Ruang Gizi yang Mengubah Takdir

Ruang Gizi yang Mengubah Takdir

Oleh Arni Purlika

Siang itu kelas 8G riuh. Hari pertama masuk di kelas itu. Tiba-tiba ada santriwati dengan senyum paling cerah menghampiri dan berkata, “Mrs. Arni, masih ingat saya?”

Aku tersenyum, tetapi sedikit bingung. Jujur, aku masih belum ingat siapa dirinya. Melihatku yang kebingungan, ia pun tertawa.

“Saya Zaha, Mrs. Dulu kelas 7, santri baru. Saya pernah dipanggil ke Ruang Gizi.”

Zaha. Nama yang langsung mengingatkan pada satu cerita. Zaha cerita, dulu ia dipanggil dari kelas ke Ruang Gizi. Jantungnya deg-degan. Dalam pikirannya, “Apa aku salah ya?” Ia mengira sedang dimarahi. Ternyata tidak. Itu adalah nasihat.

“Shalihah, kamu harus jaga pola makan. Harus diet.”

Bagi anak MTs, sebelia itu, disarankan untuk diet terdengar seperti hukuman. Namun Zaha memilih cara lain. Ia tidak protes. Ia berkata, “Semenjak itu saya langsung diet, Mrs.”.

Dari sana Zaha berniat. Bukan karena ingin terlihat cantik. Melainkan karena ingin sehat, agar bisa ibadah lebih kuat. Ia melakukannya dengan konsisten. Ia mulai meninggalkan kebiasaan makan di tengah malam dan porsi ekstra, yaitu 2 porsi mie instan plus 2 telur dan sosis, seblak jumbo dengan semua topping yang tersedia, berbungkus-bungkus camilan ringan plus soft drink yang super manis.

Alhamdulillah, Allah mudahkan. Satu tahun berlalu. BB Zaha turun 20kg. Dari 85kg menjadi 65kg. Yang luar biasa bukan cuma angkanya, yang membuatku merinding justru efeknya yang menular.

“Orang tua dan kakak saya semua gemuk, Mrs. Sekarang mereka lihat saya, lalu ikut termotivasi untuk diet juga.” Bayangkan, seorang santri MTs bisa menjadi pemantik perubahan di rumahnya. MasyaAllah. Satu orang berikhtiar, satu keluarga ikut berubah.

Paling tidak ada pelajaran dari Zaha yang bisa kita petik. Pertama, malu itu wajar, menyerah itu pilihan. Kata malu, sudah beribu kali terucap dari Zaha. Shock, baru umur sekecil itu postur tubuhnya sudah dikatakan gemuk sekali. Bully-an teman yang bentuknya candaan membuatnya stres. Insecure dengan body besar di tengah-tengah imutnya santri baru. Dipanggil ke Ruang Gizi pastinya terasa tidak enak. Tetapi Zaha tidak menjadikan itu sebagai alasan untuknya merasa minder. Ia justru menjadikannya sebagai titik balik.

Kedua, diet bukan untuk ‘kurus’ saja. Dietnya Zaha bukan karena ingin terlihat cantik di feed IG. Melainkan karena ingin sehat. Karena ia ingin bisa menjadi versi terbaik dari dirinya. Vibes positif dari teman dekatnya menumbuhkan optimis dan yakin bahwa Zaha bisa.

Ketiga, perubahan kecil bisa mengubah banyak orang. Zaha hanya ingin menjaga pola makan dirinya. Namun sekarang satu keluarga ikut termotivasi. Inilah dakwah dengan perbuatan.

Pesan Zaha untuk kamu yang sedang membaca cerita ini, “Awalnya susah. Tapi kalau sudah mulai, lama-lama jadi kebiasaan. Jangan nunggu ‘besok’. Mulai dari porsi makan hari ini”.

Hari ini Zaha masuk kelas dengan tubuh lebih ringan dan hati yang lebih lapang. Bedanya, sekarang senyum itu membawa cerita. Ya, cerita tentang usaha yang tidak sia-sia. Untuk kamu yang merasa “Aku nggak bisa” atau memberikan komentar toxic dari yang lain “Mustahil segemuk ini bisa kurus”.

Ingat Zaha. Ingat, 20kg yang hilang. Ingat, satu keluarga yang berubah karena satu orang yang berani memulai. Tubuh adalah amanah. Karena ketika kita menjaga amanah Allah, maka Allah akan menjaga kita. Semangat!

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp