
Pontren Husnul Khotimah Bedah Program Unggulan untuk Masa Depan Anak
KUNINGAN– Kelanjutan pendidikan dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) ke Madrasah Aliyah (MA) menjadi salah satu pertimbangan penting bagi orang tua dan santri kelas 9. Untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai pilihan tersebut, Pondok Pesantren Husnul Khotimah menyampaikan berbagai program pendidikan dan pendampingan studi lanjut dalam Pertemuan Walisantri Kelas 9 MTs Husnul Khotimah 1 (HK1), Sabtu (10/10).
Mudir Ma’had Husnul Khotimah, Kiai Mulyadin, Lc., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan santri di Husnul Khotimah dirancang dalam program enam tahun, mulai dari jenjang MTs hingga MA. Kesinambungan ini diharapkan dapat memperkuat proses pembinaan santri, terutama dalam aspek keimanan, ilmu, adab, dan kemandirian.
Menurutnya, kehadiran orang tua dalam mendukung pendidikan anak di pesantren merupakan wujud cinta, doa, dan harapan agar putra-putri mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan keluarga, tetapi memerlukan kerja sama dengan lembaga pendidikan yang mampu mendampingi perkembangan anak secara terarah.
“Harapan kami, melalui program enam tahun ini, penanaman nilai spiritual, keimanan, ilmu, adab, dan kemandirian dapat dituntaskan dengan lebih baik,” ungkapnya.
Kiai Mulyadin juga menjelaskan bahwa pesantren tidak memaksakan santri untuk melanjutkan pendidikan di MA Husnul Khotimah. Keputusan tetap menjadi pilihan santri dan orang tua setelah mempertimbangkan berbagai aspek secara matang. Namun, pesantren berharap para santri dapat melanjutkan proses pendidikan di lingkungan yang sudah mereka kenal.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kesinambungan pendidikan tersebut, santri kelas 9 MTs Husnul Khotimah yang melanjutkan ke MA Husnul Khotimah diperlakukan sebagai santri yang naik jenjang, bukan santri baru. Karena itu, mereka tidak dikenai biaya pendaftaran baru maupun biaya pengembangan infrastruktur sebagaimana ketentuan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Melengkapi penjelasan Mudir Ma’had, Kepala MA Husnul Khotimah, Ust. Danni Abdurahman, M.Pd., memaparkan berbagai program yang disiapkan untuk mendukung masa depan santri.
Ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah pertimbangan yang membuat sebagian santri ragu melanjutkan pendidikan di MA Husnul Khotimah. Di antaranya peluang masuk perguruan tinggi, pengembangan kemampuan akademik dan nonakademik, target hafalan 5 juz Al-Qur’an dan 42 hadis, serta keinginan merasakan lingkungan sekolah yang baru.
Untuk menjawab berbagai pertimbangan tersebut, madrasah menyiapkan empat jalur pendampingan studi lanjut.
Pertama, bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, tersedia kelas Program Keagamaan (PK) dan bimbingan persiapan studi keislaman. Kedua, bagi santri yang menargetkan perguruan tinggi dalam negeri, madrasah menyediakan pendampingan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan persiapan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), termasuk latihan soal, uji coba, analisis peluang, dan bimbingan karier.
Ketiga, santri yang berminat mengikuti seleksi sekolah kedinasan, seperti TNI, Polri, IPDN, dan STIN, mendapatkan pembinaan fisik, akademik, serta persiapan psikotes. Keempat, bagi santri yang menargetkan perguruan tinggi luar negeri di luar Timur Tengah, tersedia persiapan tes SAT dan IELTS melalui kerja sama dengan lembaga pendampingan pendidikan.
Menurut Ust. Danni, berbagai program tersebut dirancang agar santri dapat mengenali potensi dan mempersiapkan masa depan sesuai minat serta cita-cita masing-masing. Ia juga menyampaikan bahwa tingkat kelulusan alumni ke perguruan tinggi negeri dan luar negeri mencapai 94 persen pada 2026.
Selain pendampingan studi lanjut, MA Husnul Khotimah memberikan perhatian pada keseimbangan antara pendidikan akademik, pembinaan keagamaan, dan pengembangan bakat.
Target hafalan 5 juz Al-Qur’an dan 42 hadis menjadi bagian dari pembinaan spiritual yang berjalan beriringan dengan kegiatan akademik. Santri juga mendapat kesempatan mengembangkan potensi melalui program Bina Prestasi, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Science Club, serta organisasi siswa.
Ust. Danni mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang baik dengan putra-putri mereka, terutama dalam menentukan kelanjutan pendidikan. Ia berharap keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada keinginan sesaat, tetapi melalui diskusi dan pertimbangan yang matang.
Melalui pertemuan ini, pesantren berharap para walisantri memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai program pendidikan di MA Husnul Khotimah. Dengan dukungan keluarga dan pendampingan pesantren, proses pendidikan diharapkan dapat berlanjut secara optimal hingga santri menyelesaikan jenjang Aliyah dan siap melangkah ke pendidikan tinggi maupun kehidupan bermasyarakat.

