Membangun Budaya Literasi di Sekolah

Membangun Budaya Literasi di Sekolah

Oleh Imam Nur Suharno

Tanpa budaya membaca dan menulis mustahil Indonesia dapat menjadi bangsa maju. Di sinilah pentingnya gerakan nasional literasi yang melibatkan penerbit, sekolah, pemerintah, guru, dan masyarakat.

Literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami informasi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dalam era digital ini, literasi menjadi semakin penting karena kita dihadapkan dengan banyak informasi yang harus diolah dan dipahami. Oleh karena itu, membangun budaya literasi di sekolah sangat penting untuk membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak.

Berkaitan membangun budaya literasi, Islam telah menekankan pentingnya literasi. Saking pentingnya literasi (kemampuan membaca dan menulis) hingga diperintahkan secara langsung dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5.

Mengapa budaya literasi penting di Sekolah? Hal ini karena beberapa alasan, antara lain: budaya literasi dapat meningkatkan kemampuan akademis siswa, seperti kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi; dapat membantu membangun karakter siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif; dan dapat meningkatkan kualitas hidup siswa, seperti kemampuan mengelola informasi, membuat keputusan, dan berkomunikasi secara efektif.

Menurut hemat penulis, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangun budaya literasi di sekolah, selain dengan keteladanan dari civitas sekolah dan apresiasi nyata dari pengambil kebijakan. Yaitu: membuat program literasi yang terstruktur dan terintegrasi dengan kurikulum; menyediakan bahan bacaan yang beragam dan menarik bagi siswa; mengadakan kegiatan literasi, seperti lomba membaca, menulis, dan debat; serta melibatkan orang tua dalam kegiatan literasi di sekolah.

Sebagai upaya saling berbagi pengalaman dalam literasi, penulis sedikit memberikan tips dalam bentuk rumus literasi yaitu rumus N-4 (Ningali, Niteni, Niru, dan Nambahi) sebagai metode untuk meningkatkan kemampuan literasi.

Pertama, NINGALI. Ningali adalah membaca dengan kesadaran dan perhatian. Ningali merupakan konsep yang menekankan pentingnya membaca dengan kesadaran dan perhatian yang tinggi. Dalam konteks literasi, ningali dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca tidak hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati dan pikiran. Ningali dapat diuraikan menjadi beberapa aspek penting dalam literasi, yaitu kesadaran, perhatian, pemahaman, dan refleksi. Dengan ningali, seseorang dapat meningkatkan kemampuan literasi dan memahami teks dengan lebih baik. Juga mengembangkan kemampuan analisis, kritis, dan kreatif.

Kedua, NITENI. Niteni adalah mengingat dengan penuh perhatian. Niteni menekankan pentingnya mengingat hasil bacaan dengan penuh perhatian dan kesadaran. Dalam konteks literasi, niteni dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengingat kembali hasil bacaan tidak hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati dan pikiran. Niteni dapat diuraikan menjadi beberapa aspek penting dalam literasi, yaitu N – Nalar (logika), I – Imaji (imajinasi), T – Teks (teks itu sendiri), E – Emosi (emosi), N – Niat (niat dan tujuan), dan I – Introspeksi (introspeksi).

Ketiga, NIRU. Niru adalah meniru dan mengikuti. Niru menekankan pentingnya meniru dan mengikuti contoh yang baik. Dalam konteks literasi, niru dapat diartikan sebagai kemampuan untuk meniru dan mengikuti gaya penulisan, struktur, dan teknik yang digunakan oleh penulis lain. Niru dapat diuraikan menjadi beberapa aspek penting dalam literasi, yaitu meniru gaya penulisan, mengikuti struktur, dan menggunakan teknik. Dengan menerapkan niru, seseorang dapat meningkatkan kemampuan menulis dan menghasilkan karya yang lebih baik.

Keempat, NAMBAHI. Nambahi adalah menambahkan dan mengembangkan sesuatu. Dalam konteks literasi, nambahi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menambahkan dan mengembangkan ide, gagasan, atau konsep yang sudah ada. Nambahi dapat diuraikan menjadi beberapa aspek penting dalam literasi, yaitu mengembangkan ide, menambahkan informasi, dan meningkatkan kualitas.

Jika upaya membangun budaya literasi ini terus dilakukan secara konsisten, terukur, terevaluasi secara masif, apresiasi yang memotivasi, dan teladan nyata dari lingkungan, maka budaya literasi di sekolah akan dapat terwujud sehingga mampu membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak. Semoga.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp