HaKa News

METODE KETELADANAN DALAM PENGAJARAN

September 8th, 2016 | by MediaHK
METODE KETELADANAN DALAM PENGAJARAN
Hot News
0

Oleh H. Imam Nur Suharno, M.Pd.I

Dikatakan bahwa at-thariiqatu ahammu min al-maaddah, metode lebih penting daripada materi ajar. Sekaitan dengan hal itu seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam pemilihan metode pengajaran. Dan, keteladanan menjadi salah satu metode dalam pengajaran yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pemberian keteladanan dalam proses pembelajaran dapat memberikan gambaran pasti, kejelasan, penerangan, pemahaman, dan mudah untuk diingat oleh peserta didik. Keteladanan adalah sarana paling efektif untuk menuju keberhasilan pendidikan.

Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi teladan bagi manusia (QS al-Ahzab [33] : 21). Allah pun kemudian menampilkan kepribadian Rasulullah SAW sebagai gambaran utuh sistem Islam, sebuah gambaran yang hidup dan abadi sepanjang sejarah.

Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, ”Barang siapa mengatakan kepada anaknya, ’Kemarilah, aku beri sesuatu, tapi kemudian tidak memberinya maka itu merupakan dusta.”

Keteladanan adalah sesuatu yang sangat prinsipil dalam pendidikan. Tanpanya proses pendidikan ibarat jasad tanpa ruh. Menurut para ahli psikologi, naluri mencontoh merupakan satu naluri yang kuat dan berakar dalam diri manusia. Naluri ini akan semakin menguat lewat melihat.

Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli psikologi yang mengatakan bahwa 75% proses belajar didapatkan melalui penglihatan dan pengamatan, sedangkan yang melalui pendengaran hanya 13%. Dengan demikian, pendidikan itu by doing, bukan by lips: pendidikan adalah dengan contoh bukan dengan verbal.

Saking besarnya pengaruh terhadap perkembangan kepribadian peserta didik, metode keteladanan ini memiliki banyak kelebihan, di antaranya: memberikan kemudahan kepada guru dalam proses belajar mengajar, dapat menciptakan hubungan harmonis antara guru dengan siswa, tujuan guru yang ingin dicapai menjadi lebih terarah, secara tidak langsung guru dituntut untuk mengimplementasikan ilmu yang diajarkan, mendorong guru untuk senantiasa berbuat baik karena menyadari dirinya akan dicontoh oleh siswanya.

Dengan memberikan keteladan (contoh) yang baik terhadap peserta didik maka guru akan mendapat balasan yang mulia, sebagaimana sabda Rasul SAW, “Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya.” (HR Muslim).

Semoga kita menjadi guru yang dapat memberi keteladan yang baik kepada peserta didik secara khusus dan masyakat secara umum. Amin.

*) Kepala Divisi HRD & Personalia Yayasan Husnul Khotimah Kuningan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *