Isra Mi’raj: Perjalanan Suci Penuh Hikmah

Isra Mi’raj: Perjalanan Suci Penuh Hikmah

Oleh Linda Haryanti
Alumni STISHK dan Pengabdian di Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat

Peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 rajab merupakan mukjizat yang diberikan Allah SWT. kepada baginda Nabi Muhammad SAW. untuk melakukan perjalanan malam hari dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini ditegaskan dalam firman Allah SWT. dalam Surah Al-Isra ayat 1.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١
“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)

Terjadinya peristiwa Isra Mi’raj ini dilatar belakangi kondidsi dakwah Rasulullah SAW. yang mengalami berbagai rintangan dan penolakan dari kaum kafir Quraisy. Puncak ujian terberat ketika Rasulullah SAW. ditinggalkan oleh dua sosok pendukung besar dalam dakwah beliau yaitu Khadijah istri tercinta dan juga Paman beliau Abu Thalib. Sehingga tahun ini dikenal sebagai tahun kesedihan atau ‘Aamul Huzn.

Dalam upaya melanjutkan dakwah, Rasulullah SAW. pergi ke Thaif dengan harapan penduduknya mau menerima Islam. Namun yang terjadi justru penolakan, hinaan, bahkan lemparan batu sehingga beliau terluka. Dalam kondisi duka dan kelelahan itulah, Allah SWT. menghibur dan menguatkan Rasulullah SAW. melalui peristiwa Isra Mi’raj, sebagai bukti bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang tepat.

Ketika Rasulullah SAW. melakukan perjalanan ke langit menuju sidratul Muntaha beliau dipertemukan dengan para Nabi terdahulu sebagai bentuk penguatan risalah. Hingga akhirnya, pada puncak peristiwa Isra Mi’raj, Allah SWT secara langsung memerintahkan Rasulullah SAW. untuk menyampaikan kepada umatnya kewajiban melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Perintah shalat tersebut disampaikan tanpa perantara malaikat, yang menunjukkan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan mulia dalam ajaran Islam. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya, sekaligus sumber kekuatan iman dalam menghadapi ujian hidup

Dipilihnya Masjidil Aqsha sebagai tujuan Isra juga memiliki makna yang dalam dan menunjukkan kedudukan yang istimewa. Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam, tempat beribadah para nabi, serta simbol persatuan risalah tauhid. Palestina, sebagai tanah yang diberkahi, memiliki nilai spiritual yang tidak terpisahkan dari keimanan umat Islam.

Ketika Rasulullah SAW. dihadapkan langsung dengan Masjidil Aqsha, hal itu menjadi amanah sejarah dan akidah bagi umat Islam untuk senantiasa membela kehormatannya. Oleh karena itu, setiap bentuk penjajahan, perusakan, dan penistaan terhadap Masjidil Aqsha sejatinya adalah luka bagi seluruh umat Islam, bukan hanya bagi rakyat Palestina. Maka wajib bagi setiap muslim membela Palestina sebagai wujud nyata pengamalan iman.

Peringatan Isra Mi’raj merupakan momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas iman dan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Peristiwa agung ini menegaskan pentingnya memperbaiki serta menjaga shalat sebagai ibadah paling utama dalam kehidupan seorang Muslim. Selain itu, Isra Mi’raj juga menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab dan kepedulian umat Islam dalam menjaga serta membela kehormatan Masjidil Aqsha sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp