
Bukan Kurang Rezeki, Hukuman Terberat Seorang Muslim Adalah Tak Mampu Qiyamul Lail
KUNINGAN — Tidak selalu hukuman atas dosa seorang hamba berupa berkurangnya rezeki, kesulitan dalam pekerjaan, atau persoalan kehidupan lainnya. Ada hukuman yang jauh lebih berat bagi seorang muslim, yaitu ketika dirinya tidak lagi mampu merasakan nikmat beribadah dan tidak memiliki kekuatan untuk bangun menunaikan qiyamul lail.
Hal tersebut disampaikan KH. Imam Nur Suharno, M.Pd. dalam rapat rutin Huda yang dilaksanakan setiap hari Sabtu. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh anggota Huda untuk melakukan muhasabah terhadap kualitas hubungan dengan Allah SWT.
Menurutnya, seorang muslim perlu waspada ketika mulai kehilangan kenikmatan dalam beribadah. Sebab, ketika ibadah hanya dilakukan sebatas kewajiban tanpa menghadirkan rasa nikmat dan kedekatan kepada Allah, hal tersebut dapat menjadi tanda yang perlu direnungkan.
“Ketika seseorang tidak bisa merasakan nikmatnya aktivitas tersebut, maka dia melaksanakan aktivitas tersebut sebatas kewajiban,” ungkapnya.
KH. Imam Nur Suharno kemudian menekankan bahwa salah satu bentuk teguran yang perlu sangat diwaspadai adalah ketika seseorang tidak mampu menghidupkan malamnya dengan ibadah.
“Bahkan daripada hikmah yang paling berat bagi seorang muslim, kita tidak mampu untuk menyisihkan sedikit (waktu) untuk qiyamul lail,” tuturnya.
Baginya, kemampuan untuk bangun di malam hari dan bermunajat kepada Allah SWT merupakan sebuah nikmat. Karena itu, ketika seorang muslim terus-menerus kehilangan kemampuan tersebut, kondisi itu semestinya tidak dianggap biasa. Ia perlu melakukan introspeksi dan memperbanyak istighfar.
Pesan tersebut sejalan dengan penjelasannya tentang hubungan antara dosa dan berbagai teguran yang dialami seseorang. Ia mengingatkan bahwa seorang muslim hendaknya tidak hanya mencari sebab lahiriah dari setiap persoalan, tetapi juga berani bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang harus saya perbaiki dalam hubungan saya dengan Allah?”
“Harus ada istighfar,” tegasnya.
Dalam konteks Huda, KH. Imam Nur Suharno mengajak seluruh anggota untuk tidak hanya menjalankan amanah dakwah secara profesional, tetapi juga memperkuat bekal spiritual. Huda sebagai bagian dari aktivitas dakwah dan tarbiyah membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki kedekatan dengan Allah SWT.
Ia juga mengingatkan bahwa keteladanan menjadi bagian penting dalam dakwah. Mengajak kepada kebaikan harus dimulai dari upaya memperbaiki diri sendiri, termasuk menjaga ibadah wajib dan memperbanyak amalan sunnah.
Menurutnya, amalan-amalan yang terlihat ringan justru dapat menjadi pintu bagi datangnya berbagai kebaikan. Sebaliknya, ketika seseorang sudah merasa berat melakukan amalan sunnah, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak semakin jauh dari Allah SWT.
Tausiyah tersebut menjadi pengingat bagi seluruh anggota Huda bahwa ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya terlihat dari pencapaian duniawi. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan menjaga hubungan dengan Allah, menikmati ibadah, dan memiliki kerinduan untuk bermunajat kepada-Nya.
Melalui rapat rutin tersebut, KH. Imam Nur Suharno mengajak seluruh anggota Huda untuk memperbanyak muhasabah, istighfar, dan menjaga qiyamul lail sebagai bagian dari upaya memperkuat spiritualitas dalam menjalankan amanah dakwah dan tarbiyah.

