
DETIK YANG BERARTI
Oleh Husnul Khotimah
Sebuah nasihat yang sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menyampaikan kalimat yang sarat makna ‘Masa lalu adalah milik sejarah, masa depan adalah milik Allah, dan yang benar-benar menjadi milik kita adalah hari ini, bahkan detik ini’.
Nasihat tersebut bukan sekadar kalimat indah untuk dibaca dan dihafal. Ia adalah prinsip hidup yang seharusnya menuntun cara kita belajar, beribadah, dan menjalani hari-hari di dunia ini. Sering kali kita terjebak pada dua hal, penyesalan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Dalam lingkup pesantren, ada yang menyesal karena dulu kurang serius menghafal, pernah melanggar aturan, atau merasa tertinggal pelajaran. Cemas memikirkan masa depan.
Berbagai pertanyaan yang tidak tentu jawabnya menggelayut di kepala. Padahal, masa lalu sudah menjadi catatan. Ia tidak bisa diubah. Sementara, masa depan masih menjadi rahasia. Kita tidak diberi akses untuk membukanya. Yang Allah berikan kepada kita hanyalah hari ini.
Dalam ilmu psikologi modern, ada istilah mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap saat ini. Islam sejatinya telah lebih dulu mengajarkan hal tersebut. Ketika kita yang di pesantren khusyuk membaca Al-Qur’an, memperhatikan setiap huruf, menghadirkan hati dalam shalat, dan sungguh-sungguh menyimak pelajaran. Itulah praktik mindfulness dalam bingkai ibadah.
Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati.” (QS. Fushshilat: 30). Ayat ini mengajarkan dua hal sekaligus, jangan takut terhadap masa depan, dan jangan bersedih berlebihan terhadap masa lalu. Mengapa? Karena Allah bersama orang-orang yang beriman dan istikamah.
Seorang muslim yang memahami ini akan fokus memperbaiki detik yang sedang ia jalani. Ketika waktu belajar tiba, ia belajar dengan sungguh-sungguh. Ketika waktu ibadah datang, ia beribadah sepenuh hati. Ketika ada kesempatan berbuat baik, ia tidak menundanya.
Detik ini terlihat kecil. Namun detik yang digunakan untuk membaca satu ayat Al-Qur’an akan menjadi cahaya di akhirat. Detik yang dipakai untuk membantu teman akan menjadi amal jariyah dalam bentuk ukhuwah. Detik yang diisi dengan taubat menghapus dosa.
Menariknya, ketika kita memperbaiki hari ini, masa lalu perlahan menjadi baik, karena kita menebusnya dengan taubat dan amal shaleh. Masa depan pun menjadi baik, karena Allah menjanjikan balasan terbaik bagi mereka yang istikamah hari ini.
Sebagai muslim, kita sedang menanam. Hafalan yang terasa berat, bangun malam yang melawan kantuk, disiplin yang kadang melelahkan, semua itu investasi detik demi detik. Tidak ada usaha yang sia-sia di sisi Allah. Maka jangan menunda kebaikan. Jangan berkata, “Nanti.” Karena “nanti” belum tentu milik kita. Yang benar-benar ada di tangan kita hanyalah sekarang.
Mari belajar menikmati proses hari ini. Menghafal satu ayat dengan sungguh-sungguh hari ini lebih baik daripada berangan hafal satu juz tanpa usaha. Memperbaiki satu akhlak hari ini lebih baik daripada sekadar bercita menjadi ulama di masa depan.
Sejatinya, masa depan yang cerah bukan dibangun oleh mimpi besar semata, tetapi oleh detik-detik kecil yang diisi ketaatan. Jangan takut pada masa depan. Jangan tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Fokuslah pada detik ini. Isi dengan iman, ilmu, dan amal. Sebab detik inilah yang kelak akan Allah tanyakan. Dari detik inilah sejarah hidup akan ditulis.

