HaKa News

GHIBAH

August 23rd, 2016 | by MediaHK
GHIBAH
Hot News
0

Oleh KH. Jajang Aisyul Muzakki, Lc., M.Pd.I *

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tahukah kamu apakah ghibah itu? Jawab sahabat: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi bersabda: Yaitu menyebut saudaramu dengan apa-apa yang ia tidak suka disebutnya. Lalu Nabi ditanya; Bagaimanakah pendapatmu kalau itu memang sebenarnya ada padanya? Jawab Nabi: Kalau memang sebenarnya begitu, itulah yang bernama ghibah. Tetapi jikalau menyebut apa-apa yang tidak sebenarnya, berarti kau telah menuduhnya dengan kebohongan (yang lebih besar dosanya)”. (Muslim).

Ghibah Berasal dari kata ghoib artinya tidak terlihat. Ghibah berarti menggunjing atau membicarakan aib orang yang menimbulkan rasa tidak suka jika orang tersebut mengetahuinya. Ghibah adalah menggunjing, mengumpat dan membicarakan kejelekan orang lain. Secara tegas Rasulullah saw menyatakan bahwa ghibah adalah menyebut saudaramu dengan apa-apa yang ia tidak suka disebutnya (dzikruka akhooka bimaa yakrohu). Ghibah merupakan sifat yang sangat tercela, sehingga Allah swt menyamakan orang yang melakukan ghibah dengan orang yang makan bangkai saudaranya sendiri. Sungguh sangat menjijikkan. Allah swt melarang keras obrolan ghibah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “…dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat 49 : 12).

Betapa menjijikkannya perumpamaan bagi orang yang melakukan ghibah. Ia ibarat memakan daging dari bangkai/jenazah orang yang menjadi obyek ghibah. Hal ini karena orang yang menjadi obyek ghibah tidak tahu-menahu kalau dirinya sedang dighibahi. Memakan bangkai binatang saja sudah menjijikkan, apalagi memakan bangkai manusia yang merupakan teman atau tetangga kita sendiri.

Biasanya ghibah terjadi di tempat-tempat perkumpulan. Baik di tempat perkumpulan nyata maupun di perkumpulan dunia maya seperti grup BBM, WhatsApp dan jejaring sosial lainnya. Baik sadar ataupun tidak terkadang seseorang dengan temannya membicarakan aib dan kejelekan orang lain.

Pelaku ghibah akan mendapatkan siksa dari Allah swt, sebagaimana dikisahkan oleh Rasulullah SAW di malam mi’rajnya, beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa merekalah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain. Sangat mengerikan.

Lisan adalah anugerah. Nikmat lisan merupakan nikmat yang sangat luar biasa. Apabila anugerah ini tidak dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya maka akan menjadi bumerang bagi pemiliknya. Jadi marilah kita jaga lisan kita sebaik-baiknya. Pergunakan untuk kebaikan nasehat dan dakwah dan hindarkanlah dari keburukan ghibah dan juga fitnah.

Secara umum, ghibah sangat dilarang. Tetapi ada bebrapa pengecualian ghibah yang dibolehkan. Ghibah yang dibolehkan hanya bertujuan baik dan terpaksa mengutarakannya seperti :1. Untuk mengadukan orang yang menganiayanya kepada hakim. 2. Minta tolong kepada orang yang sanggup memberikan nasehat agar menasehati orang yang berbuat munkar. Misalnya seseorang berkata: “si fulan telah berbuat munkar, tolong nasehati dia !. 3. Karena minta fatwa. Misalnya ada seseorang berkata: “Si fulan menganiaya saya, maka bagaimana cara menghindarinya? 4. Bertujuan menasehati jangan sampai orang lain tertipu oleh orang jahat itu. 5. Terhadap orang-orang yang terang-terangan melakukan kejahatan, maka bagi yang demikian itu tidak lagi berlaku larangan ghibah, karena dia sendiri sudah terang-terangan. 6. Untuk memudahkan orang lain mengenal orang yang terkenal dengan menyebutkan gelarnya seperti al-A’masy, al-A’roj, al-A’ma, al-Ashom, al-Ahwal, semuanya gelar beberapa ulama ahli hadits. Tetapi jika tujuannya untuk mengejek dan menghinakannya, maka tetap tidak boleh. Wallaahu a’lam.

*) Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon & Pengajar MA Husnul Khotimah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *