100 Anggota MPS Husnul Khotimah Ikuti Latihan Dasar Kepemimpinan

100 Anggota MPS Husnul Khotimah Ikuti Latihan Dasar Kepemimpinan

KUNINGAN — Sebanyak 100 santri yang tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Santri (MPS) Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, resmi mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Agenda strategis ini dibuka langsung oleh Kepala Unit (Kanit) Pembinaan Putra, Ustadz Latipudin, S.Psi., M.Pd., bertempat di Gedung Darul Arqom pada Kamis (10/9/2026).

Kegiatan pembekalan ini dijadwalkan berlangsung intensif selama tiga hari, yakni Kamis, Sabtu, dan berakhir pada Ahad (13/9/2026). Selama pelatihan, para peserta digembleng dengan beragam materi komprehensif untuk menunjang kerja organisasi, mulai dari Seminar Kehumasan, Problem Solving, Simulasi Sidang, Sharing & Hearing, Metode Penelitian, Teamwork, Leadership, hingga Manajemen Event.

Ketua Pelaksana LDK, Muhammad Rafik Mutahar, menekankan bahwa rangkaian materi dan pelatihan ini merupakan jawaban atas tantangan krisis kepemimpinan di masa depan.

“Kegiatan ini adalah bagian dari pembekalan para calon pemimpin yang saat ini bergabung sebagai MPS,” tegas Rafik dalam laporannya. Ia juga memotivasi peserta agar tahan banting menjalani dinamika pelatihan dengan pesan, “Jalanilah prosesnya, nikmatilah hasilnya.”

Dalam arahan pembukaannya, Ustadz Latipudin menjabarkan bahwa pembentukan karakter pemimpin sejati tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus meneladani metode pembinaan (tarbiyah) Rasulullah SAW.

“Ini adalah kegiatan dasar sebelum kalian menjalankan amanah. Beliau sendiri sebelum diangkat menjadi Nabi sudah ditempa, lahir dalam keadaan yatim, menggembala kambing kemudian menjadi pedagang untuk menumbuhkan aspek kemandirian. Kalian juga dilatih kemandirian di sini. Kelak, saat kalian hadir sebagai pemimpin, kalianlah yang akan meringankan beban orang lain,” papar Ustadz Latipudin.

Lebih lanjut, ia menguraikan dua fase penting sebelum masa kenabian yang wajib direfleksikan oleh peserta LDK: fase menjadi penggembala dan fase berdagang. Menggembala kambing melatih tanggung jawab, seni menuntun, dan kesabaran.

“Kesabaran itu teruji dan terlatih karena kesabaran tidak instan. Sebelum kalian jadi orang hebat, kalian harus ditempa agar mentalnya kuat. LDK harus dijadikan momentum yang menguatkan dasar kepemimpinan,” tambahnya.

Sementara itu, pengalaman berdagang mengajarkan Rasulullah tentang keterampilan berkomunikasi dan manajemen—dua keahlian yang juga disalurkan melalui materi pelatihan kali ini. Terkait metode pelaksanaan, Ustadz Latipudin menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan murni edukatif. “LDK ini bukan ajang perpeloncoan. Semua rangkaian acara harus mengarah pada penguatan karakter positif kepemimpinan.”

Menutup arahannya, Ustadz Latipudin menyoroti pentingnya seni pendelegasian tugas dan kedisiplinan berorganisasi. Menurutnya, kepemimpinan Islam selalu berpijak pada asas ketaatan.

“Kita dilatih ketaatan: belajar bagaimana dipimpin, dan belajar bagaimana memimpin. Semua ini bertujuan untuk mengokohkan dasar-dasar kepemimpinan yang bermuara pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya.

Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )
Whatsapp