
HIKMAH LISAN DAN KEMULIAAN AKHLAK
Oleh Eni Raeni
Gesekan dengan teman adalah hal yang biasa. Kadang hanya karena perbedaan pendapat, suasana yang semula tenang dapat berubah menjadi panas. Hal ini pun pernah terjadi pada masa sahabat Nabi Saw.
Suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari terlibat perdebatan dengan Bilal bin Rabah. Dalam perdebatan itu, emosi Abu Dzar naik. Tanpa sempat menahan lisan, Abu Dzar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Ia mencela Bilal dengan membawa-bawa warna kulit dan latar belakang ibunya. Ia berkata, “Wahai anak wanita hitam”.
Bagi sebagian orang, mungkin kata-kata itu dianggap sebagai luapan emosi sesaat. Tetapi bagi Bilal, ucapan itu menusuk hatinya. Bukan sekadar hinaan, tetapi seperti membuka kembali luka lama tentang status sosial, keturunan, dan masa lalunya sebagai seorang budak.
Bilal tidak membalas dengan hinaan. Ia tidak memperpanjang perdebatan. Dengan hati yang terluka, ia pergi menemui Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah mendengar kejadian tersebut, beliau tidak menganggapnya sebagai candaan. Beliau tidak membiarkannya berlalu. Rasulullah segera memanggil Abu Dzar.
Di hadapan Nabi, Abu Dzar mendapatkan teguran. Rasulullah Saw., bertanya kepadanya, “Apakah ia menghina Bilal karena ibunya?” Lalu beliau menyampaikan bahwa dalam diri Abu Dzar masih ada sifat jahiliyah.
Mendengar kata-kata itu, Abu Dzar sangat terkejut. Ia bukan orang biasa. Ia adalah sahabat Nabi. Ia telah beriman, berjuang, dan hidup bersama Islam. Tetapi satu kalimat yang keluar dari lisannya cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada sisa kesombongan yang harus dibersihkan dari hatinya.
Dengan penuh penyesalan, Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah, “Apakah sifat jahiliyah itu masih ada pada dirinya padahal usianya sudah tua?” Rasulullah Saw., menjawab dengan tegas, “Iya”. Jawaban itu menjadi tamparan bagi Abu Dzar. Namun yang luar biasa, ia tidak membela diri. Ia tidak berkata, “Saya hanya bercanda”. Ia juga tidak berkata, “Saya sedang emosi”.
Abu Dzar menerima teguran itu. Ia sadar bahwa lisan yang merendahkan orang lain bukan perkara ringan. Ia pun menyesal, meminta maaf, dan memperbaiki sikapnya.
Kisah ini tampak sederhana, tetapi memberikan pesan yang sangat dalam. Terkadang kita merasa ucapan kita biasa saja. Kita menyebut fisik teman, warna kulit, keadaan ekonomi, keluarga, atau masa lalunya dengan nada canda. Namun, kita lupa bahwa tidak semua luka terlihat di wajah. Ada kata yang terdengar ringan bagi pengucapnya, tapi berat bagi orang yang menerimanya.
Lebih buruk lagi, ketika orang lain sakit hati, kita sering berlindung di balik kalimat, “Ah, baper banget”. Padahal Rasulullah tidak pernah membenarkan hinaan yang merendahkan martabat orang lain. Bahkan seorang sahabat mulia pun ditegur keras ketika lisannya menyakiti orang lain.
Maka, berhati-hatilah dengan ucapan. Jangan merasa lebih mulia hanya karena keluarga, warna kulit, harta, kedudukan, atau penampilan. Semua itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usulnya, tetapi oleh ketakwaannya. Dan salah satu tanda takwa adalah mampu menjaga lisan agar tidak melukai sesama.

