
Hari Pertama yang Berat, Kini Menjadi Kisah yang Indah
Oleh Ummu Husna
Ahad, 17 Mei 2026. Hari ini hati seorang ibu dipenuhi rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di antara haru yang diam-diam menggenang, kami menghadiri Tarqiyatul Marhalah MTs HK ananda tercinta, ( biasa kami panggil Dede ), nama yang selalu tumbuh bersama doa-doa panjang kami sebagai orang tua.
Tak terasa, tiga tahun telah berlalu sejak langkah kecilnya pertama kali menapaki kehidupan pesantren. Sebuah tempat yang dahulu terasa begitu jauh, namun kini justru menjadi rumah kedua yang membentuk jiwa dan kepribadiannya. Pesantren yang telah melahirkan begitu banyak generasi hebat yang tersebar di berbagai penjuru negeri hingga mancanegara.
Namun di balik hari yang membahagiakan ini, ingatan kami kembali berjalan mundur… pada sebuah hari yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan seorang ibu.
Tiga tahun lalu. Hari ketika kami mengantarkan Dede ke pesantren untuk pertama kalinya.
Saat itu kami datang dengan keyakinan dan harapan besar. Kami percaya bahwa setiap perpisahan adalah bagian dari ikhtiar untuk masa depan yang lebih baik. Tetapi ternyata, teori tentang keikhlasan terasa begitu berbeda ketika harus benar-benar dijalani.
Ketika waktu meninggalkan asrama tiba, tangisan Dede pecah begitu saja. Ia berlari meninggalkan kamar menuju penginapan kami, menolak kembali ke asrama. Malam itu menjadi malam yang panjang. Kakak-kakaknya berusaha membujuk dengan sabar, menghibur dengan berbagai cara, mencoba menenangkan hati kecilnya yang belum siap berpisah dari rumah ( maklum anak bungsu). Namun ia tetap ingin pulang.
Dan sebagai seorang ibu… hati ini terasa runtuh perlahan.
Tangisan anak memang selalu memiliki jalan tercepat menuju hati seorang ibu. Melihatnya memohon untuk ikut pulang membuat dada sesak oleh rasa tidak tega. Malam itu kami hampir tidak tidur. Pikiran dipenuhi pertanyaan yang terus berputar: apakah besok kami benar-benar tega meninggalkannya?
Di tengah kegelisahan itu, Abi dan kakak-kakaknya terus mencoba menguatkanku.
“InsyaAllah besok Dede sudah mau kembali ke asrama, Mi.”
Kalimat sederhana itu menjadi penenang di tengah hati yang kacau. Dan malam itu, aku hanya bisa memeluk nya erat-erat dan berdo’a. Memohon kepada Allah agar esok datang bersama kemudahan dan keteguhan hati untuk anak kecil kami.
Dan benar saja…Pagi itu, dengan suara pelan yang masih kuingat hingga hari ini,
“Mi… anterin dede ke asrama.”
Rasanya seperti ada beban besar yang perlahan terangkat dari dada. Aku memeluknya erat, mencium wajah kecilnya dengan perasaan haru yang tak mampu disembunyikan.
Sesampainya di asrama, perlahan ia mulai menerima. Saat aku berpamitan, ia mengangguk pelan sambil melambaikan tangan kecilnya.
“Dada…”
Sederhana. Tapi cukup untuk membuat hati seorang ibu belajar ikhlas.
Hari itu kami pulang meninggalkan perjalanan Kuningan–Cirebon dengan hati yang campur aduk. Ada sedih, ada haru, ada kehilangan… tetapi juga ada keyakinan bahwa setiap anak harus bertumbuh dengan caranya sendiri.
Dan hari ini…
MasyaAllah, waktu benar-benar telah bekerja dengan begitu indah.
Anak yang dahulu pemalu dan takut ditinggal itu kini tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Pesantren telah mengajarkannya tentang disiplin, keteguhan, keberanian, dan arti bertahan dalam proses panjang kehidupan.
Kami melihat perubahan itu perlahan hadir dalam dirinya dalam cara ia berbicara, bersikap, dan menghadapi kehidupan. Kini ia bukan lagi anak kecil yang takut berpisah, tetapi seorang gadis yang sedang belajar menjadi perempuan tangguh.
Sebagai orang tua, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat anak bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kami sadar, setiap air mata di awal perjuangan ternyata bukanlah akhir dari kesedihan, melainkan awal dari sebuah proses pendewasaan yang indah.
Terima kasih, Dede…Kamu telah membuktikan bahwa dirimu mampu melewati hari-hari yang tidak mudah itu. Mampu bertahan di tengah disiplin, aturan, rindu, dan proses adaptasi bersama banyak orang dari berbagai daerah.
Barakallah…
Kini perjalananmu akan berlanjut ke jenjang berikutnya di pesantren yang sama. Dan hati kami kembali dipenuhi syukur karena engkau memilih tetap melanjutkan langkah di tempat yang telah menempa dirimu menjadi lebih kuat.
Semoga Allah selalu menjaga setiap langkahmu. Melapangkan hatimu dalam menuntut ilmu. Menjadikanmu perempuan shalihah yang kelak bukan hanya membanggakan keluarga, tetapi juga memberi manfaat bagi banyak orang.
Dan kelak, ketika hidup membawamu pada perjalanan yang lebih jauh, semoga engkau selalu mengingat bahwa ada doa-doa panjang seorang ibu yang tak pernah berhenti menyertai setiap langkahmu.
Karena sesungguhnya, anak-anak tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan rumah. Mereka hanya sedang belajar terbang… sementara hati seorang ibu akan selalu menjadi tempat mereka pulang❤️
Kuningan, 17 Mei 2026

