YOU ARE WHAT YOU EAT

YOU ARE WHAT YOU EAT

Oleh Arni Purlika

 

Ungkapan “You are what you eat“, adalah sebuah motivasi gaya hidup sehat yang menekankan bahwa makanan yang kita konsumsi secara langsung akan membentuk fisik dan menunjukkan mental serta kepribadian kita. Ada orang yang makan tanpa pantangan (real food), biasanya yang seperti ini fisik dan tahan tubuhnya kuat. Ada orang yang pilih-pilih menurut selera hanya yang sehat dan bergizi saja yang dimakan, kita menyebutnya orang ini “apik”, ada yang pilih-pilih makanan menurut mood dan selera saja, biasanya orang seperti ini fisiknya ringkih. Ada juga yang segala dimakan (cenderung pada processed food), tersebutnya “jorok” karena yang dikonsumsi adalah junk food.

You are what you eat, so don’t be fast,cheap,easy,or fake“. Secara harfiah, pepatah ini berarti: “Anda adalah apa yang Anda makan, jadi jangan yang serba cepat, murah, mudah, atau palsu”. Berikut penjabaran maknanya:

Pertama, don’t be fast (jangan cepat/instan). Hindari fast food (makanan cepat saji) atau makanan olahan (processed food) yang serba instan, di antaranya adalah segala macam frozen food, burger, ayam goreng krispi, dan kentang goreng. Makanan instan sering kali rendah nutrisi dan tinggi gula,garam atau lemak (GGL) yang dapat membuat tubuh lesu, mengantuk, dan rentan obesitas.

Kedua, don’t be cheap (jangan murah/murahan). Jangan sayang uang mengorbankan kualitas makanan dengan mengkonsumsi jajanan yang murah harganya. Seperti jajanan tanpa ijin dari POM, tanpa keterangan siapa yang produksi dan kapan kadaluarsanya, gorengan minyak hitam, snack ringan dengan tinggi MSG. Makanan murah sering kali adalah makanan dengan nutrisi rendah. Ini diibaratkan sebagai “investasi yang salah”, di mana seseorang membayar sedikit uang sekarang, namun harus membayar mahal untuk pengobatan kesehatan di masa depan.

Ketiga, don’t be easy (jangan mudah/sembarangan dimakan). Jangan malas memilih atau menyiapkan makanan. Jangan gampang tergoda dengan makanan tidak sehat hanya karena aksesnya mudah. Memilih makanan yang sehat membutuhkan niat dan usaha (memasak sendiri atau memilih bahan pangan utuh), bukan sekadar pelarian saat lapar atau stres,seperti konsumsi mie instan, sosis, nugget, seblak.

Keempat, don’t be fake (jangan palsu/tiruan). Yaitu segala minuman serbuk rasa buah yang mengandung 0% buah asli, sosis dan bakso tanpa daging, keju sintestis, pewarna dan pemanis buatan. Hindari makanan artifisial, bahan kimia buatan, penyedap rasa berlebih, atau bahan pengawet yang beresiko terhadap penyakit tidak menular, jika dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang. Makanan yang palsu atau tidak alami tidak memberikan energi yang dibutuhkan tubuh. Makanan terbaik adalah yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya.

Ungkapan di atas mengajak kita untuk berhenti memperlakukan tubuh sebagai tempat sampah. Tubuh adalah tempat tinggal kita seumur hidup, jadi berikanlah nutrisi terbaik. Pilih makanan nyata (real food), segar, dan bergizi seimbang. Tidak fast karena butuh waktu untuk proses memasaknya, tidak cheap karena terjaga kualitasnya, tidak easy asal ketemu dan yang penting ada, dan tidak fake karena asli dari alam.

Investasikan energi dan uang untuk kesehatan jangka panjang. Sadar bahwa setiap suapan adalah pilihan untuk membangun kesehatan atau memupuk penyakit. Buktikan!

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp