saya sudah mulai tertarik dengan ekonomi islam. Awalnya cari info tentang jurusan ekonomi islam yang ada di Indonesia. Salah satunya ada di UMY dengan akreditasi A dan menyediakan kelas internasional. Sama Bapak disuruh coba daftar melalui jalur prestasi, dan pada bulan Februari 2013 saya dinyatakan diterima.” Ujar pendiri ASEAN Muslim Students Summit (AMSS) ini.

Seperti santri lainnya, Fina sempat bingung juga karena dengan prestasi akademik yang diraihnya, peluang untuk masuk PTN lewat jalur SMPTN sangat besar. “Tapi saya diskusi dengan Bapak. Kata Bapak, kalau fokus kamu sudah di ekonomi islam ya fokus aja, ambil yang di UMY, setelah UN perdalam bahasa inggris. Lalu saya tanya lagi, bagaimana dengan universitas negeri Pak? Dicoba dulu gak ya? Waktu itu Bapak jawab, kalau diterima bukan di jurusan ekonomi islam bakal kamu ambil gak? Kalau ternyata diterima tapi malah gak diambil, itu namanya mendzolimi teman yang lain yang seharusnya lolos, yang mungkin sangat ingin lolos. Sejak saat itu saya berfikir bahwa dalam mengambil keputusan harus fokus, satu tujuan dan gak boleh plin plan, kejar tujuan itu serta buktikan kalau kita bisa”.

Selain sibuk dengan kuliahnya, Fina aktif di berbagai organisasi, sebagai anggota Delegasi Indonesia pada acara “6th University Scholars Leadership Symposium”, di Hong Kong 2015 ini, organisasi merupakan dunia keduanya setelah kuliah. “ Kerjaannya selesai kuliah, rapat. Atau istilah yang sering dilontarkan adalah KURA-KURA (kuliah rapat kuliah rapat). Organisasi itu membuka tabir pertemanan dan relasi. Selain pengalaman yang bertambah, daya berfikir untuk lebih kritis dan bijak dalam menyelesaikan masalah pun diajarkan di dalamnya secara tidak langsung. Termasuk jaringan pertemanan dan relasi yang bisa menyebar luas sekali. Di organisasi itu pula saatnya kita mengimplementasikan apa yang sudah kita dapat di bangku kuliah dan saatnya membaur dengan masyarakat untuk menebar kebaikan dan manfaat.

Lalu, bagaimana ceritanya Fina bisa termasuk dalam jajaran pendiri ASEAN Muslim Students Summit? Berawal dari obrolan singkat bersama Presiden mahasiswa UMY dan Mentri luar negeri BEM UMY, akhirnya tercetuslah ide tersebut. Karena dirasa sangat perlu sekali mahasiswa muslim mempunyai wadah untuk saling bersinergi dan berkolaborasi sesama ASEAN. Kebetulan saat itu saya sedang diamanahi menjadi Kepala Dirjen Internasional di Kementrian Luar Negeri UMY. ASEAN Muslim Students Summit (AMSS) menjadi salah satu program kerja saya dan teman-teman. Bulan Mei tahun 2015 AMSS pertama terlaksana dengan sukses dan meriah, dihadiri mahasiswa muslim dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei. Serta dibuka secara langsung oleh Wakil Mentri Luar Negeri Indonesia, Pak AM Fahir. Tentunya banyak rintangan di dalamnya bahkan sampai sekarang, hehe. Tapi saya selalu yakin bahwa jika diniatkan untuk kebaikan, Insya Allah selalu ada saja jalannya. Surah Muhammad ayat 7 yang paling sering membuat saya bangkit.”

Sibuk dan terlalu asyik dengan organisasi sering membuat para mahasiswa melupakan prestasi kuliahnya, tapi tidak dengan peraih Juara tiga Lomba Debat Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi UMY ini. Bahkan di puncak kesibukannya masih bisa meraih prestasi sebagai Paper Presenter dalam “13th International Annual Symposium Management”, Vietnam (2016).

“Bisa lolos paper untuk ke Vietnam itu sudah membuat saya terkejut. Saya jadi percaya bahwa keajaiban adalah kata lain dari kerja keras. Dari 161 peserta paper, hanya 8 orang mahasiwa S1 yang ikut di dalamnya, termasuk saya dan team, yang lainnya adalah mahasiswa magister, doktor, bahkan profesor. Satu tim saya terdiri dari tiga orang, saya menjadi ketua tim dan bertindak sebagai first presenter. Awalnya saya minder dengan peserta yang rata-rata sudah memiliki kompetensi jauh dari saya, but show must go on, kalau cuma ketakutan yang mondar-mandir di otak dan pikiran, saya gak akan maju-maju, harus berani. Dengan reviewer dari School of Business Eastern Illinois University, University of Surabaya, Manchester Business School, research analysis the world bank, Vietnam National University dan City of Hong Kong University, bismillah saya lakukan presentasi saya. Alhamdulillah kami mendapat sambutan luar biasa, dan Prof. Liliana Inggit Wijaya mengatakan bahwa presentasi kami bagus meskipun masih mahasiswa. Rasanya terharu dan ada rasa bahagia tersendiri mendengarnya. Pengalaman menjadi paper presenter di Vietnam ini luar biasa sekali, semoga menjadi batu loncatan untuk ke tingkat yang lebih lagi selanjutnya, mampu memberikan banyak manfaat untuk orang lain dan makin banyak pula yang seperti saya bahkan lebih lagi. Fastabiqul khoirot”.

Memiliki banyak prestasi dan segudang pengalaman organisasi tentu tidak lepas dari proses pembelajaran yang didapatkan Fina selama ini. Tapi, bagi anak pertama dari dua bersaudara ini, pengalaman bisa menjadi bagian dari keluarga besar Husnul Khotimah-lah yang paling berkesan baginya.

“Bisa jadi alumni Husnul Khotimah itu salah satu kebanggaan buat saya. Cuma di Haka saya punya guru-guru yang luar biasa dan selalu menginspirasi, guru-guru yang kata-kata dan ajarannya selalu terngiang dan mengingatkan saya, bahkan berfikir saya bisa seperti sekarang ini karena didikan dari guru-guru saya selama menjadi santri. Terima kasih banyak saya haturkan. Serta cuma di Haka saya memiliki teman yang ikatannya sudah seperti keluarga sendiri, yang ikatannya kuat banget dan selalu mengingatkan pada kebaikan, teman surga saya bilang. Selama 6 tahun di haka, jelas ada manis pahitnya yang gak akan pernah terlupakan. Ngantri mandi, sholat telat digebuk sejadah, makan satu nampan barengan, dan lain-lain. Kadang kesel bahkan benci banget sama aturan yang ada. Tapi seiring waktu, saya sadar bahwa semuanya memang untuk kebaikan dan pendewasaan, terlebih dalam membentuk jati diri. Santri ya santri, semua sama, siang sore pagi malam ketemunya itu itu lagi, masih homogen banget. Bagi saya, menjadi santri adalah satu kelebihan yang kita miliki dan harus bangga akan itu. Jadi santri, amanahnya besar, harus dijaga keistiqomahannya dan saling ingat mengingatkan dalam kebaikan, terlebih ketika sudah menjadi alumni dan memasuki dunia heterogen”. Pungkas Fina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

travel