
Kemah Akbar HK2, Menempa Karakter Santri
KUNINGAN — Pondok Pesantren Husnul Khotimah 2 Kuningan (HK2) menggelar Perkemahan Akbar pada Senin-Selasa, 7-8 September 2026. Kegiatan yang diikuti sejumlah santri kelas VII dan VIII tersebut menjadi bagian dari pembinaan karakter untuk menumbuhkan kemandirian, kedisiplinan, keterampilan, serta kebersamaan di kalangan santri.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, Dr. H. Ahmad Saepulloh, S.Ag., M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa kegiatan kemah bukan sekadar aktivitas di alam terbuka, tetapi dapat menjadi jembatan bagi santri untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kegiatan kemah ini adalah sebuah jembatan untuk bagaimana kita bisa menjadi insan yang terbaik, bagaimana kita bisa menjadi insan yang khairunnas anfa’uhum linnas,” ujar Ahmad Saepulloh.
Ia menyebut setidaknya ada tiga manfaat utama dari pelaksanaan Kemah Akbar. Pertama, menumbuhkembangkan pendewasaan santri. Melalui berbagai aktivitas selama perkemahan, santri belajar menghadapi situasi secara langsung, mengambil tanggung jawab, serta menyelesaikan berbagai persoalan bersama.
Kedua, kegiatan kemah menjadi sarana untuk menumbuhkembangkan kemandirian. Santri belajar mengelola kebutuhan dan aktivitasnya sendiri sekaligus memahami tanggung jawab sebagai bagian dari kelompok.
Ketiga, perkemahan menjadi momentum untuk menumbuhkan kedisiplinan. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan jadwal dan aturan melatih santri menghargai waktu serta menjalankan tanggung jawab secara konsisten.
“Tiga poin ini akan menjadi landasan bagi kita bagaimana kita mengarungi kehidupan di dunia ini,” katanya.
Membentuk Santri Berakhlak dan Terampil
Kaur Ospram Ekskul HK2, Ustadz Muhamad Rhais, M.Pd., mengatakan Perkemahan Akbar merupakan bagian dari upaya pembinaan karakter santri melalui pengalaman langsung di luar kelas.
“Perkemahan Akbar Pondok Pesantren Husnul Khotimah 2 Kuningan yang dilaksanakan pada Senin-Selasa, 7-8 September 2026 dalam rangka membentuk karakter santri yang berakhlakul karimah, mandiri, sholih dan terampil,” ujar Muhamad Rhais.
Menurutnya, pengalaman yang diperoleh santri selama perkemahan diharapkan dapat menjadi bekal yang terbawa ke kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya belajar mengenai kemandirian dan kedisiplinan, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai teman, serta menjalankan tanggung jawab dalam kelompok.
Dengan mengikuti berbagai aktivitas perkemahan, santri memperoleh kesempatan untuk belajar melalui pengalaman. Tenda, lingkungan alam, kelompok, dan berbagai kegiatan menjadi bagian dari ruang pendidikan yang melengkapi pembelajaran di dalam kelas.
Api Unggun dan Pesan tentang Persaudaraan
Pesan pembinaan kemudian berlanjut dalam suasana yang berbeda saat kegiatan api unggun. Di tengah suasana malam, Mudir Pondok Pesantren Husnul Khotimah 2 Kuningan, Ustadz Fauzi Muhammad Ali, Lc., Gr., mengajak para santri melihat api unggun bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai simbol yang memiliki makna bagi kehidupan.
“Api unggun, bukan hanya banyaknya kayu yang dibakar, tapi api unggun ini memberi kehangatan di alam,” ujar Fauzi.
Ia mengajak santri untuk mempelajari makna tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kehangatan yang dihasilkan api unggun dapat menjadi gambaran tentang bagaimana setiap individu seharusnya memberikan manfaat dan menghadirkan suasana positif bagi orang-orang di sekitarnya.
“Kita mendapat kehangatan dari api unggun. Mari kita nyalakan api perjuangan dalam diri. Memberikan sebuah harapan,” katanya.
Fauzi juga mengajak setiap santri menjadi sumber kehangatan bagi teman-temannya dengan membangun sikap saling menyayangi dan menjauhi permusuhan.
“Masing-masing kita memberi kehangatan kepada teman, saling menyayangi antar teman, tidak bermusuhan.”
Ia kemudian mengibaratkan kayu-kayu yang menyatu dalam api unggun sebagai gambaran kehidupan para santri HK2. Kayu yang tersusun dan menyatu mampu menghasilkan api yang memberikan kehangatan. Demikian pula para santri yang memiliki latar belakang berbeda dapat menjadi kekuatan ketika bersatu dalam kebaikan.
“Kayu bakar yang di hadapan kita, kayu menyatu satu sama lain agar menciptakan api unggun yang baik,” tuturnya.
Para santri HK2 datang dari berbagai daerah dengan latar suku dan budaya yang beragam. Menurut Fauzi, keberagaman tersebut seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal dan menguatkan, bukan menjadi alasan untuk saling mengejek atau bermusuhan.
“Berkumpulnya kita di HK2, datang dari daerah yang berbeda, suku, budaya yang berbeda. Ketika kita membawa aura positif, maka tidak akan saling bermusuhan, tidak saling ejek, tapi saling mendukung dalam kebaikan,” ujarnya.
Nyala api unggun malam itu pun menjadi penutup yang sarat makna. Api tidak hanya memberikan cahaya dan kehangatan, tetapi menjadi simbol semangat perjuangan, persaudaraan, dan harapan agar para santri mampu menjadi pribadi yang menghadirkan kebaikan di mana pun mereka berada.
Melalui Kemah Akbar, HK2 tidak sekadar mengajak santri belajar hidup di alam terbuka. Lebih dari itu, mereka diajak belajar tentang kehidupan: menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, terampil, saling menguatkan, dan mampu memberikan kehangatan serta manfaat bagi sesama.

