
PERJALANAN CINTA YANG TULUS DI PONTREN HUSNUL KHOTIMAH
13 November 2000 – Sekarang
Oleh Abud Budiman
Pembuka: Awal Sebuah Pengabdian
13 November 2000. Tanggal itu bukan sekadar angka di kalender. Bagi saya, itu hari ketika kaki pertama kali menapak di gerbang Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Datang dengan hati berdebar, membawa niat sederhana: ingin ikut mendidik generasi Qur’ani. Tak disangka, niat sederhana itu berubah jadi perjalanan cinta yang tulus, sudah 24 tahun lamanya.
Bab 1: Di Divisi Pesantren, Unit Pembinaan
Cinta yang Dipupuk di Asrama
Pengabdian saya dimulai dari jantung pesantren: Unit Pembinaan. Di sinilah saya belajar bahwa mendidik bukan soal memberi ceramah, tapi membersamai.
Saya pernah menjadi staf pengasuhan, tugas pertama yang mengajari saya arti sabar. Mendengar keluh kesah santri, menenangkan yang rindu rumah, membangunkan tahajud satu-satu. Dari sana Allah angkat saya jadi Kepala Asrama Khondaq. Nama “Khondaq” mengingatkan pada parit Khandaq Rasulullah — tempat saya belajar strategi: bagaimana menjaga santri dari “serangan” malas, futur, dan akhlak buruk.
Lalu amanah berpindah ke staf Asrama Hudaibiyah. Di asrama “perjanjian damai” ini, saya belajar mendamaikan hati santri yang berselisih, merajut ukhuwah yang sempat retak.
Tak lama, saya dipercaya jadi Kepala Asrama Fuqoha. Bersama para “calon ahli fiqih”, kami begadang murojaah, diskusi hukum, dan menanam adab sebelum ilmu. Setelah itu, Allah titipkan Asrama Mufasirin ke pundak saya. Di sini, saya saksikan santri jatuh cinta pada Al-Qur’an, menghafal, mentadabburi, dan menangis karena satu ayat.
Puncak amanah di Unit Pembinaan adalah ketika ditugaskan sebagai Kepala Pengasuhan Putra. Tanggung jawabnya berat: mengawal ribuan santri putra, 24 jam. Tapi justru di titik inilah saya sadar, cinta ke pesantren ini sudah mengakar. Lelah fisik terobati saat lihat santri sungkem sambil bilang, “Ustadz, doakan ana jadi hafidz ya.”
Bab 2: Di Unit Madrasah Tsanawiyah
Cinta yang Bertumbuh di Kelas dan Laboratorium
Pengabdian meluas ke Unit Madrasah Tsanawiyah. Saya dipercaya jadi Kepala Sarpras, mengurus Lab IPA dan Perpustakaan. Dari menata tabung reaksi sampai merapikan rak buku, saya yakin: sarana yang baik adalah wasilah lahirnya santri cendekia.
Lalu Allah geser saya ke staf Kurikulum. Di balik meja, saya belajar merancang agar ilmu dunia dan ilmu akhirat berpadu seimbang. Sempat juga jadi Wali Kelas, posisi yang bikin saya dekat sekali dengan tawa dan air mata anak-anak.
Karena Al-Qur’an adalah mahkota Husnul Khotimah, saya pun pernah jadi Musyrif Tahsin Tahfiz Quran. Duduk lesehan, menyimak setoran, membenarkan makhraj. Ada bahagia yang tak bisa diungkap saat seorang santri akhirnya lulus tasmi’ 30 juz.
Dan hari ini, saya mengemban amanah sebagai Staf BK MTs HK 1. Dari mengurus asrama ke mengurus hati. Dari menata lab ke menata luka remaja. Di ruang BK, saya jadi tempat bersandar santri yang patah, bingung, atau sekadar butuh didengar.
Penutup: Cinta yang Tak Pernah Pensiun
24 tahun bukan waktu sebentar. Dari rambut hitam jadi mulai memutih. Dari staf baru jadi yang dituakan. Tapi satu yang tak berubah: Husnul Khotimah sudah jadi rumah, santrinya sudah jadi anak, dan setiap sudutnya menyimpan doa.
Perjalanan ini mengajari saya, cinta yang tulus tidak diukur dari jabatan, tapi dari jejak. Jejak mendampingi santri wudhu subuh, jejak mengetuk pintu asrama malam-malam, jejak mendoakan mereka diam-diam.
13 November 2000 saya datang sendiri. Hari ini, saya berjalan bersama ribuan alumni yang sudah menyebar. Dan insyaAllah, selama nafas masih ada, cinta ini tak akan pensiun.
Karena Husnul Khotimah bukan tempat kerja.
Ia adalah tempat saya belajar mencintai tanpa syarat.
Lillah, Billah, Fillah.

