Setelah Putri, Kini Giliran Santri Putra Perkuat Benteng Moral Pasca-Pesantren

Setelah Putri, Kini Giliran Santri Putra Perkuat Benteng Moral Pasca-Pesantren

KUNINGAN – “Dunia luar tidak seperti di pondok yang semuanya serba diatur,” sebuah kalimat pembuka yang menyentak kesadaran ratusan santri putra kelas 12 MA Husnul Khotimah dalam acara Dauroh Akhir 2026 di Kuningan Islamic Center (KIC), Senin (16/2).

Setelah sebelumnya para santri putri dibekali dengan sudut pandang inspirasi muslimah dengan narasumber Fitri Dzariyyatinnisa dan Wafiyah Ahdiyah sesi putra kali ini hadir dengan narasi yang lebih “berani” dan filosofis. Tiga alumni lintas generasi hadir bukan sekadar memberi tips kuliah, melainkan membedah realitas dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

Gizi Hati dan Ujian “Noise” Lingkungan

Habli Robbi Waliyya, alumni yang kini tengah menempuh jalur doktoral, membuka sesi dengan simulasi “mata tertutup”. Ia memperingatkan bahwa musuh terbesar di luar sana adalah noise atau gangguan lingkungan yang bisa membelokkan fokus tujuan.

“Bayangkan tubuh kita ini ada tiga: fisik, akal, dan hati. Seringkali kita kalah oleh nafsu karena akal kita sudah kering kerontang dan hati kita kurus, sementara yang gemuk hanya fisiknya doang,” ungkap Habli. Ia menekankan bahwa ketahanan pembinaan diri (tarbiyah) akan diuji saat godaan dunia mulai “merusuh” di belakang langkah mereka.

Kebebasan Tanpa batas adalah “ancaman” Sebenarnya

Berpindah ke tantangan dunia kampus, Yusuf Islahuddin membedah paradoks kebebasan yang sering diidamkan santri. Bagi Yusuf, kebebasan tanpa batas justru adalah ancaman bagi diri sendiri.

“Nanti di kampus kalian akan lebih bebas. Permasalahannya, kebebasan tanpa batas itu adalah penjahat sebenarnya. Suka tidak suka, hidup ini butuh batasan agar tidak merusak diri sendiri,” tegasnya. Yusuf juga menantang para santri untuk menjadi “Dampak”, bukan sekadar angka di bangku kuliah. “Kalau kuliah hanya sekadar duduk, semut juga bisa. Anda harus punya terobosan melalui enam unsur Hexa Helix—mulai dari industri hingga media.”

Ia pun mengingatkan pentingnya identitas Nahnu Du’at (Kita adalah penyeru). “Kalau kita berada di jalan dakwah, kita akan malu untuk bermaksiat. Itu adalah benteng bagi diri kita sendiri.”

Menghadapi Era “Monster” dan Proyek Peradaban

Puncak dauroh diisi dengan orasi bernas dari Edgar Hamas. Dengan gaya bicaranya yang khas, Edgar memperingatkan santri bahwa dunia lama sedang sekarat dan dunia baru sedang berjuang lahir di tengah “masa para monster” (kekacauan).

“Orang-orang yang memondokkan dirinya adalah orang-orang yang merencanakan penderitaannya. Lebih baik kalian merencanakan penderitaan dan terbiasa dengannya, daripada tiba-tiba terjeblos tanpa persiapan,” ujar Edgar merujuk pada ketatnya disiplin pesantren sebagai latihan mental.

Edgar juga membawa perspektif baru tentang pernikahan bagi kaum muda. Baginya, menikah bukan sekadar soal rasa suka, melainkan urusan menyelamatkan peradaban. “Menikah adalah memastikan akan ada orang-orang yang meneruskan sujudnya saya ketika saya sudah mati. Nikahilah mereka yang punya proyek hidup, agar dua proyek manusia bersatu menjadi proyek besar keluarga dakwah.”

Menuju Gerbang Pengabdian

Acara yang dibuka resmi oleh Ustadz Mulyadin ini ditutup dengan sesi halaqah intensif bersama pembina.

Dauroh ini menjadi pengingat keras bagi angkatan 2026: bahwa keluar dari Husnul Khotimah bukan berarti “merdeka” dari aturan Allah, melainkan memulai perjuangan mandiri untuk tetap tegak di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP