
Menembus Batas Masa Depan dengan Semangat
Oleh Ali Fasah
Anak-anak pelajar adalah generasi penerus yang penuh potensi. Mereka seperti anak panah yang siap melesat menuju masa depan yang cerah. Untuk mencapai kesuksesan, mereka perlu memantaskan diri dengan meningkatkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual.
Upaya logis yang harus ditempuh dalam memantaskan diri supaya bisa menjadi pemeran utama kehidupan yang produktif, kontributif dan mempunyai daya konstruktif di tengah komunitas kehidupannya.
Tiga aspek primer yang harus ditingkatkan kemampuannya adalah aspek intelektual, aspek emosional dan aspek spritual. Ilmu pengetahuan yang diserap menjadi bagian dari dirinya akan menjadi landasan pola pikir ilmiahnya.
Logika ilmiah unsur penting sebagai instrument untuk mengukur dan menilai ketepatan, kebenaran dan keselarasan dalam membuat suatu pandangan atau keputusan atas sebuah permasalahan hidup atau impian yang akan diwujudkan.
Logika ilmiah yang teraktivasikan dalam personality seseorang bisa menjadi bagian karakternya bila selalu diasah kemampuannya. Kebiasaan berpikir ilmiah akan terus menuntun bersikap akurat, berpijak pada empiris dan analistik.
Sebagai seorang pelajar maka harus terus menguatkan aspek intelektualitas dengan memperbanyak membaca buku, dan menyerap berbagai segmen keilmuan. Aspek emosional termasuk bagian penting lainnya yang harus dikembangkan. Aspek ini mempunyai peran yang sangat signifikan dalam membackup terwujudnya keberhasilan.
Perasaan mempengaruhi pikiran, pikiran mempengaruhi tindakan, tindakan mempengaruhi kebiasaan, kebiasaan mempengaruhi karakter, dan karakter mempengaruhi hasil yang sedang diperjuangkan.
Karena itu, bentuklah diri bermental kuat, tangguh, ulet, sabar dan semangat bangkit dari kegagalan. Terus aktifkan kecerdasan emosional ke arah yang positif progresif. Tergerak karena sugesti lebih baik daripada tergerak karena terkena sanksi.
Dikisahkan, seorang guru tekun setiap pagi membawa anak didiknya Muhammad Al-Fatih kecil diajak melihat tembok benteng Konstantinopel yang kokoh setinggi 18 meter dari kejauhan. Untuk memasuki benteng tersebut amatlah susah.
Konstantinopel dikelilingi oleh benteng berlapis tiga yang membentang sepanjang kota sehingga akan sangat menyulitkan pasukan mana pun yang berniat menaklukannya. Di kanan-kiri kota tersebut diapit oleh lautan, dan pada bagian lain berdiri tegak benteng dengan tinggi 18 meter. Pada lapisan pertama ada pembatas sungai yang di dalamnya terdapat buaya-buaya ganas kelaparan. Pada lapisan kedua terdapat pasukan panah berjumlah ribuan yang siap menyerang. Dan setelah lapis kedua, ada benteng yang tingginya 18 meter.
Suatu hari, Sang guru berkata kepada Muhammad Al-Fatih, “Wahai anakku, kamu tahu apa itu? Itu tembok Konstantinopel. Tahukah engkau bagaimana janji Rasulullah? Janjinya adalah Kota Konstantinopel itu akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin. Dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan. Saya yakin kelak anak cucumu akan bisa menaklukkan Konstantinopel. Tapi saya lebih senang kalau yang menaklukan itu kamu Nak.” Muhammad Al-Fatih pun menjawab, “Iya! Saya ingin menaklukan Konstantinopel. Dan karena saya ingin menaklukannya, maka saya akan memantaskan diri.
Itulah bagian fakta sejarah fenomenal yang menginspirasi bagi generasi berikutnya, yang mengajarkan arti kesungguhan, keseriusan dan konsistensi dalam memantaskan diri untuk sebuah impian yang hendak diraihnya. Kesuksesan fenomenal itu niscaya akan terwujud jika ikhtiar kesungguhan berdiri tegak di atas landasan logika ilmiah dan logika nubuah.
#pesantrenterbaikdikuningan #berbasisdakwahdantarbiyah #pontrenhusnulkhotimah

