
Ketika Keikhlasan Berbuah: Kisah Santri atas Pilihan Orang Tua
Oleh Ela Nurlaela
Salam hangat dari saya, Ela Nurlaela, alumni Husnul Khotimah angkatan 9. Saya masuk HK melalui jalur i’dad sebelum melanjutkan ke MA. Sejujurnya, saya adalah salah satu santri yang mondok bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena dorongan orang tua. Mudah-mudahan ada hikmah dari kisah ini, sebab saya yakin tidak sedikit dari kita yang awalnya masuk HK demi memenuhi harapan orang tua.
Suatu sore di dapur, saat menemani mama memasak, beliau berkata pelan, “Nok, lanjut sekolahnya ke Husnul aja sekalian ya, daripada di asrama.” Saat itu kami memang sudah survei beberapa sekolah. Saya kaget, menahan tangis, sambil berpikir, “Mondok lagi?” Namun saya mengangguk saja, karena yakin tak akan lolos seleksi. “Ya sudah, nggak apa-apa,” jawab saya.
Hari pengumuman tiba. Mama tampak antusias menatap papan pengumuman, sementara saya berdiri agak jauh. Tak lama, mama berlari memeluk saya sambil menangis haru. “Alhamdulillah, lulus!” Saya terdiam antara syok dan haru. Baru kali itu saya melihat mama menangis bahagia karena pencapaian saya.
Hari pertama mondok dimulai. Saat menuju barisan calon santri i’dad, saya melihat punggung yang terasa familiar. Saya tepuk bahunya. “Hah, ngapain kamu di sini?” Kami tertawa ngakak. Dialah Fitri, sahabat saya dari pondok sebelumnya. Padahal dulu kami sempat berteriak, “Nggak mau mondok lagi!” Tapi Allah mempertemukan kami kembali tanpa janji.
Tahun pertama di HK adalah masa terberat. Ritme hidupnya sangat berbeda. Bangun dengan bel panjang, lari ke kamar mandi sambil ngantuk, sering kejedot jemuran. Mandi harus antre, makan harus cepat, semua serba sat-set. Bahkan nelpon orang tua di wartel pun harus antre.
Saat orang tua menjenguk, saya mencoba melobi agar boleh keluar dari HK. Namun orang tua tetap tegas. Mereka khawatir saya terjerumus pergaulan bebas, seperti beberapa teman SD saya. Sebagai penguat, orang tua berjanji akan memberangkatkan saya haji jika lulus dari HK. Saya setuju, dengan syarat boleh dijenguk seminggu sekali.
Perlahan, saya mulai menerima kehidupan pondok. Saya menikmati suasana berlomba dalam kebaikan. Tahajud, tilawah, dan murojaah sebelum subuh menjadi kebiasaan yang saya jalani dengan ikhlas.
Ada banyak kisah unik setelah itu. Fitri pernah diam-diam mendaftarkan saya ke KIR. Hasilnya, justru saya yang lolos. Pernah pula tugas menggambar tujuan hidup sederhana saya terpilih sebagai yang terbaik. Di acara kepenulisan, tulisan kecil saya tentang masa kecil terpilih dan saya mendapat buku bertanda tangan penulisnya. MasyaAllah.
Setelah lulus, orang tua mendorong saya mencoba Fakultas Kedokteran. Saya sempat gagal tes tulis, namun lolos lewat jalur rapor berkat kegigihan mama. Di semester dua, saya benar-benar berangkat haji. Meski absen 40 hari, Allah mudahkan semuanya.
Pernah suatu kali dompet saya jatuh di jalan. Keesokan harinya, seseorang menghubungi saya dan mengembalikannya tanpa mau diberi imbalan. “Kita sama-sama perantau,” katanya. MasyaAllah.
Saat ujian OSCE, saya gagal satu stase dan harus mengulang. Ternyata di hari itu bus yang biasa saya naiki masuk jurang. Allah menjaga dengan cara yang tak terduga. Bahkan jodoh pun Allah pertemukan di modul terakhir kuliah. Semua terasa begitu indah dalam takdir-Nya.
Kini, putri saya, Khansa Tsabita Taqiyya, menjadi santri HK angkatan 32. Berbeda dengan ibunya, ia mondok atas keinginannya sendiri. Semoga ia lebih bersungguh-sungguh dalam tholabul ‘ilmi dan selalu dalam penjagaan Allah.
Bagi saya, semua ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah keikhlasan menjadi santri atas keinginan orang tua—terutama mama. Dari sanalah Allah bukakan pintu keberkahan demi keberkahan.
#pesantrenterbaikdikuningan #berbasisdakwahdantarbiyah #pontrenhusnulkhotimah

