Upacara Hari Santri di Husnul Khotimah, 18 Pesantren MPDI Teguhkan Semangat Persatuan

Upacara Hari Santri di Husnul Khotimah, 18 Pesantren MPDI Teguhkan Semangat Persatuan

KUNINGAN – Lapangan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK), Pondok Pesantren Husnul Khotimah, menjadi tempat pelaksanaan Upacara Hari Santri Nasional (HSN) 2026 pada Kamis (22/10. Kegiatan ini diikuti para santri Husnul Khotimah serta perwakilan pesantren anggota Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI).

Upacara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Semarak Hari Santri Nasional MPDI yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus memperkuat komitmen santri dalam mengisi pembangunan bangsa.

Upacara berlangsung khidmat dengan rangkaian acara meliputi pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, pembacaan Resolusi Jihad, serta ikrar santri. Acara dilanjutkan dengan amanat inspektur upacara, Kiai Mulyadin, Lc., M.H., menyanyikan Mars Hari Santri, dan ditutup dengan doa.

Suasana upacara terasa khas pesantren. Para santri yang bertugas sebagai pengibar bendera tampil mengenakan sarung, jas, dan peci. Pakaian serupa juga dikenakan para santri dan ustaz yang mengikuti upacara. Penampilan tersebut mencerminkan identitas santri yang berpadu dengan semangat nasionalisme dan penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu.
Dalam amanatnya, Kiai Mulyadin menegaskan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar mengikuti upacara seremonial, melainkan momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri, memperbarui ikrar pengabdian, serta menjawab panggilan sejarah untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

default

Ia mengingatkan bahwa perjuangan santri saat ini memiliki tantangan berbeda dari masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu para ulama dan santri berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan jiwa dan raga, kini santri dituntut mengisi kemerdekaan melalui ilmu, prestasi, kejujuran, kedisiplinan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Jangan pernah merasa kecil atau malu menjadi santri. Pesantren bukan tempat untuk bersembunyi dari zaman, melainkan tempat menyiapkan generasi yang mampu menghadapi zaman dengan iman, ilmu, dan akhlak,” pesannya.

Kiai Mulyadin juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan dan akhlak. Menurutnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga pribadi yang jujur, peduli, adil, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Dalam menghadapi derasnya arus informasi digital, ia mengajak para santri menjadi penebar ilmu, bukan penyebar fitnah; menjadi penyejuk, bukan penyulut kebencian; serta menjadi perekat persaudaraan, bukan pemicu perpecahan. Santri juga diingatkan agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Jangan menunggu besar untuk berbuat, jangan menunggu jabatan untuk mengabdi, dan jangan menunggu sempurna untuk membuat kebaikan. Mulailah dari hal kecil, dari kamar, kelas, masjid, kantin, dan pesantren,” tegasnya.

Kebersamaan para santri dari berbagai daerah dalam rangkaian Semarak Hari Santri Nasional MPDI menjadi salah satu pesan penting dalam peringatan tahun ini. MPDI menghimpun 18 pesantren yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Maluku dan Papua.

Ke-18 pesantren tersebut adalah:

  • Pondok Pesantren Perguruan Islam Ar-Risalah, Padang, Sumatera Barat.
  • Pondok Pesantren Insan Cendikia Boarding School, Payakumbuh, Sumatera Barat.
  • Pondok Pesantren Baitul Quran, Riau.
  • Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Sumatera Selatan.
  • Pondok Pesantren Nurul Fikri Boarding School, Serang, Banten.
  • Pondok Pesantren Darul Quran Mulia, Bogor, Jawa Barat.
  • Pondok Pesantren Asyifa, Subang, Jawa Barat.
  • Pondok Pesantren Baitul Quran, Purwakarta, Jawa Barat.
  • Pondok Pesantren Al-Hikmah, Cirebon, Jawa Barat.
  • Pondok Pesantren Al-Multazam, Kuningan, Jawa Barat.
  • Pondok Pesantren Husnul Khatimah, Kuningan, Jawa Barat.
  • Pondok Pesantren Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah.
  • Pondok Pesantren Ihsanul Fikri, Magelang, Jawa Tengah.
  • Pondok Pesantren Nurul Islam, Yogyakarta.
  • Pondok Pesantren Darul Uquwa, Malang, Jawa Timur.
  • Pondok Pesantren Labbaik Indonesia, Pontianak, Kalimantan Barat.
  • Pondok Pesantren Darul Quran Mubarak, Maluku.
  • Pondok Pesantren Ulil Albab, Sentani, Jayapura.

Kebersamaan lintas daerah ini diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun kolaborasi dakwah, mengembangkan literasi, memperluas kepedulian sosial, serta menghadirkan dakwah digital yang mencerahkan. Persatuan juga menjadi modal penting bagi pesantren untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan umat dan bangsa.

Upacara yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube HKTV Husnul Khotimah turut mendapat respons positif dari penonton. Salah satunya disampaikan oleh akun @tinrostini5922, yang menuliskan doa dan harapan bagi para santri Husnul Khotimah.

“Barakallah untuk para santri Husnul Khotimah. Semoga menjadi pejuang dakwah dan penerus perjuangan para nabi dalam mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tulisnya di kolom komentar.

Ungkapan tersebut mencerminkan harapan agar para santri tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu melanjutkan perjuangan dakwah dan memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Menutup amanatnya, Kiai Mulyadin mengajak seluruh santri untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan dan bagian dari solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional ini, semangat perjuangan diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal iman, ilmu, akhlak, dan kerja keras, santri diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, bermartabat, dan diridai Allah SWT.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp