In The Line of Dreams

In The Line of Dreams

Oleh Adi Bintoro

 

Namanya Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Kita biasa mengenalnya dengan nama Imam Bukhari. Hari itu Imam Bukhari muda sedang di kelas bersama teman-temannya mendengarkan penjelasan sang guru, Ishaq bin Ibrahim Rahawaih. Sang guru ini bukan orang sembarangan, Ishaq digelari sebagai Imam besar, Syaikh Dunia Timur, Tuannya para Penghafal Qur’an. Extra ordinary person.

Pada pertemuan hari itu sang guru berkata, “Jika saja ada satu orang di antara kalian yang bertekad mengumpulkan hadits-hadits Shahih dari Nabi SAW.” Kata-kata itu mungkin terdengar biasa, perkataan guru hadits kepada murid-murid haditsnya. Tapi tidak, itu tidak biasa bagi Imam Bukhari. Kalimat itu benar-benar menghujam dan menjadi tekad dalam hati Imam Bukhari.

Mari kita dengarkan Imam Bukhari berkata tentang hal ini. “Maka tekad itu benar-benar masuk ke dalam hatiku. Kemudian aku izin keluar dari majelis tersebut dan sejak itu aku berniat melakukannya.” Kemudian disambung lagi dengan perkataan, “Maka sejak saat itu, aku mulai mengumpulkan apa yang diharapkan oleh guruku dan aku mengerjakannya selama 16 tahun lebih, hingga aku menyelesaikan penulisan kitabku, Al-Jami Ash-Shahih.

Tekad itu sudah menjadi mimpi. Dan mimpi inilah yang mewarnai lekat kehidupan Imam Bukhari. Tengoklah seberapa banyak guru yang ditemui Imam Bukhari dan seberapa jauh perjalanan beliau dalam mewujudkan mimpinya mengumpulkan hadits Shahih. Mari kita biarkan beliau yang memberitahukan kita semua. Kitab Tarikh Dimasyq menuliskan perkataan beliau. “Aku bertemu dengan lebih dari 1.000 ahli ilmu yang berasal dari Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir.”

Kota Baghdad beliau masuki sampai delapan kali dan setiap memasukinya beliau berjumpa dan berkumpul dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Jumlah guru yang sangat banyak ini karena Imam Bukhari memulai perjalanan ilmiahnya sejak belia dan banyak kota yang beliau datangi untuk tujuan mulia tersebut.

Imam Bukhari menghafal seratus ribu hadits shahih dengan kekuatan hafalan yang luar biasa. Beliau juga dikenal sebagai seorang yang pemberani, pemaaf, banyak berderma, berbudi pekerti luhur, zuhud terhadap dunia dan hati-hati dalam berbicara. Semisal beliau menggunakan ungkapan yang halus untuk menilai perawi yang bermasalah atau berderajat lemah.

Berhati jernih, menyerap tekad sang guru, menjadikan mimpinya sebagai pengumpul hadits-hadits Shahih, berkelana ke berbagai tempat yang jauh, berguru kepada ribuan guru, menjaga amal ibadahnya dengan tekun. Inilah jalan Imam Bukhari sebagai Amirul Mukminin dalam bidang hadits. In the line of dreams.

Dan kita, mimpi apa yang kita benamkan dalam diri? Jawablah .. kemudian tanyakan.. siapkah kita menjalani hari-hari untuk memeluk mimpi kita?

 

 

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp