EXPLOSION of SUCCESS

EXPLOSION of SUCCESS

Oleh Adi Bintoro

 

Yarmuk, medan 36.000 pasukan Muslim bertemu 240.000 pasukan Romawi. Peperangan dahsyat yang menjadi titik balik dominasi kekaisaran Romawi Timur di wilayah Levant, termasuk Suriah dan Yordania modern.

Pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid menang. Padahal saat itu jumlah pasukan Romawi lebih dari enam kali lipat. Ini dahsyat, heroik, menegangkan, sekaligus mengherankan. Strategi yang digunakan Khalid saat itu sangatlah tidak lazim di zamannya, grup-grup kecil yang fleksibel mengalahkan kekuatan besar Romawi.

Kita berbangga dengan tokoh seperti Khalid bin Walid. Tapi tahukah kita darimana Khalid memiliki strategi yang luar biasa yang tidak lazim di zamannya. Apakah Khalid mendapatkan ilmu perang dari leluhurnya? Tidak. Karena bagi kaum Muslimin sendiri strategi ini tidak lazim. Mari kita cermati jawaban Khalid ketika ditanya bagaimana dia bisa begitu lihai menggunakan strategi yang digunakan bersama Muslimin pada perang Yarmuk. Ini tempat bermainku dulu.

Kalimat tersebut menerangkan bahwa Khalid tidak hadir dengan tangan kosong. Khalid sudah mengenal medan sangat detail hingga bisa mengatur pasukan dengan sangat lihai. Khalid siap. Ada pengetahuan tentang medan, tentang musuh, tentang kekuatan diri yang semuanya menunjukkan kesiapan internal. Lalu datang momen itu, Yarmuk. Kesempatan untuk berhadapan dengan kezaliman. Dan kesuksesan itu diraih, hidayah menyapa ke bumi Romawi.

Di sini kita mendapatkan kaidah, bahwa kesuksesan tidak hadir tiba-tiba. Kesuksesan adalah senyawa kimiawi dari bertemunya elemen kesiapan dari dalam dan elemen kesempatan dari luar. Elemen kesempatan merupakan wilayah eksternal di mana Allah yang menentukan bentuk dan waktunya. Sedangkan elemen kesiapan merupakan ruang internal yang Allah berikan kepada kita untuk bisa kita upayakan dalam prosesnya. Ketika kedua elemen ini bertemu, ledakan kimiawi mempersatukan keduanya dan buumm! Senyawa kesuksesan hadir.

Imam Syafi’i juga memakai kaidah ini. Syafi’i muda yang masih sangat belia berniat belajar kepada Imam Malik. Maka sebelum berangkat ke Madinah, Syafi’i muda mempelajari dan menghafal seluruh isi kitab Muwatha’ karya Imam Malik. Bertemulah dua orang mulia ini di Madinah. Ketika itu Imam Malik berkata, “Datanglah besok untuk mendengar kajian kitab Al-Muwatha’. Syafi’i muda berkata, wahai syekh, aku sudah menghafalkannya”. Lalu Imam Syafi’i membacakan hafalannya. Imam Malik begitu terkesan dengan hafalan dan bagusnya bacaan Imam Syafi’i. Diterimalah Imam Syafi’i menjadi murid Imam Malik.

Elemen kesiapan dari Khalid dan Imam Syafi’i sudah dibentuk sebelum datangnya elemen kesempatan. Kesempatan memang kadang datang diam-diam dan kita tidak tahu kapan. Tapi orang-orang besar dalam sejarah, mereka sudah siap sebelum kesempatan terlihat. Maka orang-orang besar, bersiaplah!

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp