
Alumni Brosur Berjalan Bagi Pesantren
Beberapa waktu yang lalu, Divisi Humas dan Dakwah (HUDA) Yayasan Husnul Khotimah Kuningan (HK) menyelenggarakan silaturahmi secara virtual dengan para alumni. Pertemuan tersebut secara khusus mengundang para wali santri yang juga merupakan alumni HK dari berbagai angkatan.
Acara yang dipandu oleh Iyan Mulyana, M.Pd. selaku Kepala Urusan Alumni HK, menekankan pentingnya menjalin silaturahim dan interaksi antara pesantren sebagai almamater dengan alumni yang kini telah menjadi bagian dari keluarga besar HK kembali.
Ada hal menarik yang perlu dicermati bersama arahan dari Kepala Divisi HUDA, KH Imam Nur Suharno, bahwa alumni merupakan “anak ideologis’ HK yang menjadikan pesantren berkedudukan sebagai “kakek” setelah alumni memondokkan anak-anaknya di HK.
Kiai Imam menegaskan bahwa alumni adalah “brosur berjalan” bagi pesantren. Alumni sebagai salah satu aset berharga bagi pesantren. Alumni adalah hasil dari proses pendidikan yang telah dijalani, dan menjadi representasi dari kualitas dan nilai-nilai yang diajarkan oleh pesntren. Oleh karena itu, baik dan buruknya alumni dapat berdampak langsung pada baik dan buruknya pesantren.
Alumni dengan perannya di masyarakat adalah brosur hidup bagi pesantren. Alumni menjadi contoh bagi generasi berikutnya, yang menunjukkan bahwa pesantren mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan kompeten. Jika sebaliknya, maka dapat merusak reputasi pesantren.
Peran alumni tidak hanya berhenti pada representasi pesantren saja. Mereka juga dapat menjadi duta bagi pesantren, membantu mempromosikan pesantren kepada masyarakat luas, dan bahkan membantu meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagi pengalaman dan keahlian mereka.
Dalam era digital ini, reputasi pesantren dapat dengan mudah tersebar melalui media sosial dan platform online lainnya. Karena itu, pesantren harus lebih proaktif dalam memantau dan memastikan bahwa mereka menjadi representasi positif bagi pesantren. Dengan demikian, pesantren dapat meningkatkan reputasi dan daya tariknya, serta menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk memondokkan anaknya di pesantren.
Selain itu, dalam upaya memperkuat citra positif pesantren pun perlu digagas sebuah proyek literasi alumni. Para alumni hendaknya mau meluangkan waktu untuk menuliskan pengalamannya selama mondok di pesantren. Selanjutnya, hasil literasi alumni ini dikompilasi menjadi sebuah buku antologi berjudul “Indahnya Mondok di HK” sebagai sarana dakwah dan membumikan pesantren di tengah masyarakat.
Jika para alumni pesantren mampu memerankan perannya di tengah masyarakat sesuai pofesinya masing-masing serta terdokumentasikannya hasil literasi alumni maka alumni benar-benar dapat menjadi brosur efektif bagi pesantren. Semoga.

