
Gerakan Talbiyah Bahasa
Oleh Kosim
Membangun kebiasaan Bahasa Arab lewat tradisi bersama. Kita tahu, salah satu sunnah yang sangat dianjurkan pada saat pelaksanaan ibadah haji dan umroh adalah memperbanyak membaca talbiyah. “Labbaika Allahumma Labbaik …” Dikumandangkan secara bersama dan diulang-ulang dengan penuh semangat.
Spirit inilah yang ingin kita hidupkan di dunia pendidikan, khususnya dalam pelajaran Bahasa Arab. Coba perhatikan, setiap pagi, saat santri keluar dari kamar menuju kelas, tidak ada lagi langkah yang hening, dilantunan satu kalimat Bahasa Arab dikumandangkan bersama. Dipandu bagian bahasa sebagai Muthowif. Sama seperti pemandu jamaah umroh dan haji. Dan santri dari belakang mengikuti dengan suara lantang dan penuh semangat.
Mengapa dilakukan bersama-sama? Kita yakin, segala sesuatu yang dilakukan ramai-ramai akan terasa ringan. Tidak ada beban, yang ada hanya kebersamaan dan keceriaan. Inilah salah satu cara kita menjadikan Bahasa Arab bukan sebagai pelajaran yang menakutkan, tapi menyenangkan sekaligus syiar. Syiar menghidupkan lingkungan berbahasa di pesantren.
Berikut penulis sajikan teknis pelaksanaannya. Pertama, menyiapkan kalimat Bahasa Arab. Sebelum santri berangkat ke kelas, Muthowif sudah menyiakan satu kalimat Bahasa Arab yang akan dihafal bersama. Ketika santri berangkat ke kelas, Muthowif memandunya dan santri mengikuti secara serentak dan berulang sepanjang perjalanan menuju ke kelas.
Kedua, setoran kalimat Bahasa Arab yang di-talbiyah-kan. Tiba di depan kelas, sebelum masuk dalam kelas, setiap santri menyetorkan kalimat yang “di-talbiyah-kan” kepada Muthowif. Tujuan akhirnya adalah membiasakan telinga santri untuk mendengar dan membiasakan lisan santri untuk melafalkan. Hingga akhirnya, kalimat Bahasa Arab yang di-talbiyah-kan mengalir di lisan santri.
Dengan pembiasaan melalui talbiyah, maka lisan santri akan terbiasa melafalkan Bahasa Arab tanpa dipaksakan. Karena bahasa tidak akan hidup hanya di buku. Bahasa hidup ketika ia diucapkan bersama.
Selamat untuk mencoba! Semoga tradisi baru ini bisa menjadi salah satu sarana untuk membangun keberanian santri untuk bercakap-cakap dengan Bahasa Arab sehingga terciptanya lingkungan bahasa di pesantren. Semoga.

