
Tadrib Bahasa Arab HK, Perkuat Bi’ah Bahasa Pesantren
KUNINGAN — Upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Arab di lingkungan Pondok Pesantren Husnul Khotimah terus dikembangkan. Memasuki tahun pelajaran 2026–2027, Divisi Human Resource Development (HRD) kembali menyelenggarakan program Tadrib Bahasa Arab bagi para pegawai yang berinteraksi langsung dengan santri.
Program ini diperuntukkan bagi staf Klinik, Tata Usaha (TU), Keuangan, PIP, serta Huda, baik ikhwan maupun akhwat. Pemilihan segmen tersebut didasarkan pada intensitas interaksi mereka dengan para santri dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Kegiatan Tadrib Bahasa Arab tahun ini dibagi menjadi tiga rombongan belajar (rombel), yang masing-masing beranggotakan sekitar 15 peserta. Pembelajaran dilaksanakan setiap Rabu, Kamis, dan Sabtu, dengan pengajaran dibimbing oleh Ustaz Supeno, Lc, MA. dan bertempat di Ruang Diklat HRD.
Kadiv HRD dan Personlia, H. Sanwani, S.H., menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan kompetensi pegawai, khususnya dalam kemampuan berbahasa Arab.
“Program ini diharapkan dapat meningkatkan kafaah berbahasa para pegawai, terutama dalam bahasa Arab. Karena mereka bersentuhan langsung dengan santri, kemampuan tersebut juga diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan berbahasa di kantor maupun di lingkungan pesantren,” ujarnya.
Program Tadrib Bahasa Arab bukanlah program yang baru dimulai. Pada tahun sebelumnya, kegiatan serupa telah berjalan bagi unit Pembinaan Putra dan Pembinaan Putri. Tahun ini, cakupan peserta diperluas kepada sejumlah staf yang memiliki intensitas interaksi cukup tinggi dengan santri.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran menggunakan metode muhadasah (percakapan) dan muthala’ah (membaca). Metode tersebut diharapkan membuat peserta tidak hanya memahami bahasa Arab secara teoritis, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.
Ustaz Arsyidi, M.Pd., Kaur HRD sekaligus Penanggung Jawab kegiatan, mengatakan bahwa pembiasaan menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kemampuan berbahasa.
“Harapannya bukan sekadar peserta mengetahui bahasa Arab, tetapi mampu menggunakannya dalam keseharian. Dari situ diharapkan terbentuk bi’ah atau lingkungan berbahasa yang mendukung, baik di kantor maupun di lingkungan pesantren,” jelasnya.
Lebih jauh, program ini juga diarahkan untuk membudayakan bahasa Arab sebagai bahasa yang memiliki kedekatan erat dengan ajaran Islam. Kemampuan berbahasa Arab diharapkan dapat membantu para pegawai dalam memahami sumber-sumber keislaman, termasuk memudahkan mereka dalam menerjemahkan dan memahami Al-Qur’an.
“Bahasa Arab merupakan bahasa agama Islam. Karena itu, penguasaan bahasa Arab bagi para pegawai di lingkungan pesantren bukan hanya berkaitan dengan keterampilan komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemahaman terhadap nilai-nilai Islam,” tambah Ustaz Arsyidi.
Melalui Tadrib Bahasa Arab 2026–2027, HRD berharap kemampuan berbahasa Arab para pegawai semakin meningkat dan penggunaannya menjadi bagian dari budaya keseharian. Dengan demikian, interaksi antara pegawai dan santri dapat semakin mendukung terciptanya bi’ah lughawiyyah yang hidup di lingkungan Pondok Pesantren Husnul Khotimah.

