
Tempat Kerja Toxic, Mana Maeen!!
Oleh Kodri
Tempat kerja beracun (toxic) adalah persoalan serius yang berdampak besar pada kesehatan mental dan fisik pekerja. Lingkungan kerja ideal adalah yang memiliki manajemen baik dan efektif, hubungan antar karyawan harmonis dan saling mendukung, tempat kerja bersih dan aman, komunikasi terbuka, budaya organisasi sehat, kesempatan pengembangan diri dan karir, serta pimpinan yang tidak toxic. Semua itu menjadi dambaan bagi setiap pegawai agar dapat bekerja dengan produktif dan nyaman.
Namun, bagaimana jika situasi di tempat kerja kita justru berlawanan? Lingkungan kerja toxic menimbulkan berbagai dampak negatif, pertama, stres. Bukan sekadar trauma mental biasa, stres kronis dapat merubah struktur otak, menurunkan fungsi kekebalan tubuh, dan meningkatkan risiko depresi.
Kedua, kecemasan. Ketakutan yang bekelanjutan terhadap tekanan pekerjaan memicu kecemasan yang sulit dikendalikan, mulai dari gelisah, khawatir berlebihan, hingga gejala fisik seperti gemetar dan detak jantung cepat. Kondisi ini mengurangi produktivitas dan memicu bolos kerja, reaksi emosional berlebihan, bahkan paranoia.
Ketiga, kelelahan. Beban mental yang berlebih dapat menyebabkan insomnia dan kekurangan tidur, yang berujung pada kelelahan kronis. Akibatnya, orang menarik diri dari pergaulan, muncul berbagai gangguan kesehatan seperti masalah pencernaan dan migrain.
Keempat, depresi. Mental Health America mencatat, depresi termasuk tiga masalah utama pekerja di tempat kerja. Gejalanya meliputi rasa sedih mendalam, kehilangan minat, cepat marah, sakit kepala, sulit konsentrasi, dan perasaan bersalah yang berulang.
Kelima, mudah sakit. Kombinasi stres dan kelelahan melemahkan sistem imun tubuh, membuat pekerja akan lebih rentan terhadap penyakit.
Menurut Dr. Ruslan Faryadi, A.M., M.S.I., kesehatan mental adalah bagian integral dari kesempurnaan hidup yang telah diatur secara rinci dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi. Kesehatan sejati adalah keseimbangan antara fisik, mental, dan spiritual. Ketiganya harus dirawat agar hidup menjadi bermakna dan harmonis.
Dalam perspektif Islam, ada tiga prinsip utama dalam menjaga kesehatan mental, yaitu keseimbangan hidup (wasathiyah). Yaitu menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, tidak berlebihan maupun kurang.
Kemudian, pendidikan spiritual dan akhlak. Yaitu menguatkan iman dan karakter sebagai landasan menghadapi tekanan dan cobaan hidup. Dan, rasa syukur kepada Allah. Yaitu sikap syukur memperkuat ketenangan jiwa dan menjauhkan dari kegelisahan.
Untuk terapi kesehatan mental, pendekatan tadarus Al-Qur’an yang memuat nilai-nilai psikologis (tadarusul ayat as-psikologiyah) sangat dianjurkan. Dengan kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, seseorang akan dapat mengatasi stres dan gangguan jiwa secara spiritual.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang memiliki suatu penyakit melainkan Allah juga menciptakan obat untuknya.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan pentingnya ikhtiar dan tawakkal dalam mencari pengobatan dan menjaga kesehatan.
Selain aspek spiritual, Dr. Ruslan Faryadi juga menekankan pentingnya memperbaiki kualitas ibadah sebagai upaya memperbaiki kualitas hidup. Perbaiki kualitas ibadahmu, insya Allah Allah akan memperbaiki kualitas hidupmu.
Dengan demikian, meski terjebak dalam lingkungan kerja beracun, seseorang dapat menjaga dan memulihkan kesehatan mentalnya melalui keseimbangan hidup, peningkatan spiritualitas, banyak bersyukur, disertai ikhtiar medis dan perbaikan diri secara menyeluruh.
#pesantrenterbaikdikuningan #berbasisdakwahdantarbiyah #pontrenhusnulkhotimah

