
KH IMAM: AMALAN PAHALANYA SETARA IBADAH HAJI
Maniskidul, Rabu, 29-4-2026, Majelis Taklim Daarul Ilmi Desa Maniskidul, Jalaksana, dipadati lebih dari 200 jamaah. Hadir para tokoh, ibu-ibu, dan bapak-bapak masyarakat desa Maniskidul. Di hadapan jamaah, KH. Imam Nur Suharno selaku Kepala Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah menyampaikan tausiyah yang menggugah: “Amalan Pahalanya Setara Ibadah Haji”.
Beliau membuka: “Bapak Ibu, tidak semua kita dipanggil ke Baitullah tahun ini. Ongkos mahal, antrian panjang, badan sudah sepuh. Tapi jangan kecil hati. Allah Maha Adil. Ada amalan ringan pahalanya dicatat di langit seperti orang haji mabrur. Berikut amalan yang disampaikan Kiai Imam, lengkap dengan dalilnya.
Pertama, Subuh berjamaah dan dzikir sampai syuruk serta shalat dua rakaat. Dalilnya:
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian shalat 2 rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah. Sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi).
“Ibu-Bapak, modalnya sabar. Selesai shalat Subuh berjamaah di masjid jangan langsung pulang. Duduk dulu di masjid, baca Al-Qur’an, istighfar, dzikir dan doa maupun mengikuti kultum Subuh. Nanti pas syuruq shalat 2 rakaat, maka berpahala setara ibadah haji.” Jelas KH Imam.
Kedua, melangkah ke Masjid untuk belajar atau mengajar. Dalilnya: “Siapa berangkat ke masjid pagi hari, niatnya hanya belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti orang haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani).
Ketiga, birrul walidain (bakti ke orang tua). Dalilnya: Seorang sahabat izin ikut jihad. Nabi SAW bertanya: “Apakah orang tuamu masih hidup?” Jawabnya: “Iya.” Nabi SAW bersabda: “Maka pada keduanya lah kamu berjihad.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Bapak Ibu, haji itu jihad. Tapi ada jihad yang lebih dekat: birrul walidain, merawat orang yang sakit, nyuapin Ibu yang sudah tua. Kita belum mampu badal haji untuk orang tua, tapi mampu mijitin kaki Ibu. Itu hajinya kita hari ini. Kata Nabi, itu lebih utama dari jihad.“ jelas Kiai Imam
Keempat, shalat 5 waktu berjamaah di Masjid. Dalilnya: “Siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang haji yang sedang ihram.” (HR. Abu Dawud).
“Bapak ibu wudhu dari rumah, lalu jalan ke masjid untuk shalat berjamaah, lima waktu. Berarti 5 kali haji, setahun 1825 kali haji. Kalau istiqamah 10 tahun, subhanallah. Malaikat bingung menghitungnya. Maka masjid jangan sampai kosong. Isi shafnya. Karena shaf masjid yang rapat itu tiket haji kita.” Tambah Kiai Imam.
Di akhir tausiyahnya, KH. Imam Nur Suharno menegaskan jangan sedih belum berhaji. Allah siapkan pahala yang nilainya setara ibadah haji. Haji itu panggilan, tapi pahala haji itu pilihan.
Acara ditutup dengan doa bersama dan musafahah. Para tokoh masyarakat dan jamaah menyampaikan banyak terima kasih atas tausiyah yang menyejukkan dan memotivasi.

