MENGENDALIKAN NAFSU, MENJAGA PERSAHABATAN

MENGENDALIKAN NAFSU, MENJAGA PERSAHABATAN

Oleh Kiai Mulyadin, Lc., M.H.

 

Pesantren bukan hanya tempat untuk menghafal Al-Qur’an dan belajar kitab. Pesantren adalah madrasah akhlak. Tempat kita belajar menaklukkan diri sendiri sebelum menaklukkan dunia. Karena musuh yang paling dekat dengan kita bukan orang lain. Musuh kita adalah nafsu yang ada di dalam dada kita sendiri.

Nafsu yang tidak dikendalikan akan menjadi api. Nafsu ingin menang sendiri. Nafsu ingin dihargai. Nafsu ingin menyalahkan. Nafsu ingin membalas saat diejek sedikit saja. Jika nafsu dituruti, maka yang keluar dari lisan adalah ghibah. Dari tangan muncul dorongan. Dari hati lahir rasa benci. Dari situlah lahir yang disebut hari ini, yaitu pembulian.

Mengejek teman karena logatnya. Mengucilkan karena bajunya lusuh. Mengunggah aib teman karena marah sesaat. Padahal Rasulullah bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak mendzalimi dan tidak membiarkannya didzalimi”.

Jika kalian membuli teman, berarti kalian sedang merusak persahabatan dengan tangan kalian sendiri. Santri sejati mempunyai tiga rem. Bagaimana cara mengendalikannya? Ustadz titip tiga rem kepada kalian. Jagalah baik-baik.

Pertama, rem lisan. Sebelum berbicara, timbang terlebih dahulu. Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini baik? Jika tidak lolos tiga hal ini, maka diam itu lebih mulia. Karena satu kata bisa menyembuhkan, tapi satu kata juga bisa melukai persahabatan.

Kedua, rem hati. Ketika ada teman yang menjengkelkan, tarik nafas panjang. Ingat, dia adalah titipan Allah di pesantren yang sama dengan dirimu. Dia teman seperjuanganmu dalam belajar. Dia teman dalam saling membangunkan untuk shalat Tahajud. Masa karena berbeda pendapat, persaudaraan menjadi rusak?

Ketiga, rem tangan. Jangan sampai tangan yang seharusnya dipakai untuk mengangkat mushaf, digunakan untuk mendorong teman. Jangan sampai jari yang semestinya digunakan untuk menulis, digunakan untuk menulis komentar yang menyakitkan teman.

Di pesantren kalian belajar ilmu beladiri. Tetapi guru kalian yang paling hebat adalah Rasulullah. Beliau paling kuat, tapi paling lembut. Beliau paling berhak marah, tapi paling banyak memaafkan. Santri yang hebat bukan yang ditakuti karena suaranya paling keras di asrama. Santri yang hebat adalah yang dinanti nasihatnya, karena lisannya yang menyejukkan.

Anak-anakku, jika ada di antara kalian yang pernah menyakiti teman, segera meminta maaf. Jika ada yang pernah disakiti, segera memaafkan. Jangan bawa dendam sampai lulus. Karena bekal kalian pulang bukan hanya ijazah, tapi juga hati yang bersih.

Pesantren akan menjadi jaya jika santrinya mulia akhlaknya. Indonesia akan damai jika generasi pesantrennya mampu mengendalikan diri. Mari kita jaga pesantren ini seperti kita menjaga rumah kita sendiri. Tidak ada yang memusuhi. Tidak ada yang membuli. Yang ada hanya saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling mendoakan.

Semoga Allah menjadikan kalian semua santri yang saleh dan cerdas. Aamiin.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp