
Semarak Hari Santri Nasional 2026, MPDI Gelar Seminar Kebangsaan Bersama Hidayat Nur Wahid di Husnul Khotimah
KUNINGAN — Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) menggelar rangkaian kegiatan Semarak Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, pada Rabu–Kamis, 21–22 Oktober 2026. Salah satu agenda utamanya adalah seminar kebangsaan yang menghadirkan Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, Lc., MA, dan Ketua STISHK Kuningan, Assoc. Prof. Dr. Mualim, S.Pd.I., M.A., dengan pembahasan mengenai Empat Pilar Kebangsaan dan peran pesantren dalam memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara.
Seminar ini mengangkat semangat peran santri dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Melalui sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, para santri diajak memahami keterkaitan nilai-nilai keislaman, tradisi pesantren, dan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam pemaparannya, Dr. Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para ulama, kiai, dan santri. Peran tersebut terlihat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk melalui Resolusi Jihad yang menjadi salah satu tonggak penting perjuangan bangsa.
Ia juga menyoroti dukungan negara terhadap pesantren, antara lain melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dana abadi pesantren, serta penguatan kelembagaan melalui Direktorat Jenderal Pesantren. Menurutnya, dukungan tersebut perlu diikuti dengan kontribusi nyata pesantren dalam menghadapi tantangan zaman.
Dr. Hidayat mengajak kalangan pesantren untuk mengambil peran dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer, seperti narkoba, judi daring, kejahatan terhadap anak, korupsi, kerusakan lingkungan, serta kemerosotan moral dan etika. Semangat perjuangan santri, menurutnya, perlu diteruskan melalui upaya menjaga bangsa dari berbagai bentuk penjajahan modern.
Sementara itu, Dr. Mualim, M.Pd., dalam pemaparannya tentang peran pesantren dalam penguatan Empat Pilar Kebangsaan, menjelaskan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren memiliki hubungan erat dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Ia mencontohkan, tradisi tauhid sejalan dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sedangkan musyawarah, kesederhanaan, dan gotong royong yang hidup dalam keseharian santri merupakan praktik nilai kebangsaan. Menurutnya, pesantren bukan sekadar tempat untuk menghafal nilai-nilai Pancasila, melainkan ruang untuk menghidupkan dan mengamalkannya.
Dr. Mualim juga menyebut pesantren sebagai laboratorium kebangsaan. Keragaman asal daerah santri serta pembiasaan sikap moderat, seperti tawasuth, tawazun, dan tasamuh, menjadi modal penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Namun, ia mengingatkan adanya tantangan berupa radikalisme digital, penyebaran hoaks, disinformasi, dan polarisasi di media sosial. Karena itu, pesantren perlu memperkuat literasi digital dan membimbing santri agar mampu menyaring informasi secara kritis.
Ketua Umum Pengurus Pusat MPDI, KH. Ayi Abdul Rosyid, Lc., M.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menyambut Hari Santri Nasional. Pondok Pesantren Husnul Khotimah dipilih karena memiliki nilai historis bagi MPDI dan Dr. Hidayat Nur Wahid, yang turut merintis berdirinya pesantren tersebut dan pernah menjadi pembina dalam kurun waktu yang panjang.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah untuk memperluas wawasan dan ruang kepemimpinan santri. Melalui Forum Organisasi Santri Dai Indonesia (FOSDI), para santri diharapkan tidak hanya berkiprah di lingkungan pesantren masing-masing, tetapi juga mampu berkontribusi dalam forum yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hidayat Nur Wahid juga memberikan penghargaan kepada dua Guru Inspirasi dari Pondok Pesantren Husnul Khotimah, yaitu Ust. H. Gani Syamsudin, M.Pd., dan Ustzh. Mia Rusmia, M.Pd..
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian panjang keduanya dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Melalui kinerja, komitmen, dan kontribusi yang luar biasa, keduanya telah menunjukkan keteladanan dalam menjalankan peran sebagai pendidik.
Ketua Panitia Semarak HSN, Ust. Latipudin, S.Psi., M.Pd.I., menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari. Selain seminar kebangsaan, agenda hari pertama meliputi konser amal peduli Palestina dan korban musibah di Indonesia bersama Azzam Haroki.
Pada Kamis (22/10), kegiatan dilanjutkan dengan upacara Hari Santri Nasional, Semarak Gebyar HSN, dan pelantikan struktur FOSDI. Rangkaian kegiatan ini diharapkan memperkuat semangat santri untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

