Semarak Maulid Nabi 1448 H di Husnul Khotimah: Pesan Cinta Rasulullah dan Inspirasi “Strong Why” bagi Santri

Semarak Maulid Nabi 1448 H di Husnul Khotimah: Pesan Cinta Rasulullah dan Inspirasi “Strong Why” bagi Santri

KUNINGAN (25/8) – Ribuan santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah memadati Gedung Serba Guna (GSG) Aridha Nursyahbani pada Selasa (25/8) pagi. Gemuruh selawat dari tim Hadroh dan Marawis membuka gelaran Tabligh Akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Acara ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum dzikro (pengingat) dan refleksi mendalam bagi para calon pemimpin masa depan.

Ketua Umum Yayasan Husnul Khotimah, KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd. Alhafidz, mengawali acara dengan sambutan hangat. Beliau menegaskan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar lisan. Dalam tausiyah pembukanya, beliau menitikberatkan pada dua wasiat terakhir Rasulullah yang harus dijaga erat oleh para santri:

  • Menegakkan Shalat: Mengingat wasiat Nabi di akhir hayatnya (“Ummati, ummati, as-shalah”), santri diminta untuk tidak menunda waktu. Iqamah adalah komando utama untuk segera merapatkan barisan menghadap Allah.
  • Membumikan Al-Qur’an : Menghindari teguran dalam Surah Al-Furqan ayat 30 tentang umat yang mengabaikan Al-Qur’an, beliau menargetkan lahirnya 150 hafidz/hafidzah dari kelas 12 yang mampu menyelesaikan tasmi’ 30 juz tahun ini.

Suasana semakin interaktif saat pemateri utama, Albarra, M.Pd., atau yang akrab disapa Kak Barra, naik ke atas panggung. Sebagai alumni Husnul Khotimah angkatan 16, Kak Barra membagikan visi tentang pemuda ideal melalui tiga pilar: kokoh akidahnya, mulia akhlaknya, dan besar cita-citanya.

Melalui kisah ketegasan Nabi menolak tawaran harta dari negosiator Quraisy, Utbah bin Rabi’ah, dan kelembutan beliau saat dilempari batu di Tha’if, Kak Barra merangkum esensi akhlak pemuda muslim.

“Dalam keadaan baik-baik saja kita bisa berbuat baik, itu biasa,” tegas Kak Barra memecah keheningan. “Namun, ketika kita memiliki kesempatan membalas saat dikecewakan, tapi kita memilih menahan amarah demi melihat masa depan… Itulah epiknya Nabi, mulia akhlaknya.”

Lebih lanjut, Al Barra juga mengangkat kisah pilu sekaligus mengharukan tentang kesabaran Rasulullah SAW saat dilempari batu di Tha’if. Dari kisah tersebut, ia berpesan agar para santri mampu menahan amarah dan memaafkan orang yang menyakiti mereka demi kebaikan di masa depan.

Di penghujung materinya, Kak Barra menyentuh sisi emosional para santri mengenai visi hidup. Menurutnya, pemuda tanpa cita-cita ibarat bermain bola tanpa gawang—lelah berlari namun tidak tahu arah tujuan. Agar tetap tangguh di pesantren, santri membutuhkan strong why.

“Ketika kamu ingin menyerah atau bermaksiat, ingat wajah orang tua kita, ayah terutama ibu yang mencintai kita. Serap energi positifnya dan jadikan itu motivasi untuk terus berjuang,” pesannya.

Rangkaian acara yang diselingi penampilan munsyidin dan kuis berhadiah ini ditutup dengan doa pada pukul 08.50 WIB. Semangat Maulid Nabi ini diharapkan terus menyala di dada santri Husnul Khotimah, mencetak generasi yang tak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memegang teguh akidah dan akhlak mulia.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp