Circle Hidup Kita: Kompas untuk Masa Depan

Circle Hidup Kita: Kompas untuk Masa Depan

Oleh Gozali

Di era yang serba instan ini, circle sering terasa seperti identitas. Siapa teman kita, di mana kita ngumpul, dan apa yang kita bahas, semua bisa jadi label. Tapi label itu terkadang menipu. Ada circle yang kelihatan seru, tapi pelan-pelan menggerus etika dan prinsip. Ada yang banyak teman, tapi malah bikin hati makin kosong. Ada yang katanya healing, padahal diam-diam menjauhkan diri dari Allah SWT.

Islam telah mengajarkan sesuatu yang menyentuh jiwa kita, dan menenangkan, yaitu bahwa ukhuwah itu bukan sekadar relasi sosial, namun ia adalah amanah iman. Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya orang- orang beriman itu adalah bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).

Persaudaraan bukan sekadar perasaan cocok, tapi ia adalah ikatan yang harus dijaga dengan etika, tanggung jawab, dan tujuan yang jelas yaitu menuju ridha AllahSWT. Circle kita itu kompas, bukan dekorasi, jika kompasnya benar, mungkin kita tidak selalu banyak teman, tapi kita akan sampai. Namun, jika kompasnya rusak, perjalanan kita barangkali terlihat asyik, padahal sebenarnya arah kita itu salah.

Sebenarnya, yang membuat ukhuwah menjadi istimewa karena sumbernya. Allah SWT mengingatkan bahwa menyatukan hati bukan perkara kemampuan manusia semata, kata Allah SWT: “Seandainya antum membelanjakan semua yang ada di bumi, antum tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah yang mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 63).

Jadi ketika kita dipertemukan dengan teman yang menjaga shalat kita, membuat pikiran tenang, dan membantu kita beretika, maka itu bukanlah sebuah kebetulan. Tapi, itu adalah nikmat. Nikmat selalu memiliki konsekuensi, yaitu ia harus dijaga dan bukan disia-siakan.

Ketahuilah, pertemanan itu menular. Nabi SAW bersabda, “Seseorang itu mengikuti agama (cara hidup) teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.”

Kalimat ini tidak untuk membuat kita paranoid, tapi untuk membuat kita sadar. Karena yang sering kita dengar akan terasa normal, yang sering kita lihat akan terasa wajar, dan yang sering kita ikuti, lama-lama akan terasa benar. Kita bukan cuma punya teman, kita sedang memilih versi diri untuk hari besok.

Sebenarnya, kita bisa mengukur circle kita dengan pertanyaan sederhana, yaitu setelah bareng mereka, kita lebih mudah shalat atau lebih mudah menunda? Lebih mudah menjaga lisan atau makin terbiasa ghibah? Ukhuwah yang sehat biasanya tidak membuat kita jadi lebih hebat dari orang lain, tapi membuat kita jadi lebih jujur pada diri sendiri.

Nabi SAW dalam Riwayat Imam Bukhari memberikan perumpamaan yang sangat visual, yaitu bahwa: teman yang baik itu adalah ibarat penjual parfum, kita bakal bisa kebagian wangi darinya. Dan, teman yang buruk itu seperti pandai besi, kita bakal bisa terkena percikan api dari dia atau minimal bau asap.

Pesannya jelas, dekat itu berpengaruh dan membekas. Jika setelah ngumpul iman kita ‘bau asap’, itu bukan healing, tapi itu kebakaran pelan-pelan. Circle yang benar bukan selalu membenarkan, tapi yang berani mengingatkan. bukan yang membuat kita merasa bebas, tapi yang membantu kita tetap terjaga.

Ukhuwah yang sehat punya ciri khas, yaitu ia pandai menjaga rahasia, menutup aib, dan tidak berubah karena kepentingan. Circle yang hanya berkawan saat enak, menghilang saat kita jatuh, itu bukan ukhuwah, tapi relasi musiman. Ukhuwah yang diridhai adalah yang membuat kita belajar satu hal, yaitu mencintai karena Allah.

Pada akhirnya, memilih circle bukan soal gengsi, tapi keselamatan. Kadang Allah SWT mengurangi teman kita supaya iman tidak ikut tenggelam. Kadang Allah SWT membuat kita merasa sepi agar kita belajar membedakan mana yang riuh tapi merusak, dan mana yang sederhana tapi menyelamatkan.

Jika hari ini kita mulai menata circle, memilih yang memiliki etika dan prinsip, lebih menjaga, lebih menguatkan. Maka, jangan takut terlihat minus teman. Bisa jadi kita bukan kehilangan, tapi sebenarnya kita sedang naik level. Karena, circle kita sebagai kompas hidup kita.

 

 

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP