
PELAJARAN DARI NEGERI SEBERANG
(Catatan Safari Dakwah Ramadhan di Jepang)
Oleh Dudung Abdul Karim
Tanggal 18 Februari 2025, saya bertolak dari Indonesia membawa satu niat berdakwah. Sebulan bersama Human Initiative Japan, menyusuri kota di Jepang, dari Tokyo, Nagoya, Osaka, Hiroshima, hingga Fukuoka sebelum kembali lagi ke Tokyo pada 23 Maret. Berangkat untuk memberi, tapi justru pulang dengan lebih banyak yang diterima: pelajaran hidup yang tidak akan habis direnungkan.
- Lalu Lintas dan Budaya Antre.
Kejutan pertama datang bukan dari megahnya gedung Tokyo, melainkan dari hal yang tidak terlihat: keributan. Di jalanan yang padat, tidak ada klakson. Tidak ada yang menerobos lampu merah meski jalanan sepi. Setiap kendaraan berhenti sempurna di belakang garis zebra cross, tanpa polisi, tanpa kamera.
“Kami tidak perlu diawasi untuk berbuat benar.” Kalimat itu diucapkan warga lokal saat saya bertanya. Langsung menghunjam. Bukankah dalam Islam kita mengenal muraqabah keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi? Kita punya landasan teologinya. Mereka mempraktikkan esensinya tanpa mengetahuinya.
Di halte bus, loket kereta, kasir minimarket antrian mengalir rapi tanpa desak-desakan. Antri adalah ujian karakter paling jujur. Di pesantren kita sudah belajar ini: seperti antre makan dan antre mandi. Tantangannya: membawa kebiasaan itu keluar dari tembok pesantren.
- Menjadi Minoritas: Berdakwah di Tengah Keterbatasan
Di Nagoya, tantangan pertama terasa nyata: menemukan masjid bukan perkara mudah. Tidak ada suara adzan yang memandu. Saya mengandalkan aplikasi kiblat dan peta digital hanya untuk tahu di mana bisa shalat berjamaah. Namun justru di sini saya menemukan hal yang mengharukan: komunitas Muslim Indonesia yang hidup penuh semangat, buka puasa bersama, tarawih, menjaga tradisi Ramadhan sejauh ribuan kilometer dari tanah air.
Di Osaka, kajian Ramadhan dihadiri dengan penuh antusias oleh WNI, seolah mereka sudah lama menunggu siraman rohani dari kampung halaman. Di Hiroshima, Etajima, Mihara, hingga kota-kota kecil lainnya, tantangan makin terasa: masjid yang tidak ada, waktu shalat yang berubah karena perbedaan musim, durasi puasa yang lebih panjang.
Di sanalah saya belajar: iman bukan soal kemudahan fasilitas, melainkan konsistensi di tengah kesulitan.
- Kebersihan dan Toilet Umum: Cermin Peradaban
Di Fukuoka dan seluruh kota yang saya singgahi, ada satu hal yang selalu memukau: kebersihan. Jalanan bersih bukan karena petugas bekerja 24 jam, tapi karena tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Soal toilet umum di Jepang adalah standar kebersihan yang mengagumkan. “Kalau ingin tahu seberapa beradab suatu masyarakat, lihatlah kondisi toilet umumnya.”
Ironinya, negara yang tidak mengenal Islam justru lebih nyata menjalankan semangat hadits Nabi SAW “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Adab ke kamar kecil sudah kita pelajari sejak hari pertama di pesantren. Kita punya ilmunya. Sekarang saatnya kita jalankan di mana pun kita berada.
- Pulang dengan Lebih Banyak
Ketika akhirnya kembali ke Tokyo untuk penerbangan pulang, saya membawa perasaan yang berbeda. Saya datang sebagai da’i yang ingin memberi. Saya pulang sebagai murid yang banyak menerima. Selama sebulan, mengisi kajian, bertemu ratusan Muslim WNI yang gigih mempertahankan identitas keislaman mereka, dan menyaksikan masyarakat yang meski tidak mengenal Islam mampu membangun peradaban yang tertib, bersih, dan saling menghormati.
Ini bukan soal siapa yang lebih baik. Ini tentang bagaimana nilai-nilai Islam yang kita miliki bisa benar-benar hidup dalam keseharian. Bukan hanya di mimbar, tapi di jalan raya, di antrian, di trotoar, dan di toilet umum.
Pesan untuk Santri Husnul Khotimah
Kepada adik-adikku, santri dan santriwati Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Saya alumnus angkatan ke-11. Saya tahu betapa keras kalian ditempa: disiplin shalat berjamaah, antre makan, menjaga kebersihan kamar, berjalan dengan tertib. Nilai-nilai itu bukan sekadar aturan pesantren, itu adalah fondasi peradaban. Saya saksikan di Jepang bukan hal yang asing, itu adalah nilai-nilai yang sudah dipelajari, hanya sedang dipraktikkan oleh bangsa lain.
Tantangan kalian adalah konsistensi membawa kebiasaan baik itu keluar dari tembok pesantren: ke kampus, ke kantor, ke jalan raya, ke toilet umum di mana pun kalian berada. Karena dakwah yang paling kuat bukan yang disampaikan dari mimbar, melainkan yang ditampilkan lewat akhlak nyata setiap hari. Wallohu a’lam.

