Kenapa ‘Nanti’ Menjadi Kata yang Paling Sering Kita Gunakan?

Kenapa ‘Nanti’ Menjadi Kata yang Paling Sering Kita Gunakan?

Oleh: Indi Aulia Fajri

(Mahasiswi Semester 5 Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan)

Teman-teman, kalian sadar nggak kalau ternyata ada satu kata yang mungkin hampir setiap hari kita ucapkan? Jawabannya adalah kata ‘nanti’.

Kata ‘nanti’ memang terdengar sederhana. Kita sering mengucapkannya tanpa berpikir panjang. “Nanti aja,” “Nanti dikerjain,” “Nanti kalau sudah selesai,” atau “Nanti kalau ada waktu”. Namun, tanpa kita sadari, lewat kata sederhana itu kita terkadang justru kehilangan banyak hal. Lucunya, kata ‘nanti’ tidak pernah benar-benar memiliki waktu yang spesifik. Nanti bisa berarti lima menit lagi, satu jam lagi, besok, minggu depan, atau bahkan … ya, nggak tahu kapan. Kata ‘nanti’ seolah memberikan kita rasa aman bahwa masih ada waktu, padahal kita sendiri tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang sebenarnya kita punya.

Menurut saya, mengatakan ‘nanti’ sebenarnya tidak selalu berarti kita malas. Ada kalanya kita mengatakan ‘nanti’ karena memang sedang memiliki urusan lain, sedang lelah, atau memang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dan itu tidak salah. Kita tidak harus selalu produktif setiap saat. Dalam kehidupan, ada waktunya kita bekerja, ada waktunya kita berhenti sejenak dan beristirahat.

Namun, masalah muncul ketika ‘nanti’ mulai menjadi sebuah kebiasaan. Semakin sering kita mengatakan ‘nanti’, semakin mudah pula kita menunda sesuatu yang sebenarnya bisa kita kerjakan sekarang. Kita seakan-akan merasa masih memiliki banyak waktu, padahal waktu terus berjalan tanpa menunggu kita siap.

Saya sendiri pernah mengalami hal tersebut dan jujur, menurut saya, ini merupakan salah satu kebiasaan buruk yang pernah saya lakukan. Contoh kecilnya adalah tugas kuliah. Ketika mendapatkan tugas, mungkin hari ini saya akan berpikir, “Nanti aja, waktunya masih lama. Santai dulu, nggak sih?” Kemudian hari berganti. Tugas lain mulai datang, sementara tugas yang sebelumnya belum juga dikerjakan. Sampai akhirnya deadline semakin dekat, tugas mulai menumpuk, dan kita sendiri yang merasa kewalahan. Di saat seperti itu, barulah muncul penyesalan, “Kenapa nggak dari kemarin aja dikerjainnya?”

Dari pengalaman tersebut, saya mulai menyadari bahwa masalahnya bukan pada kata ‘nanti’, tetapi pada bagaimana kita menggunakan kata tersebut. Tidak masalah jika kita mengatakan ‘nanti’, selama kita benar-benar tahu kapan ‘nanti’ itu akan terjadi. Jangan sampai ‘nanti’ hanya menjadi alasan untuk terus menunda sesuatu yang sebenarnya bisa kita mulai sekarang. Jadi, kalau memang sesuatu bisa dimulai sekarang, kenapa harus menunggu ‘nanti’?

 

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp