
Mencetak Santri Mutsaqqaful Fikri
Di Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, tarbiyah tidak hanya terjadi di ruang kelas. Ia hidup di semua lingkungan pesantren, termasuk di asrama santri. Salah satunya di Kamar 12 Utsman bin Affan, di bawah bimbingan Ustadz Nana Suyatna.
Poster kamar tersebut tidak sekadar pajangan. Ia adalah kompas. Di bagian atas tertulis dengan tegas: مُشْرِفُ الغُرْفَة ١٢ عُثْمَان بِن عَفَّان . Musyriful Ghurfah 12: Utsman bin Affan. Mengapa Utsman bin Affan? Karena musyrif kamar adalah teladan bagi anak didiknya, termasuk dalam hal berwawasan luas.
Seorang pedagang yang cerdas, sahabat yang setia, dan khalifah yang alim. Kamar ini ingin meniru semangat dari Utsman bin Affan. Lalu diturunkanlah target karakter santri kamar itu: مُوَاصَفَاتُ المُسْلِم ٥. مُثَقَّفُ الفِكْر . Muwashofatul Muslim: 5.
Mutsaqqaful Fikri. Generasi yang berwawasan luas. Artinya, Santri Husnul Khotimah tidak boleh sempit. Memiliki pemahaman agama yang luas: rajin mengaji dan memahami ilmu secara luas. Agama menjadi landasan berpikir, bukan sekadar hafalan. Memiliki hafalan Alquran yang mutqin, memiliki pengetahuan umum yang luas: melek sains, sejarah, teknologi, dan realitas zaman, yang dibingkai dengan semangat dakwah dan tarbiyah.
Dakwah hari ini membutuhkan generasi yang melek dengan dunia, tanpa meninggalkan akhirat. Karena itu, santri harus menjadi orang yang berfikir luas dan mendalam, bukan ikut-ikutan. Inilah bedanya pesantren berbasis Dakwah dan Tarbiyah dengan lembaga pendidikan lainnya.
Tarbiyah akhlaknya, dakwah wawasannya. Santri tidak hanya dirajin dalam shalat dan menghafal, tetapi juga dididik untuk berfikir cerdas, membaca, dan memahami zamannya. Maka di bagian paling bawah dalam poster tersebut ada satu kalimat yang menyentuh: Rahasia untuk maju adalah memulai.
Ya. Memulai baca buku. Memulai menghafal Alquran. Memulai diskusi. Memulai bertanya. Memulai melapangkan dada untuk ilmu agama dan umum. Liburan boleh selesai. Mager boleh hilang. Tapi semangat menjadi santri mutsaqqaful fikri harus terus dinyalakan dalam diri dan di seluruh lingkungan pesantren. Dari lingkungan yang berwawasan luas, lahir santri yang siap memakmurkan seluruh penjuru negeri ini. Semoga.

