
Pontren Husnul Khotimah Gelar Mulazamah Ilmiah Intensif Bersama Syaikh Dr. Muhammad Said Bakr
Suasana di aula Darul Arqom Pondok Pesantren Husnul Khotimah, mendadak terasa berbeda pada Senin pagi. Tidak hanya karena udara sejuk khas kaki Gunung Ciremai yang menyapa, tetapi karena kehadiran tamu istimewa dari negeri para nabi. Syaikh Dr. Muhammad Said Bakr, seorang ulama asal Palestina, hadir menyambungkan rantai keilmuan (sanad) kepada para penjaga wahyu di pesantren ini.
Selama dua hari (2-3 Februari 2026), 60 ustadz dan ustadzah hadir dalam majelis “Mulazamah Ilmiah Intensif”. Di hadapan mereka, duduk seorang pakar hadis dan sirah nabawiyah yang telah melahirkan lebih dari 60 karya tulis. Bukan sekadar mendengarkan ceramah, para peserta diajak “berlayar” menyelami kedalaman makna empat buku monumental karya Syaikh Muhammad: Alqiyamu wal asaalib fittarbiyah fil Arba’in annawawiyah, Siroh Mustaniroh, Falisthiina wal Quds, Ta’shilan wa Tafshilan dan At-Tarbiyah Walfida.
Ustadz Gozali, Lc., panitia daurah, menjelaskan betapa istimewanya momen ini. “Beliau membawa ijazah sanad langsung untuk empat kitabnya. Harapan kami satu: agar para asatidz di sini memiliki pemahaman yang itqan (mendalam dan murni) sebelum nantinya ilmu ini diwariskan kembali kepada para santri,” ungkapnya.
Bagi para peserta, seperti Ustadz Nurdiansyah dan Ustadz Arif, momen ini adalah penyegaran spiritual dan intelektual. “Saya mendapatkan cara pandang baru dalam memahami Hadits Arba’in,” ujar Ustadz Nurdiansyah antusias. Sementara Ustadzah Badi’ah berharap, apa yang ia serap selama dua hari tersebut bisa diamalkan dan menjadi bekal nyata dalam mendidik santriwati di kelas.
Senja di hari Selasa menjadi saksi penutupan yang emosional. Pimpinan Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kiai Mulyadin, Lc., M.H memberikan pesan mendalam dalam sambutan penutupnya.
“Ilmu dalam Islam tidak bisa diraih dengan tergesa-gesa. Ia butuh pendampingan, butuh mulazamah dengan ulama. Hari ini kita menutup kegiatan, tapi sebenarnya kita sedang membuka lembaran tanggung jawab baru untuk mengamalkan apa yang telah kita fahami,” pesan Kiai Mulyadin dengan suara yang penuh penekanan.
Kegiatan yang dibuka oleh Ketua Umum Yayasan, KH. Mu’tamad, M.Pd Al-Hafidz ini, juga meninggalkan kesan mendalam bagi Syaikh Muhammad Said Bakr sendiri. Baginya, Husnul Khotimah bukan sekadar lembaga pendidikan biasa.
“Ini adalah tempat mencetak para lelaki dan wanita pejuang umat,” puji Syaikh Muhammad. Beliau menitipkan harapan agar pesantren ini terus melahirkan generasi “Hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar” (ibadan lana uli ba’sin syadid), sebuah metafora Al-Qur’an untuk generasi tangguh yang akan membela kemuliaan Islam di masa depan.
Mulazamah memang telah berakhir, namun gairah keilmuan di Husnul Khotimah justru baru saja dimulai. Di bawah bimbingan ulama Palestina yang berilmu luas namun rendah hati tersebut, para asatidz kini memegang amanah sanad baru. Sebuah jembatan ilmu yang membentang dari Kuningan hingga ke tanah suci Palestina, membawa cahaya bagi negeri dan para hamba Allah di masa depan yang dekat.

