DARI KEPEMILIKAN KE PENERIMAAN MENEMUKAN HAKIKAT HIDUP

DARI KEPEMILIKAN KE PENERIMAAN MENEMUKAN HAKIKAT HIDUP

Oleh Husnul Khotimah

 

Pada hakikatnya, seluruh yang ada dalam kehidupan ini bukanlah sebuah kepemilikan, melainkan sebuah titipan. Manusia, harta, alam, hewan, bahkan waktu dan kesempatan hidup, semuanya bukan milik kita. Kita hanya penerima amanah sementara. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, dan kepada-Nya seluruh kepemilikan itu kembali.

Allah SWT berfirman, “Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 284). Ayat ini menjadi pengingat mendasar bahwa manusia tidak memiliki apa pun secara absolut. Bahkan dirinya pun bukan miliknya sepenuhnya.

Pada realitas kehidupan, kesadaran ini seringkali diuji ketika manusia menghadapi kehilangan, kehilangan orang yang dicintai, harta, jabatan, maupun kenyamanan hidup. Tidak jarang, reaksi awal adalah penyangkalan, lahir sebuah pertanyaan emosional, “Mengapa ini terjadi pada diriku?”

Padahal, jika manusia menyadari, semua hanyalah titipan, maka kehilangan bukanlah perampasan, melainkan pengembalian. Titipan itu diambil kembali oleh Sang Pemilik sejati.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156). Kalimat istirja’ ini bukan sekadar ucapan duka, melainkan pernyataan tauhid bahwa asal dan tujuan hidup manusia hanyalah kepada Allah.

Seseorang yang telah memahami hidup sebagai titipan akan lebih lapang, ketika Allah mengambil kembali apa yang pernah dititipkan kepadanya. Dari pertanyaan “Mengapa ini terjadi pada diriku?” Kesadaran ini perlahan berubah menjadi ungkapan, “Terima kasih, Engkau telah mempercayakan titipan ini kepadaku.” Inilah bentuk penerimaan, penerimaan yang tidak mematikan rasa sedih, tetapi menguatkan hati dalam kesadaran iman.

Prinsip hidup ini pula yang disampaikan oleh Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Maluku Utara, dalam sebuah kesempatan talk show. Ia menuturkan, apa pun yang dimiliki manusia di dunia ini, kekayaan, kekuasaan, atau prestasi, pada akhirnya akan hilang. Tidak ada satu pun yang bisa dibawa pulang. Bahkan hidup ini sendiri, sejak awal bukan milik manusia, tapi milik Tuhan. Dari kesadaran inilah, seseorang memilih untuk berdamai dengan takdir, karena baginya, manusia tidak berada pada posisi mempertanyakan atas sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.

Pandangan ini selaras dengan konsep psikologis modern yang dikenalkan oleh Mark Manson dalam bukunya Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Ia menjelaskan, salah satu cara menghadapi masalah adalah melalui penyangkalan, yaitu menghindari kenyataan demi kenyamanan sesaat. Penyangkalan justru menjerumuskan pada kehidupan yang rapuh, kecemasan, dan pengekangan emosi. Kenyamanan tidak menyembuhkan, tapi menunda luka.

Sejak awal Islam mengajarkan konsep penerimaan realitas melalui iman kepada qadha dan qadar. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Hadis di atas menegaskan, ketenangan hidup bukan terletak pada memiliki segalanya, melainkan pada kemampuan menerima segala ketetapan-Nya. Dengan iman dan kesadaran, dapat disimpulkan, hakikat hidup bukan tentang kepemilikan, melainkan tentang titipan.

Ketika manusia menyadari bahwa hidup hanyalah titipan, ia akan belajar untuk tidak terlalu menggenggam erat apa yang ada di tangannya. Kesadaran ini melahirkan penerimaan, ketulusan, dan kedamaian batin dalam menjalani setiap takdir. Pada akhirnya, yang dititipkan pasti kembali, dan yang kembali selalu berada di Tangan Pemiliknya. Wallahu a’lam.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP