
Forging of Life
Oleh Adi Bintoro
Salah seorang guruku pernah menceritakan kisah dua pohon, yang kurang lebih seperti ini. Dua pohon, yang satu terlindungi di dekat tembok tinggi, yang satunya di tempat terbuka. Pohon pertama yang terlindungi tembok tidak terkena sengatan matahari panas yang panjang, tidak terkena tiupan angin kencang yang kadang disertai hujan deras. Pohon kedua karena di tempat terbuka merasakan semua kondisi, baik itu sinar matahari hangat dan panas yang sangat. Angin sepoi nyaman dan angin kencang yang meliuk-liukkan batangnya dengan kuat. Hujan gerimis dan juga hujan deras yang menghantam dari atas dan sampingnya.
Mereka berdua tumbuh. Namun guruku melihat perbedaan di antara keduanya. Batang si pohon pertama tinggi tapi kecil, akar-akarnya juga kecil, ringkih. Sedangkan si pohon kedua batangnya lebih besar dan kokoh, akar-akarnya lebih besar dan kuat menghujam. Begitulah, kata guruku memaknai kejadian ini. Mereka yang menghadapi situasi-situasi yang tidak mengenakkan dalam kehidupan, sejatinya sedang dalam penempaan. Kesalahan, kegagalan, penghinaan, penolakan, cacian, bahkan fitnah mungkin akan membuat mereka tidak lekas tinggi. Tetapi mereka yang bertahan dan terus melangkah, memperbaiki diri, belajar dari kesalahan, menarik nafas, dan berusaha tersenyum. Berdiri lagi, berjalan lagi, sungguh itu akan mengokohkan jiwanya.
Kisah para sahabat dan salaf penuh dengan gelombang. Salman berkelana jauh mencari kebenaran, Abdurrahman yang meninggalkan kekayaannya ketika hijrah. Imam Syafi’i yang memakai masa belianya menuntut ilmu, Imam Ahmad yang bekerja untuk membiayai dirinya dalam menuntut ilmu. Semua menjadikan gelombang-gelombang tersebut sebagai tempaan yang menjadikan mereka makin dekat kepada Allah Swt., makin bijak dalam kehidupan, makin bersinar di ruang sejarah peradaban.
Hari ini, jalan mimpi kita penuh dengan cerita. Cerah dan gelap, tenang dan badai, kadang sepi tanpa tepuk tangan. Sebagian teman kita dikenal karena kepandaiannya, juara lomba dan lainnya. Sedang kita unknown, tak dikenal. Tak apa, mungkin kita tak setinggi kawan kita saat ini. Namun ketika kita terus melangkah di jalan yang lurus, menuju Allah Swt. Yakinlah rintangan-rintangan itu, sepi itu adalah surat cinta dari Allah Swt., yang menempa kita, menguatkan akar-akar tekad kita, merindangkan daun-daun kebijaksanaan kita, dan menjadikan kita makin berkilau. Di sini, di ruang sejarah ini.

