
Sebelum Perbaiki Anak, Perbaiki Diri
Dalam pertemuan walisantri MTs HK1, psikolog Dessy Ilsanti, M.Psi., mengajak orang tua membangun kesehatan batin, mengelola emosi, dan memahami dinamika perkembangan remaja.
KUNINGAN– Menjadi orang tua yang baik tidak berarti harus selalu sempurna. Orang tua perlu memiliki kesiapan batin, kematangan emosional, dan kemauan untuk terus belajar. Pesan tersebut disampaikan psikolog klinis dewasa, Dessy Ilsanti, M.Psi., dalam sesi parenting pada Pertemuan Walisantri Kelas 9 MTs Husnul Khotimah 1, Sabtu (10/10).
Dalam pemaparannya, Dessy menjelaskan bahwa keberhasilan pengasuhan tidak hanya ditentukan oleh cara orang tua mendidik anak, tetapi juga oleh kemampuan mereka mengenali dan mengelola kondisi diri sendiri.
Ia mengibaratkan keluarga sebagai tempat pembentukan karakter manusia. Karena itu, kualitas pengasuhan sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional orang tua. Orang tua yang mampu mengelola emosi dengan baik akan lebih siap memberikan rasa aman dan mendampingi anak menghadapi berbagai persoalan.
Dessy juga meluruskan anggapan bahwa orang tua harus selalu mendahulukan kebutuhan anak hingga mengabaikan dirinya sendiri. Menurutnya, menjaga kesehatan fisik dan emosional bukanlah sikap egois, melainkan bagian dari upaya memberikan pengasuhan yang lebih baik.
Dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi. Ayah diharapkan menjadi teladan, memberikan arahan moral, dan menjadi teman diskusi bagi anak. Sementara itu, ibu turut berperan dalam membangun suasana rumah yang hangat dan nyaman. Kerja sama keduanya penting agar anak merasa aman dan mendapatkan dukungan yang cukup.
Menghadapi tantangan pengasuhan, terutama ketika anak memasuki usia remaja, Dessy menyarankan orang tua untuk mengenali pemicu stres dan memilih waktu yang tepat untuk berdiskusi. Orang tua juga perlu mengubah cara pandang terhadap perilaku anak, tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif, serta berusaha memahami kebutuhan di balik perilaku tersebut.
Ketika emosi mulai meningkat, orang tua dapat mengambil jeda, mengatur pernapasan, atau menenangkan diri melalui ibadah sebelum melanjutkan percakapan.
Dessy turut mengingatkan bahwa perkembangan otak remaja masih berlangsung hingga usia dewasa. Oleh sebab itu, perilaku yang dianggap membangkang tidak selalu menunjukkan bahwa anak sengaja melawan orang tua. Dalam banyak situasi, remaja masih belajar mengelola emosi, memahami konsekuensi, dan mengambil keputusan.
Orang tua perlu mendampingi proses tersebut dengan kesabaran, komunikasi yang terbuka, dan batasan yang jelas.
Melalui sesi parenting ini, para walisantri diajak untuk terus memperbaiki pola pengasuhan dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak. Pendidikan keluarga merupakan proses sepanjang hayat yang membutuhkan keterlibatan, keteladanan, dan kerja sama antara ayah dan ibu.
Ketenangan orang tua, komunikasi yang baik, dan suasana rumah yang aman diharapkan menjadi bekal penting bagi santri dalam menghadapi tantangan masa remaja dan mempersiapkan masa depan.

