Wow! Guru MTs Husnul Khotimah Upgrade Kompetensi, Siap Implementasikan Kurikulum Berbasis Cinta

Wow! Guru MTs Husnul Khotimah Upgrade Kompetensi, Siap Implementasikan Kurikulum Berbasis Cinta

Kuningan, 07 Juli 2026 – MTs Husnul Khotimah menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Guru MTs Husnul Khotimah pada Selasa, 07 Juli 2026, bertempat di Aula Pertemuan Gedung STIS Husnul Khotimah. Kegiatan ini mengusung tema “Sosialisasi Implementasi Deep Learning Kurikulum Berbasis Cinta MTs Husnul Khotimah Tahun Pelajaran 2026/2027.”

Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 60 orang guru MTs Husnul Khotimah sebagai bagian dari ikhtiar peningkatan mutu pembelajaran dan kesiapan guru dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna, mendalam, dan selaras dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.

Acara diawali dengan sambutan dan arahan dari Kepala Madrasah MTs Husnul Khotimah, H. Elfa Robi, Lc., M.Pd. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi dinamika pendidikan, khususnya dalam mengintegrasikan pendekatan Deep Learning dengan Kurikulum Berbasis Cinta. Guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter, adab, kepedulian, dan kecintaan santri terhadap ilmu, guru, sesama, lingkungan, serta nilai-nilai keislaman.

Pada sesi pertama, Mia Rusmia, S.Pt., M.Pd. menyampaikan materi tentang Kurikulum AQIL Pondok Pesantren Husnul Khotimah dan Penggunaan AI untuk Administrasi Pembelajaran. Materi ini memberikan penguatan kepada guru mengenai arah kurikulum AQIL yang memadukan aspek Attitude, Qur’anic, Intelligence, dan Leadership dalam proses pendidikan. Selain itu, guru juga mendapatkan wawasan praktis mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk mendukung penyusunan administrasi pembelajaran secara lebih efektif, sistematis, dan tetap sesuai dengan prinsip mutu pendidikan.

Dalam sesinya, para guru dibimbing mengenai cara memanfaatkan AI untuk menyusun perangkat pembelajaran satu tahun, mulai dari Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), hingga Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang fleksibel. Namun demikian, Ustazah Mia menekankan bahwa hasil yang dihasilkan AI tetap harus ditelaah, disunting, dan disesuaikan oleh guru sebelum digunakan dalam pembelajaran.

Tak hanya mendapatkan materi, para guru juga dibekali berbagai prompt yang siap digunakan sebagai panduan dalam menyusun administrasi pembelajaran sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien, terstruktur, dan sesuai kebutuhan kurikulum.

Puncak kegiatan diisi dengan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta yang disampaikan oleh Pengawas Madrasah Kabupaten Kuningan, Ano Sutarno, M.Pd. Dalam penyampaiannya yang komunikatif dan interaktif, beliau mengajak para guru memahami bahwa esensi pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang menyentuh hati dan kehidupan peserta didik. Menurutnya, pembelajaran mendalam (deep learning) dibangun di atas tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).

“Guru dan murid harus sama-sama sadar bahwa mereka sedang belajar. Jangan sampai fisiknya hadir, tetapi jiwanya tidak hadir. Kalau guru tidak memiliki kesadaran dalam mengajar, akan sulit menghadirkan pembelajaran yang bermakna,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang manfaatnya dapat dirasakan peserta didik dalam kehidupan nyata, bukan sekadar dipahami saat berada di ruang kelas. Sementara pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti tanpa aturan, melainkan menghadirkan suasana yang aman, nyaman, penuh semangat, dan tidak mencekam sehingga ilmu lebih mudah diterima.

Untuk mewujudkan hal tersebut, guru didorong mengembangkan pembelajaran yang melibatkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga sebagai satu kesatuan dalam membentuk karakter peserta didik.
Suasana sosialisasi pun berlangsung hidup. Sesekali Ano Sutarno mengajak para peserta bernyanyi bersama layaknya anak-anak sebagai media mengingat konsep-konsep penting. Cara penyampaian yang penuh semangat ini membuat para guru antusias mengikuti materi hingga selesai.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga memperkenalkan pola 5-5-5 sebagai ruh Kurikulum Berbasis Cinta. Lima tujuan Kurikulum Berbasis Cinta adalah membentuk insan paripurna, humanis, nasionalis, naturalis, dan penuh cinta. Tujuan tersebut diwujudkan melalui Panca Cinta, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta tanah air.

Selain itu, sekolah juga diharapkan mampu menghadirkan lima karakter lingkungan belajar, yakni aman, nyaman, ramah, menyenangkan, dan sejahtera, sehingga seluruh warga sekolah merasakan pendidikan sebagai pengalaman yang membahagiakan.

Seluruh proses pembelajaran tersebut bermuara pada terbentuknya delapan dimensi Profil Lulusan, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki jiwa kewargaan, berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, mandiri, sehat, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop MGMP yang menjadi wadah bagi para guru untuk mulai menyusun perangkat pembelajaran sesuai materi yang telah diperoleh. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh administrasi pembelajaran dapat terselesaikan sebelum kedatangan santri, sehingga para guru siap menyambut tahun ajaran baru dengan semangat baru, kompetensi yang semakin meningkat, dan komitmen menghadirkan pembelajaran yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sarat nilai cinta, kepedulian, dan kemanusiaan.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp