Ribuan Santri Terharu Mendengar Kisah Thaif

Ribuan Santri Terharu Mendengar Kisah Thaif

KUNINGAN — Suasana khidmat menyelimuti ribuan santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan saat menyimak kisah perjalanan Rasulullah SAW ke Thaif yang disampaikan Al Barra, M.Pd. (Alumni HK 16) dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di GSG Aridha Nursyahbani (25/8)

Kak Barra mengawali tausiyahnya dengan cara yang ringan. Ia mengajak para santri berbicara tentang harta, tahta, dan cinta. Tawa dan respons para santri beberapa kali terdengar ketika ia menyampaikan doa-doa tentang masa depan, jodoh, dan kehidupan.

Namun, suasana perlahan berubah ketika Kak Barra mengajukan satu pertanyaan sederhana.

“Harta, tahta, dan cinta. Apakah itu yang paling kita butuhkan di dunia?”

Jawaban para santri kemudian mengarah pada satu hal: keimanan.

Dari sana, Kak Barra membawa para santri pada pesan yang lebih dalam. Bahwa sebesar apa pun harta yang dimiliki, setinggi apa pun jabatan yang diraih, dan seindah apa pun cinta yang diperoleh, semuanya tidak berarti jika harus mengorbankan iman.

“Jangan gadaikan iman,” pesannya.

Kak Barra kemudian mengajak para santri menelusuri salah satu episode paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW : peristiwa Thaif.

Jauh sebelum menjadi pemimpin umat yang disegani, Rasulullah SAW pernah berjalan dari Makkah menuju Thaif untuk mencari ruang baru bagi dakwah. Perjalanan panjang ditempuh bersama Zaid bin Haritsah. Harapan besar dibawa, tetapi yang diterima justru penolakan.

Rasulullah SAW dihina dan ditolak. Dakwahnya tidak diterima.

Namun Rasulullah SAW tidak segera menyerah.

Selama beberapa hari, beliau tetap menyampaikan dakwah. Hingga penolakan berubah menjadi kekerasan. Penduduk Thaif menghasut orang-orang untuk melempari Rasulullah SAW dengan batu.

Kak Barra menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW berjalan meninggalkan Thaif dalam keadaan terluka. Darah mengalir dari tubuh beliau. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah SAW dengan tubuhnya hingga turut mengalami luka.

Di titik inilah suasana cerita menjadi semakin dalam.

Rasulullah SAW kemudian beristirahat di suatu tempat dengan tubuh yang terluka dan hati yang penuh kesedihan. Dalam keadaan seperti itu, datang Jibril bersama malaikat penjaga gunung. Rasulullah SAW diberi pilihan untuk membalas perlakuan penduduk Thaif.

Jika Rasulullah SAW menghendaki, gunung-gunung dapat ditimpakan kepada mereka.

Tetapi Rasulullah SAW memilih tidak membalas.

Bukan karena beliau tidak mampu.

Justru karena beliau mampu.

Bukan karena tidak memiliki kesempatan.

Justru kesempatan itu datang langsung melalui malaikat.

Tetapi Rasulullah SAW memilih melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada luka yang baru saja diterimanya.

Beliau berharap, dari keturunan penduduk Thaif kelak akan lahir orang-orang yang menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.

Di hadapan ribuan santri, Kak Barra kemudian mengajak mereka berhenti sejenak untuk memahami kemuliaan akhlak Rasulullah SAW.

Dalam keadaan terluka, beliau tidak memikirkan bagaimana membalas sakit yang diterimanya. Rasulullah SAW justru memikirkan masa depan manusia yang bahkan saat itu menyakitinya.

“Dalam keadaan baik-baik saja kita bisa berbuat baik itu biasa. Tapi dalam amarah yang luar biasa, kita mampu membalas, bahkan lebih kejam lagi, tapi kita tidak memilihnya. Karena kita melihat masa depan,” tutur Kak Barra.

Dan dari kisah Thaif, para santri kembali diingatkan: mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengenang beliau, tetapi dengan belajar meneladani akhlaknya—tetap teguh ketika diuji, tetap baik ketika disakiti, dan tetap memiliki harapan ketika keadaan terasa begitu berat.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp