Catatan Mahasiswa Indonesia di Libya

Catatan Mahasiswa Indonesia di Libya

Oleh: Aminullah

(Mahasiswa Kulliyyah Dakwah Islamiyyah, Tripoli)

 

Pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Libya, sebuah negara yang sebelumnya hanya hadir dalam narasi buku sejarah dan berita-berita tentang konflik bersenjata. Saat tiba di Bandara Mitiga, Tripoli, hati saya dipenuhi campuran perasaan: takjub, cemas, dan saya akui sedikit ketakutan. Di momen itu saya benar-benar sadar bahwa saya tengah memasuki wilayah yang memiliki sejarah panjang tentang peperangan dan ketegangan politik.

Kedatangan saya ke Libya bukan sebagai turis atau jurnalis, melainkan sebagai mahasiswa baru di Kulliyyah Dakwah Islamiyah Tripoli, sebuah institusi ternama di dunia Arab yang fokus pada pengkajian dakwah dan keislaman. Kampus ini menjadi tempat bernaung bagi para pelajar dari berbagai belahan dunia. Namun, tidak seperti kebanyakan mahasiswa internasional yang disambut dengan hangat, saya dan 17 rekan asal Indonesia justru langsung tertahan di pos imigrasi selama kurang lebih 4 jam. Sebuah “sambutan” yang mendebarkan, sekaligus menjadi ujian pertama mental dan kesabaran kami di tanah rantau.

Pasca imigrasi, kami diwajibkan menjalani masa karantina selama sebulan, seiring dengan kebijakan penanggulangan pandemi yang kala itu masih berlangsung. Mobilitas sangat terbatas, dan komunikasi dengan keluarga pun bergantung sepenuhnya pada sinyal internet yang tidak selalu dapat diandalkan.

Dari Ketidaknyamanan Menuju Ketangguhan.

Awal menetap di Libya bukan sesuatu yang mudah dilalui. Lidah saya harus beradaptasi dengan cita rasa kuliner lokal, tubuh menyesuaikan dengan suhu udara yang dingin menusuk, dan jiwa ditantang saat listrik tiba-tiba padam atau jaringan internet menghilang.

Namun justru di tengah segala keterbatasan itu, saya menemukan banyak pelajaran yang tak tergantikan. Saya belajar untuk bersabar, hidup mandiri, dan mensyukuri hal-hal yang sebelumnya sering saya abaikan. Rintangan bukan semata soal fisik, melainkan juga ujian mental yang secara perlahan membentuk karakter dan keteguhan diri.

Setelah menyelesaikan masa karantina, kami menjalani ujian penempatan kelas. Saat itu, seluruh mahasiswa baru baik dari Indonesia maupun negara lain ditempatkan di kelas Dauratul Lughah. Alhamdulillah, berkat usaha dan doa, saya bersama beberapa teman berhasil meraih nilai terbaik dan langsung melanjutkan ke tingkat berikutnya.

Menjadi Pemimpin di Tanah Rantau.

Sebagai mahasiswa Indonesia di Libya, saya aktif dalam organisasi Keluarga Kesatuan Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya, yang merupakan wadah resmi pelajar Indonesia, setara dengan PPI di negara-negara lain. Saat pertama kali memperkenalkan diri dan menyebut latar belakang pendidikan saya di Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, beberapa kakak tingkat langsung berkomentar, “Wah, pasti anak organisasi!”

Saya hanya bisa tersenyum. Kenyataannya, semasa di pesantren dulu saya tidak terlalu aktif dalam organisasi. Namun, kehidupan di Libya membuka babak baru. Di tahun kedua, saya mulai dipercaya mengemban amanah organisasi: menjabat sebagai Ketua Departemen Olahraga (2022–2023), kemudian Ketua Departemen Pendidikan dan Perpustakaan (2023–2024), lalu diamanahi menjadi Presiden KKMI Libya (2024–2025), dan kini dipercaya sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) KKMI Libya.

Perjalanan ini adalah sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dari seseorang yang minim pengalaman organisasi, saya dituntut untuk belajar memimpin, mendengar berbagai aspirasi, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan yang berdampak luas. Tentu tidak mudah. Ada kalanya rasa lelah dan keinginan untuk menyerah muncul. Namun dari setiap tantangan itulah saya belajar tentang arti komitmen, tanggung jawab, serta ketulusan dalam melayani.

Libya: Negeri yang Penuh Hikmah.

Libya bukanlah negara yang sempurna. Konflik politik, kondisi ekonomi yang tidak menentu, serta infrastruktur yang terbatas kerap menjadi tantangan tersendiri dalam menjalani kehidupan di sini. Namun justru dari segala kekurangan itu, Libya menghadirkan pelajaran hidup yang luar biasa: tentang ketangguhan, kesabaran, dan penghargaan terhadap hal-hal kecil yang sering terabaikan.

Setelah beberapa tahun menetap dan belajar di Libya, saya menyadari bahwa kuliah di Libya bukan sekadar menuntut ilmu formal. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan untuk memahami nilai-nilai Islam dari akar budaya Arab, belajar bersosialisasi dengan berbagai bangsa, dan beradaptasi dengan realitas hidup yang dinamis dan penuh warna.

Keputusan untuk berangkat ke Libya pada akhir tahun 2020 kini saya anggap sebagai titik balik penting dalam hidup. Di negeri yang dulu hanya saya kenal lewat berita dan buku pelajaran, saya menemukan banyak kisah, ujian, dan pelajaran hidup yang akan terus menyertai langkah saya ke depan. Wallahu a’lam.

TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
WHATSAPP