PENGGUNAAN MINYAK BERLEBIHAN

PENGGUNAAN MINYAK BERLEBIHAN

Oleh Arni Purlika

 

Dari makanan yang manis dan asin kita berlanjut pada makanan gurih. Cita rasa gurih dan nagih ini identik dengan makanan yang diolah dengan cara digoreng. Komponen utama pada proses penggorengan adalah minyak. Minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok yang dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Konsumsi minyak goreng biasanya digunakan sebagai media menggoreng bahan pangan, penambah cita rasa, ataupun shortening yang membentuk struktur pada pembuatan roti.

Makanan jajanan yang diolah dengan cara digoreng ini dikenal luas dengan sebutan gorengan. Makanan ini mengandung lemak dan kolesterol yang dibutuhkan oleh tubuh, khususnya untuk pembentukan energi dan beberapa proses yang berlangsung dalam otak. Sayangnya jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan, nilai gizinya buruk karena sarat kalori, lemak jenuh dan lemak trans, memicu obesitas, penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, hipertensi, kanker (akrilamida) dan masalah kulit (seperti jerawat dan kulit kusam).

Pada umumnya, gorengan yang banyak dijajakan menggunakan metode bernama deep frying dalam pengolahannya, yaitu seluruh bahan pangan terendam dalam minyak goreng. Hasilnya, gorengan tadi menyerap minyak yang sangat banyak. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah minyak seperti apa yang dipakai oleh penjual gorengan saat memasaknya. Jika gorengan dimasukkan dalam minyak dengan suhu tinggi dan sudah berulang kali digunakan, maka minyak menghasilkan radikal bebas dan mengandung senyawa racun serta besifat karsinogen.

Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) tahun 2017, gorengan berupa tahu isi, tempe tepung, bakwan, pisang dan lainnya dengan berat 40 gram mengandung energi sebesar 109 kkal, dan lemak 7,5 gram. Ini setara dengan makan hampir tiga-per-empat piring nasi. Sayangnya, setiap kali makan gorengan, kita bisa mengambil lebih dari satu buah dan macam gorengan (dua bakwan, cireng dan pisang). Selanjutnya gorengan semacam keripik yang mungkin jarang orang mengetahui, memiliki kandungan kalori yang lebih tinggi lagi. Keripik tempe 100 gram mengandung 542 kkal dan lemak 42,5 gram. Ini sama dengan kita makan tiga piring nasi. Dan kita bisa pula mengkonsumsi keripik lebih dari 100 gram sekali duduk.

Padahal anjuran konsumsi minyak dalam sehari adalah 5 sdm setara 67 gram. Sedangkan konsumsi lemak kita sehari tidak hanya dari gorengan saja, ada lauk hewani dan nabati yang sudah mengandung lemak 2 gram hingga 13 gram per porsinya. Dalam minuman atau camilan dengan campuran susu dan santan juga pasti akan menambah asupan lemak dalam tubuh. Oleh karena itu mungkin secara tidak sadar kita sudah mengonsumsi lemak dalam jumlah berlebih.

Sebagai konsumen, kita harus bijak memilah makanan dan minuman yang hendak kita konsumsi. Perlulah kita mengurangi makanan yang diolah dengan cara digoreng atau bersantan serta membatasi makanan dengan kandungan lemak tinggi seperti kulit ayam, jerohan, bebek, bakso, sosis, dll. Ingat rumus G4 G1 L5 (gula 4 sdm, garam 1 sdt, lemak 5 sdm) adalah anjuran konsumsi per-hari untuk menjaga tubuh tetap sehat.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP