
Dompet Kita, Senjata Kita: Jihad Ekonomi Muslimah
Oleh Masitoh
Jihad itu luas. Dalam peta perjuangan dunia hari ini, perempuan -khususnya Muslimah-bukan hanya pelengkap. Mereka adalah tonggak. Sejak zaman Rasulullah SAW, para muslimah sudah mengambil peran aktif dalam medan perjuangan. Ummu Umaro (Nusaibah binti Ka’ab), yang bertarung di Perang Uhud untuk melindungi Rasulullah. Rufaidah, yang mendirikan “RS lapangan” pertama di tengah perang. Asma binti Abu Bakar menjadi logistik dalam hijrah Nabi.
Perempuan tidak diam. Mereka bergerak. Mereka hadir sebagai penjaga, perawat, pengantar, bahkan pejuang. Maka tidak heran jika hari ini para muslimah kembali mengambil posisi penting dalam jihad global, terutama membela Palestina.
Jihad dengan Boikot: Warisan Rasulullah
Salah satu bentuk perlawanan muslimah hari ini adalah boikot produk yang terafiliasi dengan donatur genosida. Kita gak pegang senjata, tapi kita bisa pegang dompet dan menyaring apa yang kita beli. Ini bukan hal baru. Di zaman Rasulullah SAW, kaum muslimin juga pernah melakukan boikot ekonomi terhadap Quraisy, termasuk berhenti berdagang dengan mereka. Begitu juga sebaliknya, Quraisy pernah memboikot kaum Muslim selama tiga tahun di Syi’ib Abu Thalib. Ekonomi adalah senjata.
Nah, di masa sekarang, “terafiliasi” artinya produk atau perusahaan itu ada kaitannya dengan lembaga investasi raksasa yang masuk daftar pendonor utama penjajahan dan genosida di Palestina. Siapa saja mereka? BLACKROCK, VANGUARD, FIDELITY, JP MORGAN, GOLDMAN SACHS, dan teman-temannya (masih banyak: UBS, ING, TD Ameritrade, Barclays, Wells Fargo, dll).
Banyak perusahaan yang kita temui ternyata sahamnya dipegang oleh lembaga-lembaga ini. Itulah mengapa boikot jadi penting. Karena dengan membeli produk mereka, secara tidak langsung kita membantu aliran dana ke mesin penindas.
Bukan Sekadar Simbolik
“Alaaah, masa sih pengaruh boikot cuma dari kita?” Eits, jangan salah. Gerakan ini sudah terasa dampaknya. Data terbaru mencatat bahwa beberapa perusahaan yang masuk daftar boikot mengalami penurunan signifikan. Misalnya: Starbucks kehilangan lebih dari 11 miliar dolar nilai pasarnya dalam beberapa bulan terakhir. Unilever (pemilik banyak produk rumah tangga) juga mengalami penurunan kepercayaan dan saham yang lesu.
Pizza Hut, yang dulu berjaya di banyak negara, kini menutup banyak cabangnya. Ini bukti nyata. Gerakan ini bukan angin lalu. Jika dilakukan bersama-sama, ia jadi kekuatan global. Dan muslimah, dengan kesadaran dan kasih sayangnya, berada di garda depan.
Bukan Karena Iba, Tapi Karena Cinta
Kita gak bergerak hanya karena melihat anak-anak Gaza berdarah-darah, atau karena viralnya sebuah video pilu. Kita bergerak karena iman dan cinta kemanusiaan. Karena Al-Qur’an memerintahkan kita untuk membela yang tertindas:
“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari laki-laki, perempuan-perempuan dan anak-anak…” (QS An-Nisa [4]: 75). Palestina bukan isu Arab. Bukan isu “orang sana”. Ini isu akidah, keadilan, dan harga diri umat.
Yuk, Ganti Produk!
Mulai sekarang, yuk lebih teliti. Di rumah, banyak produk yang bisa kita ganti dengan yang lebih aman dari keterkaitan dengan para donatur penjajahan. Di antaranya: ganti produk makanan ringan, susu, atau kopi yang masih terafiliasi dengan Unilever, Nestlé, atau PepsiCo ke produk lokal dan UMKM. Ganti produk lokal seperti Mayora atau Indofood, yang diketahui memiliki keterkaitan saham dengan entitas besar seperti Vanguard atau BlackRock, dengan alternatif lokal yang lebih etis.
Muslimah bukan hanya pilar rumah, tapi juga benteng umat. Kita mungkin tidak mengangkat senjata, tapi kita bisa mengangkat suara, mengatur belanja, mendidik anak-anak, dan memperluas kesadaran. Perjuangan belum selesai. Tapi setiap langkah kecil kita, insyaAllah, punya nilai besar di sisi Allah SWT.

