
Tradisi Literasi Membentuk Santri Berwawasan Luas
Oleh Kiai Mulyadin LC MH
Tradisi literasi telah menjadi bagian integral dari kehidupan santri di pesantren. Membaca, menulis, dan berdiskusi adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan karakter santri yang berwawasan luas (mutsaqqaful fikri). Namun, apa yang membuat tradisi literasi begitu penting dalam membentuk karakter santri?
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Alquran menegaskan tentang pentingnya ilmu pengetahuan. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu adalah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq [96]: 1-5).
Tradisi literasi di pesantren sebagai wujud mutsaqqaful fikri. Oleh karena itu, civitas pesantren hendaknya melakukan tradisi membaca buku-buku ilmiah dan agama untuk meningkatkan pengetahuan, berdiskusi dengan santri lainnya untuk mempertajam pemikiran, menulis artikel untuk meningkatkan kemampuan menulis, mengikuti kajian dan seminar untuk meningkatkan wawasan, dan membentuk kelompok diskusi untuk membahas topik-topik ilmiah dan agama.
Dengan membangun budaya literasi di kalangan santri dan seluruh civitas pesantren secara masif, terukur, terevaluasi, dan terstuktur maka akan dapat merasakan manfaatnya. Di antaranya adalah dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara di depan publik, membentuk karakter yang berwawasan luas, dan meningkatkan kemampuan berdiskusi.
Semoga tradisi literasi ini dapat terus berkembang di kalangan santri, sehingga mereka dapat menjadi generasi yang berwawasan luas (mutsaqqaful fikri) serta mampu menghadapi tantangan zaman. Amin.

