HaKa News

Tabayyun Untuk Keselamatan

January 30th, 2017 | by MediaHK
Tabayyun Untuk Keselamatan
Berita HK
1

Wawancara dengan KH. Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag.

Saat ini, katakanlah begitu banyak media massa atau orang-orang yang memberikan informasi yang terkadang kita tidak tahu apakah isinya berimbang atau memihak golongan tertentu. Bagaimana cara kita memilih dan memilah berita?

Memang termasuk saya sering sekali mendapat kiriman yang isinya bagus tapi apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Kita khawatir kalau isinya tidak bisa dipertanggungjawabkan artinya menyebarkan yang tidak jelas. Buat kita sebagai orang yang memang punya keimanan, kita tahu ada iman, ada yakin, dan ada percaya. Kita diingatkan oleh Allah untuk mengimani hal yang sudah pasti. Kalau sekedar percaya saja, siapa tahu apa yang kita percayai itu tidak tepat. Makanya kalau kita kembali kepada perjalanan masa lalu, para shahabat, ketika Abu Bakar kedatangan berita, ia mengatakan “kalau itu perkataan Rasul, pasti benar!”. Kita kadang-kadang tidak seperti itu. Langsung cepat terpengaruh. Memang dengan adanya media yang semakin canggih, banyak orang yang habis waktunya untuk saling share berita, yang kadang-kadang belum tentu benar. Jadi kalau buat kita apabila berita tersebut memang dapat mendukung pengamalan Al-Quran dan Sunnah, kita sebarluaskan. Walaupun umpamanya sumbernya tidak jelas. Sebab yang paling penting adalah itu sebagai nasihat yang mengandung makna dari Al-Quran dan Sunnah. Walaupun umpamanya sumbernya jelas tapi kalau merugikan Al-Quran dan Sunnah maka kita tolak saja. Kita sudah punya patokan.

Sebagai Muslim kita diperintahkan untuk selalu berhati-hati dalam banyak perkara, termasuk dalam hal menyikapi suatu berita. Apa maksudnya?

Kalau kembali pada ayat Al-Quran injaakum fasiqun binabaiin fatabayanu, ada bacaan fatabayyanu dan ada bacaan fatatsabbatu. fatatsabbatu itu adalah qiraat Hamzah dan Al Kisai, yang seringnya fatabayyanu. Dua bacaan ini sama-sama dari Rasul, dari Jibril, dari Allah. Tulisannya sama. Saya perhatikan, makna fatabayyanu itu menyuruh sabar berkaitan dengan akal pikiran. Fatatsabbatu itu bersabar berkaitan dengan action. Jadi fatabayyanu itu artinya perjelas dulu, klarifikasi dulu, penyidikan, penelitian langsung. Itu Tabayyun. Dan jangan dulu bergerak, jangan dulu bereaksi itu Fatatsabbatu. Jadi sangat luar biasa ayat ini. Menyeru kita untuk bersabar berkaitan dengan pemikiran, perasaan, dan fisik. Anehnya saat ini dengan adanya Handphone langsung pemikiran dikebelakangkan, fisik langsung sharing. Sehingga akhirnya banyak sekali fitnah dan semakin meningkat fitnah ini.

Semakin kesini berarti memang semakin hebat orang untuk membuat berita yang hoax dan dikerjain, dibagikan ke banyak orang. Kadang-kadang suka kasihan. Sampai orang itu, kita jalan kaki 100 meter berpapasan dengan orang-orang rata-rata memegang handphone. Kita harus tanya dulu, manfaatnya apa? Apakah menfaat itu mengandung madharat atau tidak. Jadi boleh saja di-share, kalau sudah dipastikan manfaatnya banyak tanpa madharat. Tapi kalau masih dipertanyakan lebih baik jangan sebab kita diminta tanggungjawab nanti di akhirat. Jadi mungkin kalau AL-Quran menyebutkan dan surat Al-Qiyamah Balaa Qaadiriina ‘alaaa ‘an- nusawwiya banaanah Subhanallah. Mungkin dulu belum tergambar banaanah itu apa, sekarang paling tidak ada dua makna. Makna banaanah punya sidik jari yang tidak bisa ditiru. Berarti sekian puluh milyar manusia sidik jarinya tidak ada yang sama, dan nanti di akhirat Allah akan mengembalikan sidik jari kita walaupun sudah terkelupas dan sudah bersatu dengan tanah. Nah, sidik jari ini sudah dipakai nge-share apa saja nih? Tanggung jawabnya berat nanti.

Apa urgensi Tabayyun bagi kita?

Sangat jelas sekali urgensi tabayyun itu untuk keselamatan pribadi, keselamatan keluarga, dan ummat. Itu sasaran utamanya. Sebab akibat tidak tabayyun, kita banyak terperosok ke dalam fitnah. Karena terlalu cepat menanggapi. Jadi luar biasa sebetulnya Al-Quran itu, kalimat panggilannya “yaa ayyuhalladziina aamanu’, bukan “yaa ayyuhalladziina aliimu”. Berarti tabayyun itu berlandaskan keimanan. Motivasinya iman. Hanya Allah Yang Mahatahu, artinya kita jangan terlalu cepat menerima. Dan untuk keselamatan ummat. Karena kalimatnya adalah “fatusbinu ‘ala manfaaltu…”. Faaltu, bukan faala, bukan faata. Berarti memang ayat ini membimbing, mengingatkan “wahai orang-orang yang beriman, nanti akan banyak sekali menemukan berita-berita bohong. Hati-hati. Artinya Tabayyun harus ada kebersamaan.

Sampai batas mana Tabayyun harus dilakukan?

Wallahu a’lam. Setiap orang bisa ditolak pernyataannya, kecuali Rasulullah SAW. Untuk yang dihubungkan kepada Rasul saja kita perlu tabayyun. Shohih atau dhoif. Yang tidak perlu ditabayyun hanya Al-Quran saja. Karena Al-Quran terpelihara segala-galanya. Jangan sampai keprcayaan merusak keimanan.

Apa yang terjadi jika kita mengabaikan Tabayyun dalam mengelola kabar berita?

Dampaknya sudah terasa sekarang akibat mengabaikan tabayyun. Banyak orang bermusuhan, muncul kecurigaan-kecurigaan antar sesama ikhwah, antar sesama aktivis dakwah, antar sesama orang yang rajib baca Al-Quran. Karena ada berita-berita yang kurang di-tabayyun jadi masalah cukup berat. Saya pernah beberapa kali mendapat berita berisi adu domba, tapi pas didatangi ternyata berita itu tidak benar. Makanya saat ini semakin dituntut kita untuk bertabayyun. Hati-hati dengan berita terutama yang menyangkut pribadi kita. Berita baik ataupun berita buruk tabayyun sangat penting.

Bagaimana cara yang baik untuk ber-Tabayyun kepada seseorang untuk mendapatkan kebenaran suatu kabar/berita?

Sebetulnya sangat penting untuk mengacu kepada robbi adkhilni mudkhola sidqin jadi ketika kita ngobrol dengan siapapun, mohon dulu kepada Allah bimbingan agar kita berkata yang tepat, baik, dan juga kondisinya serta waktunya yang tepat. Kenapa Allah menggunakan kata mudkhola bukan madkhola? Mudkhola itu maknanya lebih luas. Jadi mudkhola itu bisa masdar, bisa isim maf’ul, bisa juga isim zaman, isim makan. Jadi mungkin maknanya perkataan yang tepat disampaikan dengan cara yang tepat, mohon kepada Allah bimbingan supaya mimik kita juga tepat, waktunya juga harus tepat, dan susunan kalimatnya harus tepat. Bahkan tampilan kita juga harus tepat. Tentunya ketika kita ingin tabayyun dan klarifikasi, mohon dulu kepada Allah bimbingan agar kita tidak menyinggung perasaan.

Kalau kita yang ditabayyun, tentunya juga berlandaskan iman supaya tidak mudah kaget dan tersinggung. Karena yakin, Allah melihat, Allah mendengar, adapun orang percaya atau tidak percaya, itu tidak masalah.

One Comment

  1. sri says:

    Tulisannya terlalu melebar melewati layar klo dilihat dr hp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

travel