MEMUPUK MIMPI DARI PINGGIR ARENA

MEMUPUK MIMPI DARI PINGGIR ARENA

Oleh Ayip Miftahuddin

 

Menjadi guru seringkali dipahami sebagai pekerjaan mengajar di ruang kelas. Lebih dari itu, menjadi guru adalah perjalanan menanam mimpi, merawat harapan, dan berjalan bersama menuju sesuatu yang bernilai ujungnya.

Pengalaman pertama ketika membimbing santri mengikuti lomba cerdas cermat. Saat itu kami datang dengan semangat yang besar dan harapan yang tinggi. Semua persiapan dilakukan sebaik mungkin. Ketika hasil babak penyisihan diumumkan, Tim MTs HK2 berhenti di babak penyisihan. Wajah para santri yang awalnya penuh harapan berubah menjadi murung. Saya tahu mereka kecewa, dan saya pun merasakan hal yang sama. Namun hari itu kami tidak langsung pulang.

Saudara kami dari MTs HK1 berhasil melaju hingga babak final. Kami memutuskan untuk tetap tinggal dan menyaksikan pertandingan hingga selesai. Kami duduk di bangku penonton, memperhatikan setiap pertanyaan, setiap jawaban, dan setiap sorak-sorai yang memenuhi ruangan. Ketika akhirnya mereka dinyatakan sebagai juara, ruangan itu bergemuruh oleh tepuk tangan. Saya melihat para santri mereka berdiri dengan wajah berseri sambil mengangkat piala kemenangan.

Selesai acara kami memberanikan diri mendekat. Kami mengucapkan selamat, dan meminta berfoto bersama. Bahkan kami juga mohon izin memegang piala mereka. Saat memegang piala itu, saya berkata dalam hati, “Suatu hari nanti, santri-santri kami juga akan membawa pulang piala seperti ini”.

Beberapa waktu kemudian kami kembali mengikuti ajang kompetisi tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Lokasinya di Kota Cirebon. Kali ini hanya satu santri kami yang berhasil lolos dari penyisihan Kabupaten, yaitu pada cabang pidato Bahasa Arab. Jumlah itu tentu sangat kecil dibandingkan capaian saudara kami di HK1. Namun kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.

Kami berpindah dari satu arena lomba ke arena lainnya. Kami memperhatikan bagaimana siswa-siswa dari berbagai daerah bertanding. Kami melihat cara mereka berpikir, menjawab soal, dan cara para pembimbing mempersiapkan mereka. Kami juga mencoba berbincang dengan banyak pembimbing lain. Dari percakapan itulah kami belajar tentang banyak hal. Hari itu kami pulang tanpa membawa piala. Tetapi kami pulang dengan keyakinan yang semakin kuat.

Sejak saat itu sesuatu mulai berubah. Sedikit demi sedikit muncul santri-santri yang memiliki ketangguhan luar biasa. Mereka tidak hanya ingin ikut lomba, tetapi benar-benar siap berjuang. Ruang kesiswaan di madrasah kami perlahan berubah menjadi ruang perjuangan. Siang hari mereka belajar setelah pulang sekolah. Malam hari mereka kembali belajar dengan tumbukan buku dan kumpulan soal.

Ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan. Suatu hari seorang santri datang ke ruang kesiswaan membawa dua tas besar. Ia meletakkannya di meja dengan wajah yang penuh kebanggaan. Ketika saya melihatnya, saya benar-benar terkejut. Dua tumpukan berisi latihan soal yang ia kumpulkan sejak awal kelas tujuh hingga akhir kelas sembilan. Semua catatan, semua latihan, semua jejak perjuangan, tersimpan di sana. Ia menatap tumpukan itu sambil tersenyum.

“Ini bukti kerja keras kita selama ini.” Kalimat sederhana itu membuat hati saya hangat sekaligus haru. Sebelum pamit pergi ia berkata, “Terima kasih atas bimbingannya. Saya ingin terus melanjutkan mimpi ini. Saya akan belajar giat seperti dulu bersama ustadz-ustadz di sini”.

Perjalanan menuju mimpi tidak selalu dipenuhi kebahagiaan. Ada juga saat-saat yang terisi kekecewaan. Ruang kesiswaan dipenuhi tumpukan buku, beberapa kali berubah menjadi tempat tangisan. Saya masih ingat beberapa santri datang dengan mata merah setelah pengumuman hasil lomba. Ada juga yang awalnya terus menunduk berusaha menahan air mata, tetapi akhirnya tidak sanggup juga.

“Ustadz, kami sudah belajar keras. Kami juga sudah berdoa lebih lama dari biasanya. Tapi kenapa Allah belum memberikan kami jadi juara?” Pertanyaan itu selalu membuat hati saya ikut terasa berat.

“Kegagalan ini bukan akhir perjalanan,” saya pernah berkata kepada mereka,
“Ini hanya stasiun pemberhentian.”

Jika di stasiun ini kita belum mendapatkan apa yang kita suka, mungkin kereta ini sedang melaju menuju stasiun lain yang lebih besar karunia-Nya. Saya juga mengingatkan mereka bahwa tidak ada usaha yang hilang di hadapan Allah. Hingga seiring berjalannya waktu, mimpi yang dulu kami rawat perlahan mulai menemukan jalannya. MTs HK2 semakin aktif berbagai kompetisi. Prestasi demi prestasi mulai diraih, bahkan berturut-turut meraih medali juara di tingkat nasional dalam ajang yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp