
PESAN BIJAK UNTUK PENDIDIK
Oleh Imam Nur Suharno
Zaman dahulu, orangtua ketika hendak menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru ngaji untuk dididik, tidak begitu saja menyerahkan anaknya. Hal ini mengingatkan akan pentingnya peran pendidik terhadap perkembangan anak. Hal ini dicontohkan oleh Utbah bin Abu Sufyan. Ia berpesan kepada pendidik anaknya sejumlah pesan bijak.
Utbah bin Abi Sufyan, “Hal pertama yang mesti engkau lakukan (sebelum mendidik anakku) adalah perbaiki dulu dirimu, karena mata mereka tertuju padamu, yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau anggap baik, dan yang buruk menurut mereka adalah apa yang engkau anggap buruk. Ceritakan pada mereka kisah orang-orang bijak. Maksimalkan usahamu untuk mendidik mereka niscaya aku tambahkan kebaikanku untukmu.”
Kisah di atas memberikan pesan berharga kepada para guru (pendidik) yang akan mendidik peserta didik agar benar-benar memiliki akhlak yang baik. Hal ini menjelaskan pengaruh seorang pendidik terhadap pendidikan peserta didik. Oleh karena itu, sebelum membentuk karakter (akhlak) peserta didik, pendidik harus memiliki karakter (akhlak) mulia terlebih dahulu.
Mengingat, pendidik memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan amalan yang akan terus mengalir pahalanya. Menurut Syekh Jamal Abdul Rahman, jika pendidik mampu mendidik peserta didik menjadi anak saleh maka hal itu masuk ke dalam ketiga kategori amal yang tidak akan putus pahalanya. Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan pendidik untuk mendidik anak didik bisa menjadi sedekah jariyah.
Ilmu yang diajarkan akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Peserta didik yang dididik menjadi anak yang saleh, akan selalu mendoakan pendidik, baik ketika pendidik masih hidup maupun sudah meninggal dunia.
Mendidik itu menyentuh hati. Dia-lah pengendali dan yang membolak balikkan hati, mudah bagi-Nya menjadikan peserta didik menjadi sukses, cerdas dan saleh. Karena itu, pendidik harus selalu dekat dengan-Nya, salah satunya melalui kekuatan doa.
Doa termasuk hal penting yang harus dipegang teguh. Melalui doa, rasa cinta dan kasih sayang kepada peserta didik akan bertambah mekar dalam hati. Oleh karena itu, hendaknya pendidik senantiasa memohon kepada-Nya agar Dia meluruskan (hati) peserta didiknya.
Pendidik sebagai orangtua bagi peserta didik. Rasulullah SAW melarang kepada orangtua (pendidik) mendoakan keburukan bagi peserta didik. Mendoakan keburukan merupakan hal berbahaya, dapat mengakibatkan kehancuran peserta didik dan masa depannya.
Guru (pendidik) sebagai arsitek peradaban, jika salah mendidik, berarti telah salah dalam membentuk peradaban. Ingat bahwa tanggung jawab guru tidak sebatas di dunia, juga di akhirat kelak. Pendidik harus selalu mendoakan untuk kebaikan peserta didik.
Semoga Allah membimbing para pendidik agar mampu mendidik peserta didik menjadi insan yang saleh dan muslih. Amin.

