
Pengurus OSHK Putra Masa Bakti 2026–2027 Resmi Dilantik
Ratusan santri, dewan guru, dan pimpinan pondok berkumpul menyaksikan pelantikan serta pengukuhan Pengurus Organisasi Santri Husnul Khotimah (OSHK) Putra beserta lembaga otonomnya masa bakti 2026–2027 pada Sabtu (8/8/2026).
Adapun jajaran kepengurusan yang dilantik dan dikukuhkan Oleh Pimpinan Pondok secara serentak meliputi: DE OSHK MA, Majelis Musyawarah Santri (MPS), Dewan Ambalan Umar Bin Khattab (Pramuka), Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR), Pengurus Rayon / Musyrif Santri, Lembaga Dakwah wa Ruhiyah, DE OSHK MTs
Acara strategis keorganisasian ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan pondok secara lengkap, di antaranya Sekretaris Pondok Ustadz Abu Bakar, Lc., M.Pd., Kepala Madrasah Aliyah, Kepala Madrasah Tsanawiyah, Kepala Unit Pembinaan Putra, Kepala Unit TTQ, Kepala Unit Klinik Pratama Husnul Khotimah, serta Kepala Urusan OSHK dan segenap Dewan Guru.
Amanah Bukan Privilege: Pesan Mendalam Pimpinan Pondok
Pimpinan Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Ustadz Mulyadin, Lc., M.H., dalam amanat dan sambutannya menyampaikan penegasan mendasar terkait esensi berorganisasi di lingkungan pesantren. Beliau mengingatkan bahwa pelantikan ini bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan penerimaan amanah besar di hadapan Allah SWT.
Mengawali amanatnya, Ustadz Mulyadin memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengurus OSHK periode 2025–2026 (purna bakti) yang telah menuntaskan masa bakti dengan penuh dedikasi dan keikhlasan. Beliau berpesan agar para purna bakti tetap menjadi role model (teladan) dalam hal adab, ibadah, dan penuntasan target Al-Qur’an serta Hadis.
“Masa depan itu milik kalian, tetapi tidak datang gratisan; harus tetap diperjuangkan. Jangan sampai bertambahnya usia dan ilmu justru membuat merasa bebas dan tidak lagi menjaga adab maupun disiplin. Jika itu yang terjadi, wal’iyadzubillah, bukan Husnul Khotimah melainkan su’ul khotimah,” tegas Ustadz Mulyadin.
Kepada pengurus baru periode 2026–2027, Pimpinan Pondok memberikan lima nasihat utama sebagai fondasi mengemban kepemimpinan:
- Niat Ikhlas Karena Allah SWT: Menjadi landasan utama agar Allah membimbing dan memudahkan penyelesaian berbagai dinamika organisasi.
- Menjadi Teladan (Uswah): Menepis stigma bahwa pengurus organisasi sulit diatur. Pengurus baru harus membuktikan diri sebagai santri paling disiplin.
- Keseimbangan Akademik, Ibadah, dan Organisasi: Dilarang keras menyalahkan organisasi atas penurunan prestasi atau ketaatan ibadah. “Prestasi yes, organisasi juga yes,” ujar beliau.
- Miliki Karakter Giver (Pemberi): Fokus pada kontribusi terbaik untuk pondok dan adik kelas, bukan mencari keistimewaan (taker).
- Kekompakan & Ketegasan Aturan: Tidak ada privilege bagi pengurus. Pelanggaran berat (SP2 ke atas) akan berujung pada proses reshuffle terbuka di hadapan umum sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Sementara itu, Ketua DE OSHK MA terpilih, Ahmad Musyaffa, menyampaikan orasi perdana yang berapi-api dan sarat dengan perenungan filosofis. Membuka pidatonya, Musyaffa menegaskan bahwa tanggal 8 Agustus 2026 adalah tonggak sejarah baru bagi santri Husnul Khotimah untuk siap mengambil estafet kepemimpinan bangsa.
Dalam orasinya, Musyaffa mengutip sebuah analogi militer bersejarah tentang evaluasi armada pesawat tempur yang kembali dari medan perang. Ketika para insinyur menyarankan untuk memperkuat bagian yang rusak seperti sayap dan baling-baling, sang jenderal justru mengambil keputusan sebaliknya: memperkuat bagian yang tidak rusak pada pesawat yang berhasil pulang, karena pesawat yang bagian vitalnya hancur telah gugur di medan perang.
“Pelajaran pentingnya: dalam berorganisasi, kita sering sibuk mengevaluasi hal-hal lahiriah—komunikasi dan solidaritas sesama manusia (habluminannas). Namun kita kerap lupa bahwa yang paling utama adalah memperbaiki hubungan dengan Allah (habluminallah) yang mungkin selama ini kurang atau hancur. Perbaiki fondasi spiritual itu!” seru Ahmad Musyaffa di hadapan ratusan santri.
Ia menutup orasinya dengan mengusung visi kepengurusan OSHK Angkatan 31:
“OSHK 31 hadir bukan untuk memaksa kejayaan tumbuh, melainkan untuk menyingkirkan segala hal yang menghalangi kejayaan itu tumbuh.”
Di akhir acara, Pimpinan Pondok mengajak seluruh santri kelas 7 hingga kelas 10 untuk aktif mendukung dan bersinergi dengan kepengurusan yang baru, serta menyampaikan aspirasi dengan cara yang beradab. Sinergi yang harmonis antara pengurus, santri, dan dewan pembina diharapkan mampu membawa Pondok Pesantren Husnul Khotimah menuju era baru yang lebih berprestasi, beradab, dan penuh keberkahan.

