
Menjadikan Hidup Bernilai
Oleh : Dian Ekawati
Tahun baru, harapan baru. Tahun keberapa kali ini?…
Kita adalah kumpulan hari-hari yang selalu berkurang seiring berlalunya waktu. Terkadang kita sungkan ketika ditanya tentang usia, takut… karena ternyata kita sudah mulai menua. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)
Begitu pula Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasihati Sufyan Ats-Tsauri,
إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.
“Sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu, sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 2: 245)
Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa permisalan kehidupan dunia ini bagaikan hujan yang turun ke bumi, membuat subur tumbuhan, membuat tumbuhan tersebut berbunga dan membuat senang orang-orang yang melihatnya. Saat mereka lalai dengan keindahannya, tiba-tiba jadilah tumbuhan itu kering dan diterbangkan oleh angin. Maka hilanglah tumbuhan dan bunga yang bermekaran indah itu yang tersisa hanyalah tanah yang kering.
Itulah dunia, saat hidup berjalan lancar, kekayaan terus bertambah, kita mengira itu hasil dari kemampuan kita. Bukan kamu yang hebat, tapi karena Allah yang mudahkan jalannya.
Kita sibuk mengumpulkan harta yang dengannya kita mengira bisa bahagia selamanya. Kita sibuk mencari validasi orang lain bahwa kita orang baik, orang hebat dan kita mengira akan tetap terus seperti itu, tiba-tiba maut datang menjemput atau semua kesenangan itu hilang, lenyaplah kelezatan dan kebahagiaannya. Tinggallah amal baik atau amal buruk kita.
Berapa banyak yang terbuai dengan indahnya dunia hingga lupa akhiratnya, padahal kenikmatan di dunia itu sangatlah singkat, Allah swt ingatkan dalam firman-Nya,
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَىٰهَا
“Pada hari ketika mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at: 46)
Jika dunia selalu sempat, namun Allah sering terlupa, bisa jadi itu bukan karena kita sibuk tetapi karena prioritas hati kita bergeser. Jika shalat terasa berat, tapi scroll terasa ringan, membaca Al Qur’an sudah lelah itu bukan soal tenaga itu soal arah hati. Karena masalah kita sebenarnya adalah kita tidak menyadari nilai waktu.
Allah tidak meminta kita meninggalkan dunia, Allah hanya meminta dunia tidak menguasai hati. Ketika Allah didahulukan, yang lain akan menyusul. Sibuk bukan berarti Allah tidak hadir di tengah kesibukan, jangan menunggu lapang untuk taat. Justru ketaatanlah yang akan melapangkan hidup. Mari kita luruskan niat dan prioritas kita dalam hidup agar hidup kita bermakna.

